“Berawal dari warung internet (warnet) pada 2012, CV Natuna Tiga Bersaudara di Kabupaten Natuna berhasil bertransformasi menjadi pusat layanan alat tulis kantor (ATK), fotokopi, percetakan, dan administrasi akademik yang tetap bertahan di tengah perubahan teknologi dan kondisi ekonomi.”
Kasir CV Natuna Tiga Bersaudara, Sabri, menceritakan perjalanan usahanya yang bermula sebagai warung internet (warnet) pada 2012 hingga berkembang menjadi salah satu pusat layanan alat tulis kantor (ATK), fotokopi, percetakan, dan administrasi akademik yang dikenal luas masyarakat Natuna. Perubahan tersebut dilakukan setelah perkembangan teknologi membuat bisnis warnet semakin ditinggalkan masyarakat.
NATUNA – Pada awal berdirinya, usaha yang kini dikenal sebagai CV Natuna Tiga Bersaudara merupakan warnet yang cukup ramai dikunjungi masyarakat, terutama kalangan remaja untuk bermain gim daring dan mengakses media sosial seperti Facebook.
Namun, seiring semakin meratanya penggunaan telepon pintar (HP) dan membaiknya jaringan internet, jumlah pengunjung warnet terus menurun hingga akhirnya usaha tersebut dialihkan menjadi toko ATK dan pusat layanan administrasi.
“Semenjak jaringan sudah mulai bagus dan orang-orang beralih ke HP, warnet pun sepi pengunjung. Dari sana, pelan-pelan saya membuka usaha ini sampai sekarang,” ujar Sabri kepada koranperbatasan.com, Sabtu (4/7/2026).
Kini, CV Natuna Tiga Bersaudara menyediakan berbagai layanan, mulai dari penjualan alat tulis kantor (ATK), fotokopi, pencetakan dokumen, penjilidan, hingga jasa pengetikan.
Untuk layanan fotokopi, pelanggan dikenakan tarif Rp500 per lembar, pencetakan dokumen Rp1.000 per lembar, penjilidan Rp5.000 per buku, sedangkan jasa pengetikan dikenakan biaya Rp5.000 per lembar yang sudah termasuk biaya cetak.
Pelanggan yang datang pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, hingga pegawai instansi pemerintah maupun swasta.
Menurut Sabri, tantangan terbesar menjalankan usaha di daerah bukan berasal dari persaingan, melainkan kondisi ekonomi masyarakat yang sangat memengaruhi daya beli pelanggan.
Ia mengungkapkan, kebijakan efisiensi anggaran di sejumlah instansi turut berdampak terhadap omzet usahanya.
“Contohnya, sebelum ada pemangkasan anggaran, orang atau instansi biasanya belanja sampai Rp500 ribu. Sekarang paling sekitar Rp200 ribu,” jelasnya.
Selain itu, Sabri juga harus menyesuaikan diri dengan sistem pembayaran secara tempo yang masih diterapkan oleh sebagian pelanggan dari kalangan perkantoran. Pembayaran baru dilakukan setelah anggaran atau pencairan dana tersedia.
Meski demikian, ia mengaku kondisi usahanya hingga saat ini masih relatif stabil.
“Kalau saya pribadi menyikapinya biasa saja. Dibilang maju pesat tidak juga, dibilang terpuruk juga tidak. Alhamdulillah masih stabil,” katanya.
Selain melayani kebutuhan percetakan, CV Natuna Tiga Bersaudara juga menyediakan layanan pendampingan administrasi akademik bagi mahasiswa, seperti pengetikan, penyusunan format proposal penelitian, penyuntingan dokumen akademik, hingga pendampingan penyusunan naskah tugas akhir berdasarkan data dan bahan penelitian yang disediakan oleh mahasiswa.
Sabri menjelaskan biaya layanan tersebut disesuaikan dengan tingkat kesulitan pekerjaan dan kebutuhan pelanggan.
“Kalau paket lengkap sekitar Rp5,5 juta karena sudah termasuk print dan revisi. Kalau paket pendampingan sebagian sekitar Rp3 juta tanpa print, hanya pengerjaan dan revisi,” terangnya.
Ia menegaskan seluruh penyusunan dokumen dilakukan berdasarkan data penelitian yang diberikan mahasiswa, seperti hasil wawancara, rekaman, maupun data lapangan yang telah dikumpulkan oleh pemilik penelitian.
Untuk membantu pelanggan, toko tersebut juga menyediakan layanan pengecekan tingkat kemiripan dokumen menggunakan perangkat lunak Turnitin. Namun, Sabri menegaskan bahwa hasil pengecekan resmi tetap mengacu pada kebijakan masing-masing perguruan tinggi.
Meski kini bernama resmi CV Natuna Tiga Bersaudara, masyarakat Natuna masih lebih mengenalnya sebagai Warnet Bang Sabri. Sebutan tersebut tetap melekat karena sejarah panjang usaha yang pernah menjadi salah satu warnet paling dikenal di daerah itu.
Menatap masa depan, Sabri berharap kondisi ekonomi masyarakat terus membaik agar daya beli meningkat dan berdampak positif terhadap perkembangan usaha kecil di Natuna.
“Harapan saya sederhana, semoga ekonomi masyarakat terus berkembang. Kalau ekonomi bagus, daya beli meningkat dan usaha seperti kami tentu ikut merasakan manfaatnya,” tutupnya.
Laporan: Dini










