BUDAYA PERBATASANEKONOMI PERBATASANKEUANGANUMKM PERBATASAN

Kue Semprong Mak Su Sedanau Pertahankan Cita Rasa Tradisional Sejak 1988

×

Kue Semprong Mak Su Sedanau Pertahankan Cita Rasa Tradisional Sejak 1988

Sebarkan artikel ini
Caption: Maksu As, pemilik usaha Kue Semprong Mak Su Sedanau, saat ditemui di Kota Ranai, Kabupaten Natuna. Sejak merintis usahanya pada 1988, ia tetap mempertahankan proses pembuatan kue semprong secara tradisional menggunakan panggangan kompor untuk menjaga cita rasa autentik yang telah menjadi favorit masyarakat hingga kini.

“Di tengah berkembangnya teknologi produksi makanan, Kue Semprong Mak Su Sedanau tetap mempertahankan proses pemanggangan tradisional sejak 1988 sehingga cita rasa autentiknya terus diminati masyarakat Natuna hingga kini.”

Pemilik Kue Semprong Mak Su Sedanau, Maksu As, terus mempertahankan usaha kue semprong dan kue semprit yang telah dirintis sejak 1988. Berbekal resep turun-temurun dan proses pemanggangan menggunakan kompor tradisional, produk kuliner khas tersebut tetap menjadi pilihan masyarakat Natuna, terutama saat Ramadan dan Hari Raya.

NATUNA – Maksu As mengatakan usaha yang dirintisnya hampir empat dekade lalu berawal dari keinginan membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.

“Sejak tahun 1988 saya membuat kue semprong dan kue semprit. Dulu tujuannya untuk membantu ekonomi keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Alhamdulillah sekarang semuanya sudah selesai kuliah,” ujar Maksu As kepada koranperbatasan.com, Senin (7/7/2026).

Meski banyak produsen mulai menggunakan cetakan listrik, Maksu As memilih tetap mempertahankan proses pemanggangan menggunakan kompor karena dinilai menghasilkan cita rasa yang lebih gurih, renyah, dan aroma yang lebih khas.

“Sekarang banyak yang pakai cetakan listrik atau setrum, tetapi menurut saya rasanya berbeda. Kami tetap menggunakan panggangan kompor karena hasilnya lebih enak,” katanya.

Kue semprong produksi Maksu As dijual dengan harga Rp100 ribu per kilogram untuk varian original. Sementara varian wijen dipasarkan mulai Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Menariknya, pelanggan yang membeli langsung ke rumahnya sering kali memperoleh isi lebih dari satu kilogram.

“Kalau ada yang beli langsung ke rumah, saya biasanya tidak pernah pas satu kilogram. Kadang saya lebihkan sedikit sampai sekitar 1,1 kilogram,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski tidak memiliki toko khusus, produk Kue Semprong Mak Su Sedanau telah dipasarkan ke sejumlah toko di Ranai, seperti Toko King, Devon, dan Kaisar.

Baca Juga:  Cen Sui Lan, Kelebihan Bayar ASN Natuna Rp51,97 Juta 

Untuk penjualan eceran, kue dikemas dalam cup mika yang disegel rapat agar tetap renyah dan dijual seharga Rp25 ribu per kemasan.

Menurut Maksu As, permintaan tertinggi selalu terjadi menjelang Ramadan dan Idulfitri. Pada musim tersebut, pesanan berasal dari masyarakat umum hingga sejumlah instansi pemerintah.

“Kalau bulan puasa pesanan memang paling banyak. Omzetnya bisa mencapai sekitar Rp10 juta,” ungkapnya.

Ia menambahkan, produknya juga telah memiliki sertifikat kesehatan yang diurus sejak beberapa tahun lalu di Batam sebagai bentuk komitmen menjaga kualitas dan keamanan pangan.

Memasuki usia senja, Maksu As mengaku mulai mengurangi aktivitas produksi atas permintaan anak-anaknya agar lebih banyak beristirahat. Namun demikian, ia masih menerima pesanan, terutama melalui sistem pemesanan daring.

“Sekarang anak-anak sudah menyuruh saya istirahat. Jadi saya buat kalau sedang ada pesanan saja. Kalau ada yang pesan minimal dua kilogram secara online, tetap saya kerjakan,” tuturnya.

Meski produksi tidak lagi sebanyak dahulu, Maksu As berharap Kue Semprong Mak Su Sedanau tetap dikenal sebagai salah satu kuliner khas Natuna yang mampu mempertahankan cita rasa tradisional di tengah perkembangan zaman.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 91

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *