NATUNAPENDIDIKANRAGAM PERBATASAN

Pesantren Nurul Jannah Rawat Budaya Melayu

×

Pesantren Nurul Jannah Rawat Budaya Melayu

Sebarkan artikel ini
Guru Seni Budaya Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna, Sumadri, S.Pd., mengajarkan seni musik Melayu Gazal "stecu-stecu" kepada santri sebagai upaya pelestarian budaya lokal.

“Pelestarian budaya Melayu Natuna terus dilakukan Pondok Pesantren Nurul Jannah melalui pembelajaran seni musik Gazal yang dipadukan dengan nilai-nilai religius bagi para santri.”

NATUNA – Guru Seni Budaya Pondok Pesantren Nurul Jannah Kabupaten Natuna, Sumadri, S.Pd., menegaskan pentingnya pelestarian budaya Melayu melalui pendidikan seni, khususnya seni musik Orkes Melayu Natuna Gazal, sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kecintaan santri terhadap budaya lokal.

Sumadri menjelaskan sebagai guru Seni Budaya, ia secara khusus mendalami dan mengajarkan budaya Melayu kepada para santri. Salah satu fokus utama pembelajaran adalah seni musik Orkes Melayu Natuna Gazal, yang merupakan warisan budaya daerah.

Sebelum mengajar di pesantren, Sumadri mengaku telah lama berkecimpung di dunia musik. Ia juga pernah belajar langsung dari Hadisun, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, yang dikenal sebagai salah satu pelaku seni dan pemimpin grup musik Natuna Gazal.

“Beliau menjadi leader dan pengarah kami, mengajarkan bagaimana tata krama dalam bermusik dan berbudaya, khususnya lagu-lagu Melayu,” ungkap Sumadri saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (29/01/2026).

Menurutnya, pengalaman panjang di dunia musik membuat ketertarikannya terhadap musik Gazal semakin kuat. Sebagai pendidik seni budaya, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan budaya lokal, terutama kepada generasi muda di lingkungan pesantren.

Sumadri menuturkan, pembelajaran dimulai dari pengenalan dasar seni musik Melayu kepada santri yang belum memahami budaya tersebut. Ia menilai masih banyak anak-anak, bahkan yang memiliki garis keturunan Melayu, belum mengenal lagu-lagu dan nilai budaya Melayu Natuna.

“Tugas saya setidaknya mengajarkan anak-anak agar mengenal budaya lokal kita, memahami apa itu budaya Melayu,” ujarnya.

Dalam proses pembelajaran, tantangan tetap ada. Menurut Sumadri, kemampuan anak dalam memahami musik berbeda-beda. Ada santri yang memiliki bakat alami sejak lahir sehingga lebih mudah dibimbing, namun ada pula yang tidak memiliki bakat bawaan sehingga membutuhkan pendampingan ekstra.

Baca Juga:  HUT ke-70, Satlantas Polres Natuna Gelar Syukuran dan Doa Bersama di Pesantren Nurul Jannah

“Kalau yang berbakat itu lebih cepat menangkap, tapi yang tidak punya bakat bawaan, kami sebagai pengajar harus bekerja lebih keras,” katanya.

Meski demikian, Sumadri menekankan bahwa seni musik di pesantren tidak semata-mata dijadikan hiburan. Musik justru diarahkan sebagai media pembelajaran dan dakwah. Lagu-lagu populer, misalnya, diolah kembali dengan lirik bernuansa religius agar memiliki nilai edukatif dan spiritual.

“Musik itu jangan dipandang hanya sebagai hiburan. Dengan musik, anak-anak bisa belajar agama juga, mengenal Nabi, silsilah Nabi, dan nilai-nilai keislaman lainnya,” jelasnya.

Latihan seni musik dan pengembangan bakat santri dilakukan secara rutin. Setiap hari Minggu, seluruh santri diwajibkan mengikuti program Talenta, yang mencakup berbagai kegiatan seperti Marawis, Hadroh, gitar, seni musik lainnya, hingga public speaking.

Sumadri menambahkan, hasil latihan Talenta yang telah dijalani selama dua semester direncanakan akan ditampilkan sebelum bulan Ramadan, sebagai bentuk apresiasi dan evaluasi atas proses pembelajaran seni di pesantren. (KP).


Laporan: Dini


 

📊 Views: 43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *