Kondisi ini diperparah oleh tidak sinkronnya data makroekonomi dan fakta lapangan. Pemerintah mengklaim inflasi terkendali, tapi harga di pasar tradisional menunjukkan sebaliknya. Upah minimum naik secara nominal, tapi tidak mampu mengejar laju kenaikan harga bahan pokok. Dalam konteks ini, angka-angka statistik hanya menjadi simbol keberhasilan semu.
Masyarakat di lapisan bawah tidak peduli pada angka defisit atau surplus. Yang mereka rasakan adalah kenyataan bahwa uang belanja semakin tak cukup, bahwa anak-anak mereka sulit mendapatkan gizi layak, bahwa akses terhadap layanan dasar kian terbatas. Ketika negara sibuk menjaga citra fiskal di mata internasional, rakyat sibuk mencari cara agar dapur tetap mengepul.
Ironi ini tak bisa dibiarkan berlarut. Keseimbangan anggaran tidak boleh dibayar dengan dapur rakyat yang kosong. Negara mesti mengedepankan pendekatan yang lebih adil dan manusiawi dalam perencanaan fiskal. Karena pada akhirnya, keberhasilan anggaran bukan terletak pada grafik yang menanjak, tapi pada perut rakyat yang kenyang.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










