EKONOMI PERBATASANKEUANGANNATUNASUARA RAKYATUMKM PERBATASAN

Cen Sui Lan dan Potret Ekonomi UMKM Natuna Antara Komitmen Realitas Usaha Kecil

×

Cen Sui Lan dan Potret Ekonomi UMKM Natuna Antara Komitmen Realitas Usaha Kecil

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pelaku UMKM Natuna seperti pedagang kelapa, peternak ayam, pengolah ikan asap, dan pengusaha kerupuk dengan latar potret Bupati Cen Sui Lan serta simbol pertumbuhan ekonomi daerah.

“Di berbagai sudut Kota Ranai, aktivitas usaha kecil masih berjalan seperti biasa. Pedagang membuka kios sejak pagi, pembeli datang silih berganti, sementara sebagian pelaku usaha menunggu pelanggan di depan lapak mereka. Namun di balik aktivitas tersebut, sejumlah pelaku usaha kecil di Natuna mulai merasakan bahwa kondisi ekonomi masyarakat belakangan tidak lagi sekuat beberapa tahun sebelumnya.”

Bupati Natuna Cen Sui Lan sebelumnya menyampaikan bahwa perekonomian Natuna pada tahun 2025 menunjukkan dinamika yang cukup signifikan dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 10,49 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) apabila sektor minyak dan gas (migas) dimasukkan dalam perhitungan.

NATUNA – Angka tersebut menggambarkan pertumbuhan ekonomi daerah secara makro yang cukup tinggi.

Namun di tingkat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sebagian masyarakat mengaku kondisi ekonomi yang mereka rasakan tidak sepenuhnya sejalan dengan angka pertumbuhan tersebut.

Berbagai cerita dari pelaku usaha kecil di Natuna menunjukkan bahwa aktivitas usaha mereka masih menghadapi sejumlah tantangan.

Pak Saki, seorang pedagang kelapa di Ranai, telah menjalankan usahanya selama sekitar enam tahun. Ia mengatakan usaha tersebut menjadi pekerjaan yang ia tekuni setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Ini saja yang saya tekuni setiap hari, jual kelapa. Bukan hanya saat bulan puasa saja, hari biasa juga tetap jualan ini,” ujarnya.

Menurutnya, penghasilan dari usaha tersebut sebagian besar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta memutar kembali modal usaha.

Cerita serupa datang dari Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut. Siti Ngaisah, pelaku usaha ternak ayam kampung, berusaha mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar rumahnya.

Ia membangun kandang ayam dari bahan bekas seperti seng, bambu, dan kayu. Meski usaha tersebut terus berjalan, ia mengaku masih menghadapi keterbatasan modal usaha.

Baca Juga:  Hari Ini Mahasiswa STAI Natuna Akan Galang Dana Untuk Tiga Warga

“Kalau ada modal, saya ingin beli alat penetas telur dan menambah bibit ayam supaya usaha ini bisa berkembang,” katanya.

Di sektor pengolahan hasil laut, Wasli, pelaku usaha ikan asap di Natuna, juga menghadapi tantangan dalam memperluas pemasaran produk.

Menurutnya, permintaan dari luar daerah sebenarnya cukup banyak, namun tingginya biaya pengiriman menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha.

“Kalau kirim ke Medan saja, biaya kirim bisa sampai Rp100 ribu per kilogram. Lebih mahal ongkos kirim daripada harga ikannya,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, sebagian pelaku usaha ikan asap di Natuna saat ini lebih memilih fokus pada pasar lokal.

Di sektor industri olahan hasil laut lainnya, Bujang Taridi, pelaku usaha kerupuk atom di Natuna, juga menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya. Ia telah menekuni usaha tersebut selama belasan tahun dan kini menjalankan produksinya di Sentra Kerupuk Atom Natuna.

Menurutnya, permintaan terhadap produk cukup baik, namun keterbatasan modal sering menjadi kendala dalam menyiapkan bahan baku.

“Saya sangat membutuhkan modal untuk menampung bahan baku seperti ikan dan tepung. Kadang ada pesanan, tapi bahan bakunya tidak tersedia,” ujarnya.

Selain itu, tingginya biaya distribusi juga menjadi hambatan dalam memperluas pemasaran ke luar daerah.

“Saya berharap ada kemudahan distribusi supaya produk Natuna bisa lebih mudah dipasarkan ke luar daerah,” katanya.

Di sektor perdagangan, pemilik Toko Angkasatex di Ranai, Efendi, juga mengaku aktivitas penjualan pada Ramadan tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau untuk Ramadan sekarang ini jauh menurun dari Ramadan sebelumnya. Mungkin pendapatan warga juga menurun, jadi berpengaruh ke usaha kami,” katanya.

Sementara itu, Dewi Aminah, pemilik Lakimuan Store di Ranai, menyebut kendala distribusi barang dari luar daerah sering mempengaruhi perputaran modal usaha.

Baca Juga:  Kisah CV Natuna Tiga Bersaudara Bertahan dari Warnet Menjadi Pusat Layanan Akademik

Menurutnya, barang yang dipesan dari Jakarta terkadang membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai di Natuna.

“Kadang barang dari Jakarta bisa sampai hampir sebulan. Modal jadi tidak bisa berputar cepat,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah telah menjalankan sejumlah program untuk mendukung pelaku UMKM.

Melalui kerja sama dengan Bank Riau Kepri Syariah, pemerintah menyediakan program pembiayaan usaha mikro dengan plafon hingga Rp20 juta per nasabah, di mana margin pembiayaan disubsidi oleh pemerintah daerah.

Selain itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Natuna juga menjalankan berbagai program pembinaan seperti pelatihan usaha, fasilitasi sertifikasi halal, hingga pengembangan sentra industri kecil.

Namun Kepala Disperindagkopum Natuna Marwan Sjah Putra mengakui bahwa anggaran pembinaan UMKM yang tersedia saat ini masih terbatas dibandingkan jumlah pelaku usaha mikro di Natuna yang mencapai lebih dari 7.000 unit usaha.

Dengan kondisi tersebut, efektivitas program pembinaan UMKM masih sangat bergantung pada ketersediaan anggaran serta prioritas kebijakan pembangunan daerah.

Sebelumnya, Bupati Natuna Cen Sui Lan juga menegaskan komitmennya untuk menghidupkan sektor UMKM sebagai salah satu strategi memperkuat ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.

Dengan jumlah pelaku usaha kecil yang mencapai ribuan unit usaha, sektor UMKM tetap menjadi salah satu penopang utama perputaran ekonomi masyarakat di Natuna.

Di balik angka pertumbuhan ekonomi daerah yang terlihat tinggi, berbagai cerita dari pelaku usaha kecil tersebut menjadi gambaran bahwa dinamika ekonomi di tingkat masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan. (KP).


Laporan: Red


 

📊 Views: 27

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *