BUDAYA PERBATASANKABAR PERBATASANNATUNAPEMBANGUNAN DAERAHPENDIDIKANSUARA RAKYAT

Zurna Bongkar Tantangan Pendidikan Natuna di Usia ke-27 Tahun

×

Zurna Bongkar Tantangan Pendidikan Natuna di Usia ke-27 Tahun

Sebarkan artikel ini
Kepala SMPN 1 Bunguran Timur, Zurna, bersama wartawan koranperbatasan.com usai wawancara membahas tantangan pendidikan di Natuna menjelang HUT ke-27 Kabupaten Natuna.

“Memasuki usia ke-27 Kabupaten Natuna, dunia pendidikan di wilayah perbatasan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan ruang kebijakan sekolah dan fasilitas hingga persoalan menjaga nasionalisme generasi muda.”

NATUNA – Kepala SMPN 1 Bunguran Timur, Zurna, S.Pd., mengungkap sejumlah tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan di Kabupaten Natuna memasuki usia ke-27 tahun. Salah satunya adalah keterbatasan ruang sekolah untuk melakukan terobosan secara mandiri karena kebijakan pendidikan berada dalam koridor Dinas Pendidikan.

“Kalau dunia pendidikan kayaknya terobosan-terobosan baru belum ada sih. Nah, jadi kami kalau sekarang ini kan kadang-kadang kebijakan itu memang enggak bisa keluar dari koridor. Karena pemegang kebijakan itu memang Dinas Pendidikan gitu. Jadi kami menjalankan kebijakan Dinas Pendidikan, ya berusahalah tidak keluar dari koridor yang sudah ditentukan,” ujar Zurna kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (6/10/2026).

Menurut Zurna, sekolah harus menyesuaikan diri dengan regulasi dan perkembangan yang ada. Meski demikian, SMPN 1 Bunguran Timur tetap berupaya memberikan kontribusi dalam memajukan pendidikan dan mengembangkan potensi siswa.

“Kalau untuk kontribusi ya, kontribusi itu kalau kami dari sekolah tetap berusaha untuk memajukan pendidikan khususnya pendidikan di sekolah di SMP 1 Bunguran Timur ini. Bagaimana kami mengembangkan anak-anak kami baik di bidang akademik maupun di bidang non-akademik,” terangnya.

Tantangan Nasionalisme di Wilayah Perbatasan

Selain persoalan kebijakan pendidikan, Zurna menyoroti tantangan dalam mempertahankan rasa nasionalisme dan patriotisme siswa di wilayah perbatasan. Menurutnya, posisi Natuna yang berbatasan langsung dengan negara-negara asing membuat sekolah memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga rasa cinta tanah air generasi muda.

“Kalau untuk gerakan atau gebrakan nyatanya ya, kalau untuk anak-anak tetap, pihak sekolah itu selalu mengingatkan rasa nasionalisme, rasa patriotisme. Apalagi kita daerah perbatasan ini kan rentan, karena kita itu berbatasan langsung dengan negara-negara asing,” katanya.

Zurna menilai persoalan kesejahteraan juga menjadi salah satu tantangan. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat anak-anak muda tertarik mencari peruntungan dan mengubah nasib di luar negeri.

“Nah, jadi apalagi untuk kesejahteraan itu agak rawan. Misalnya kalau kesejahteraan di Indonesia kurang sejahtera, itu membuat mungkin anak-anak kita itu ingin berkiprah di luar negeri gitu, mencari peruntungan mungkin atau ingin mengubah nasibnya. Itu memang tantangan yang luar biasa juga untuk kami,” ungkapnya.

Ia kemudian menyinggung seorang alumni SMPN 1 Bunguran Timur yang disebutnya menjadi tentara bayaran di Rusia.

“Seperti contoh kemarin tuh yang alumni juga itu, yang Rendi itu kan sampai menjadi tentara bayaran di Rusia,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai status alumni tersebut, Zurna membenarkan bahwa yang bersangkutan merupakan alumni SMPN 1 Bunguran Timur.

“Iya, alumni di sini. Jadi memang agak miris kita ya, tapi di satu sisi kita bisa melihat juga memang menggiurkan tawaran di luar itu. Dengan konten misalnya enam bulan dengan nominal Rp600 juta, siapa yang tidak tergiur kan seperti itu,” katanya.

Menurutnya, tawaran ekonomi di luar negeri menjadi salah satu godaan yang dapat memengaruhi rasa memiliki generasi muda terhadap Indonesia.

“Jadi memang di satu sisi kita ingin anak-anak kita itu tetap cinta tanah air, tetap rasa memiliki terhadap bangsa ini tetap terpelihara. Tetapi di sisi lain itu yang membuat kita rasanya luntur rasa nasionalismenya, rasa memiliki Indonesianya itu banyak godaan. Salah satunya tadi karena memang di luar negeri itu lebih menggiurkan untuk perbaikan taraf hidup ya,” jelas Zurna.

Baca Juga:  26 Personel Polres Natuna Naik Pangkat

“Nah, itu memang bagi kami, terutama guru PKN, bagaimana tetap bisa bertahan rasa memiliki anak-anak terhadap Indonesia, terutama kita di daerah perbatasan ini yang memang berbatasan langsung dengan negara-negara asing,” sambungnya.

Infrastruktur dan Fasilitas Sekolah

Memasuki usia ke-27 Natuna, Zurna juga menyoroti pembangunan fisik dan infrastruktur. Ia melihat dalam dua tahun terakhir belum ada penambahan yang signifikan, khususnya dalam pembangunan fisik atau infrastruktur.

“Kalau kita lihat sekarang mungkin karena efisiensi anggaran itu juga ya. Kalau dua tahun terakhir ini kayaknya memang belum ada penambahan yang signifikan ya untuk pembangunan, terutama pembangunan fisik atau infrastrukturnya itu,” katanya.

Menurut Zurna, kondisi tersebut juga dirasakan sekolah dalam kebutuhan revitalisasi. “Seperti kita untuk sekolah-sekolah ini, kalau sekarang memang untuk revitalisasi sekolah itu dananya dari pusat atau dana daerah. Kalau untuk dari tingkat daerah atau kabupatennya, memang sekarang ini kayaknya bukan jalan di tempat, tapi memang enggak ada kayaknya,” ungkapnya.

Ia mengatakan, selama dua tahun terakhir belum terlihat bantuan langsung atau intervensi langsung dari tingkat kabupaten kepada sekolah.

“Kalau yang bentuknya langsung ya, kalau langsung yang paling nampak sekarang ini, kalau bantuan langsung atau intervensi langsung gitu ya, memang dua tahun terakhir belum ada nampaknya,” ujarnya.

Untuk sumber pendanaan sekolah, Zurna menyebut pihaknya mengandalkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat.

“Memang kita kalau untuk dana pun, sekolah itu satu-satunya sumber dana ya dana BOS dari pusat itu saja,” katanya.

Sekolah Berusia 69 Tahun

SMPN 1 Bunguran Timur merupakan sekolah yang telah berdiri cukup lama. Zurna menyebut usia sekolah tersebut jika dihitung sejak awal berdiri telah mencapai 69 tahun. Karena itu, ia berharap fasilitas sekolah tetap mendapat perhatian, terutama sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan.

“Harapan kami dari pihak sekolah untuk di usia Kabupaten Natuna yang ke-27, tetap kita mengharapkan yang terbaik. Kalau untuk fasilitas, kalau bisa semua sekolah terutama di sekolah kami karena sekolah ini kan sudah cukup lumayan tua umurnya, kalau dihitung dari awal berdiri sudah 69 tahun,” terangnya.

Meski memiliki keterbatasan, Zurna menegaskan pihak sekolah tetap ingin mempertahankan prestasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan Natuna.

“Walaupun seperti itu, kita tetap ingin mempertahankan prestasi kita, tetap ingin berkontribusi terbaik untuk pendidikan di Natuna. Jadi kita ingin fasilitas yang ada itu tetap mendapat perhatian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keterbatasan penggunaan dana BOS membuat sekolah tidak dapat mengandalkannya untuk perbaikan yang bersifat berat.

“Kita kan kalau mengharapkan dari dana BOS saja untuk pemeliharaan hanya boleh menggunakan maksimal 20 persen. Jadi kalau misalnya untuk perbaikan yang sifatnya rehab berat, itu kan memang sekolah tidak bisa, karena di aturan penggunaan dana sekolah hanya bisa pemeliharaan atau rehab ringan,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap data sarana dan prasarana yang diinput sekolah melalui Dapodik dapat menjadi perhatian Dinas Pendidikan.

“Jadi harapan kita memang ketika kita mengisi data mengenai sarana prasarana kita di Dapodik, tetap menjadi perhatian. Mana sarana kita yang rusak berat, mohon diperhatikan. Pihak sekolah berusaha mengisi data itu se-real mungkin agar bisa menjadi data bagi Dinas Pendidikan dan menjadikan data kita yang rusak berat itu perhatian khusus,” tegasnya.

Baca Juga:  Kadishub Natuna Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah

Selain fasilitas, Zurna juga berharap peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sekolah mendapat perhatian melalui pelatihan bagi guru.

“Kemudian untuk sumber daya manusia juga demikian. Harapan kita memang ada pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan untuk merangkul guru-guru kita dalam menambah wawasan dan kompetensi mereka,” tambahnya.

Budaya Melayu Tetap Dijaga

Di tengah berbagai keterbatasan, SMPN 1 Bunguran Timur tetap menjalankan kegiatan untuk melestarikan budaya Melayu Natuna.

Zurna mengatakan, kegiatan ekstrakurikuler seni menjadi salah satu cara sekolah memperkenalkan budaya daerah kepada siswa, terutama melalui tari-tarian Melayu seperti Zapin.

“Ya, kalau untuk pelestarian kebudayaan daerah ya, kita tetap ada kegiatan ekstrakurikuler. Untuk kegiatan seninya memang kita lebih fokusnya itu ke tari-tari Melayu. Jadi salah satu cara kami untuk melestarikan budaya daerah, terutama untuk tari-tari Melayu seperti Zapin, itu cara betul-betul nyata yang bisa kita gunakan untuk melestarikan budaya daerah itu,” jelasnya.

Dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Natuna, SMPN 1 Bunguran Timur juga berpartisipasi dalam Karnaval Budaya yang diselenggarakan Dinas Pendidikan melalui bidang kebudayaan.

Zurna mengatakan, sekolah tengah mempersiapkan diri untuk mempertahankan prestasi yang diraih pada tahun sebelumnya.

“Kalau untuk merayakan HUT Natuna kami tidak membuat kegiatan. Hanya saja kami ikut berpartisipasi dalam kegiatan Karnaval Budaya yang diselenggarakan Dinas Pendidikan melalui bidang kebudayaannya. Ini kami sekarang dalam persiapan untuk mengikuti kegiatan Karnaval Budaya itu,” ujarnya.

“Karena memang tahun kemarin itu kan kita juara 1, SMP 1 dengan hadiah 10 juta tahun kemarin. Jadi memang untuk sekarang ini kami dalam posisi mempertahankan,” lanjutnya.

Harapan Zurna untuk Natuna

Menutup keterangannya, Zurna menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-27 kepada Kabupaten Natuna. Ia berharap Natuna terus berkembang dan mampu bersaing dengan daerah lainnya.

“Kepada Natuna, tetap kita mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-27. Semoga bisa berkembang dan berkiprah untuk menjadi salah satu daerah yang berkembang dengan baik,” ucapnya.

Ia juga berharap siapa pun pemimpin Natuna dapat menjalankan amanah, mendengarkan aspirasi masyarakat, serta merealisasikan janji politik.

“Siapapun pemimpinnya, harapan kita bisa betul-betul menjadi pemimpin yang amanah, yang betul-betul mendengarkan suara hati masyarakatnya, yang betul-betul bisa menjalankan apa keinginan atau aspirasi dari masyarakatnya,” katanya.

Zurna kemudian membandingkan perkembangan Natuna dengan Kabupaten Kepulauan Anambas yang merupakan daerah pemekaran dari Natuna.

“Inginlah daerah kita itu menjadi daerah yang terbaik, bisa bersaing dengan daerah-daerah lain. Jangan sampai kita Kabupaten Natuna dikalahkan oleh adik kabupatennya, Anambas. Perbandingannya kan selalu seperti itu. Kita lebih tua, harapan kita ya lebih hebat,” ungkapnya.

“Ibarat kakak dan adik, kan melihat kakak. Jangan pula adik lebih melesat perkembangannya sementara kita jalan di tempat,” sambung Zurna.

Ia kembali menegaskan harapannya agar pemimpin Natuna menjalankan amanah dan merealisasikan janji politik kepada masyarakat.

“Jadi harapan kita seperti itu. Siapapun pemimpinnya, tetap berusahalah amanah menjalankan kepercayaan yang diberikan, kemudian realisasikan apa janji politik. Nah, itu saja,” pungkasnya.


Laporan: Dini


📊 Views: 99

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *