STRATIFIKASI atau stratifikasi sosial menurut Cooper adalah model hierarkis berdasarkan hak-hak yang berbeda, sesuai dengan status sosial yang mereka pegang. Istilah strata berasal dari bahasa latin “stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak), yang berarti stratifikasi. Dalam konteks sosiologi, stratifikasi sosial dapat didefinisikan sebagai pembagian bertahap dari suatu populasi atau masyarakat ke dalam kelas-kelas.
Stratifikasi sosial dan agama memiliki hubungan yang erat di mana setiap perubahan yang terjadi akibat modernisasi stratifikasi dalam agama semakin tampak memanas di seluruh agama yang ada di dunia ini. Agama yang dulunya sebagai tempat ibadah kini sudah menjadi salah satu tempat contoh terjadi nya stratifikasi sosial di permainan kaum elit bersama perjuangan kelas yang di lakukan oleh kaum poletar.
Sebagai contoh stratifikasi sosial dapat di lihat Pada lingkungan gereja yang akhirnya, tampaknya tidak ada perbedaan antara orang-orang gereja yang berkonflik dan orang-orang dunia yang berkonflik. Bahkan, terkadang konflik umat gereja lebih serius daripada konflik umat dunia. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan rasul Paulus kepada jemaat Galatia, dalam Galatia 5:15, “Jikalau kamu saling menggigit dan menelan, berhati-hatilah, jangan sampai kamu menyakiti satu sama lain.”
KONFLIK DALAM PEMILIHAN PENGURUS GEREJA
Salah satu sumber perpecahan yang dapat menggerogoti keutuhan gereja adalah ketika anggota jemaat baru dipilih atau diangkat. Hal ini terjadi baik dalam pemilihan jemaat gereja maupun dalam kepemimpinan organisasi gereja dalam pengelolaan organisasi. Setiap organisasi, baik itu perusahaan, instansi pemerintah, jenis organisasi lain, atau bahkan gereja, terus berkembang menjadi lebih baik. Dalam hal ini biasanya ditandai dengan peralihan jabatan atau jabatan tertentu dalam organisasi.
Walaupun ini merupakan proses yang wajar, tidak dapat disangkal bahwa konflik antar individu bahkan kelompok sering terjadi antara mereka yang dipindahkan atau dipromosikan. Termasuk pemindahan gembala gereja. Perselisihan tersebut muncul karena aktor yang menjabat sebagai pengurus gereja sebelum menerima pengurus gereja tidak dipilih kembali untuk menjabat pada periode berikut seperti ada nya konflik di dalam umat gereja akibat dari pemilihan eorang aktor yang akan menjabat lebih di pilih karena kekayan bukan karena royalitas nya dalam melayani gereja sehingga sebagian umat gereja membantah dan terjadi lah perpecahan.
Di sisi lain Pertikaian yang terjadi dikarenakan beberapa anggota jemaat yang sebelumnya menjabat dalam kepengurusan gereja, tidak terpilih lagi untuk menjabat pada periode berikutnya. Karena tidak memiliki rasa kebesaran hati dan menyadari bahwa ini adalah panggilan pekerjaan TUHAN yang sukarela, akhirnya banyak dari mereka yang tidak terpilih kembali menjadi kecewa dan membawa kepada masalah yang lebih luas.
Hal yang lainnya adalah, beberapa anggota Gereja yang memolitisasi proses pemilihan kepengurusan jemaat, tentunya menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dangan peraturan jemaat atau atau tidak sesuai dengan Firman TUHAN. Hal-hal ini membawa kepada konflik yang meluas di dalam jemaat. Tidak sedikit yang keluar dari gereja, atau membuat gereja tandingan.
PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA YESUS KRISTUS MENJADI PENDAMAI BAGI BANYAK ORANG.
2 Korintus 5:14-16 Karena kasih Kristus menguasai kita, karena kita telah mengerti bahwa jika satu mati untuk semua, mereka semua mati. Kristus mati untuk semua, sehingga mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan bangkit untuk mereka. Itu sebabnya kami tidak lagi menilai seseorang berdasarkan standar mereka. Jika kita pernah menilai Kristus dengan standar manusia, kita tidak lagi menghakimi Dia seperti itu. Yesus mati untuk semua orang.
Kata “setiap orang” mengacu pada siapa saja di dunia ini, termasuk pihak-pihak yang berkonflik. 12 Kematian Yesus membuat setiap orang tidak hidup untuk dirinya sendiri, tidak memikirkan agenda, keinginan, motif, atau apa pun untuk dirinya sendiri. Tetapi setiap orang berkewajiban untuk hidup bagi Dia (Yesus) yang telah mati untuk mereka. Tidak peduli apa yang semua orang rencanakan, lakukan harus untuk Yesus. Mengapa? karena kematian Yesus di kayu salib telah menyelamatkan semua orang. (***).
DATA DIRI PENULIS
- NAMA : BONITA SILALAHI
- NIM : 190569201031
- JURUSAN : SOSIOLOGI
- UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI TANJUNG PINANG










