EKONOMI PERBATASANKEUANGANNATUNAUMKM PERBATASAN

Warmindo Kekinian Gandung Wibawanto Hadirkan Konsep Praktis di Ranai Natuna

×

Warmindo Kekinian Gandung Wibawanto Hadirkan Konsep Praktis di Ranai Natuna

Sebarkan artikel ini
Lapak Warmindo milik Gandung Wibawanto di Kota Ranai, Kabupaten Natuna. Mengusung konsep fresh to order, usaha kuliner ini menyajikan berbagai varian mi instan dalam kemasan praktis dengan harga terjangkau, sekaligus menjadi inovasi usaha yang terinspirasi dari tren kuliner di media sosial TikTok.

“Berawal dari inspirasi yang ditemukan melalui media sosial TikTok, seorang pemuda di Ranai menghadirkan usaha Warmindo dengan konsep praktis yang mengutamakan efisiensi bahan baku, harga terjangkau, dan minim risiko kerugian di tengah melemahnya daya beli masyarakat.”

Pemilik Warmindo di Ranai, Gandung Wibawanto, menghadirkan konsep usaha kuliner berbasis mi instan kekinian yang berbeda dari warung makan pada umumnya. Dengan sistem penyajian berdasarkan pesanan (fresh to order), seluruh makanan baru dibuat setelah dipesan pelanggan sehingga mampu menekan potensi kerugian akibat bahan baku yang tidak terjual.

NATUNA – Usaha yang baru berjalan sekitar tiga bulan itu lahir dari pengalaman sekaligus pengamatan Gandung terhadap tren kuliner yang berkembang di media sosial, khususnya TikTok. Menurutnya, konsep tersebut sangat cocok diterapkan di Kabupaten Natuna karena sederhana, membutuhkan modal yang lebih efisien, serta mampu mengurangi risiko bahan makanan terbuang.

“Awalnya saya terinspirasi setelah melihat berbagai konten di TikTok. Saya pikir konsep seperti ini cocok diterapkan di Ranai. Di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit, kalau membuka usaha dengan bahan baku yang mudah basi tentu risikonya besar. Kalau tidak habis terjual, usaha bisa cepat terpuruk,” ujar Gandung kepada koranperbatasan.com, saat ditemui di lapaknya, Sabtu (4/7/2026).

Berbeda dengan usaha kuliner konvensional, Warmindo miliknya hanya memasak mi instan ketika pelanggan telah melakukan pemesanan. Sistem tersebut dinilai lebih efektif menjaga kualitas makanan sekaligus meminimalkan kerugian operasional.

Selain itu, seluruh menu disajikan menggunakan mangkuk kertas (paper cup) sehingga praktis dibawa bepergian maupun dinikmati langsung di lokasi.

“Kalau pelanggan baru pesan, baru kami buat. Jadi kerugian bisa ditekan. Beda kalau jual gorengan atau makanan matang, kalau tidak habis hari itu ya terbuang,” jelasnya.

Baca Juga:  Nelayan Hilang di Natuna, Pencarian Hari Keempat Terus Digencarkan

Warmindo tersebut menyediakan berbagai pilihan mi instan dengan harga yang terjangkau. Satu porsi mi instan tanpa telur dijual Rp10.000, sedangkan yang menggunakan telur dibanderol Rp15.000. Selain menu utama, tersedia pula minuman sederhana seperti kopi untuk menemani pelanggan bersantai.

Selama tiga bulan beroperasi, usaha tersebut mulai dikenal masyarakat Ranai. Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Menurut Gandung, dua varian rasa yang paling banyak diminati pelanggan adalah Mi Instan Rasa Aceh dan Mi Instan Rasa Rendang.

“Yang paling laris itu rasa Aceh sama Rendang. Pembelinya semua kalangan, mulai anak-anak sampai orang dewasa. Tapi memang paling banyak anak muda dan perempuan,” katanya.

Meski mulai mendapat sambutan positif, Gandung mengaku belum menetapkan target omzet bulanan. Saat ini ia lebih fokus memperkenalkan konsep usahanya sekaligus membangun pelanggan tetap.

Di sisi lain, ia mengakui kondisi ekonomi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha mikro di Natuna. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dinilai berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

“Kalau ekonomi sekarang menurut saya parah sekali. Istilahnya bukan lagi naik harga, tapi sudah pindah harga. Hampir semua barang naik cukup tinggi. Dampaknya tentu terasa bagi kami para pedagang karena pembeli jadi berkurang,” ungkapnya.

Meski demikian, Gandung tetap optimistis usahanya dapat berkembang. Ia berharap kondisi ekonomi masyarakat segera membaik sehingga aktivitas usaha kecil kembali bergairah.

“Harapan saya semoga usaha ini terus berjalan lancar. Kalau ekonomi masyarakat membaik, daya beli juga meningkat dan usaha kami tentu ikut berkembang. Kami akan tetap berusaha memberikan harga yang terjangkau agar masyarakat tetap bisa menikmati makanan dengan nyaman,” pungkasnya.

Baca Juga:  Kue Semprong Mak Su Sedanau Pertahankan Cita Rasa Tradisional Sejak 1988

Laporan: Dini


📊 Views: 72

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *