“Toko Felix di Kota Ranai, Kabupaten Natuna, tetap menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan alat bangunan dan suku cadang mesin pompong. Usaha yang telah berdiri sekitar 15 tahun ini terus melayani kebutuhan sektor konstruksi hingga para nelayan di tengah kondisi ekonomi yang masih lesu.”
NATUNA — Pemilik Toko Felix, Mery Siswanti, mengatakan usaha yang dirintis bersama suaminya telah berjalan sekitar 15 tahun. Toko yang menggunakan nama anaknya sebagai identitas usaha tersebut didirikan untuk menangkap peluang bisnis sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap perlengkapan bangunan dan alat teknik.
“Toko Felix ini sudah berdiri sekitar 15 tahun. Saya asli orang sini. Awalnya hanya mencoba membuka usaha sendiri. Nama toko ini kami ambil dari nama anak saya, yaitu Felix,” ujar Mery Siswanti kepada koranperbatasan.com, Jumat (10/7/2026).
Berlokasi di Kota Ranai, Toko Felix menyediakan berbagai perlengkapan bangunan dengan harga yang kompetitif. Selain itu, toko tersebut juga menjadi salah satu tempat yang banyak didatangi nelayan untuk mencari perlengkapan pendukung mesin kapal kayu atau pompong.
Menurut Mery, Toko Felix tidak menjual mesin secara utuh, melainkan menyediakan berbagai komponen pendukung, seperti baut, alat teknik, dan perlengkapan mesin lainnya.
“Nelayan sering datang mencari alat untuk mesin pompong. Kami tidak menjual mesinnya, tetapi alat-alat pendukungnya, seperti baut dan perlengkapan mesin lainnya,” jelasnya.
Ia mengatakan harga barang di tokonya disesuaikan dengan harga pasar agar tetap dapat dijangkau masyarakat.
“Harga di sini standar, sama seperti toko-toko lain. Selisih Rp500 saja biasanya sudah dicari dan dibandingkan pelanggan. Karena itu kami berusaha menjaga harga tetap terjangkau,” katanya.
Meski tetap berupaya mempertahankan pelayanan, Mery mengakui kondisi usaha dalam dua hingga tiga tahun terakhir mengalami penurunan akibat lesunya aktivitas ekonomi di daerah.
Menurutnya, omzet penjualan harian saat ini tidak lagi menentu. Bahkan, untuk mencapai omzet Rp1 juta per hari menjadi tantangan tersendiri.
“Sekarang memang sepi. Omzet tidak menentu. Sudah sekitar dua sampai tiga tahun kondisinya seperti ini. Untuk mengejar omzet Rp1 juta dalam sehari saja susah sekali,” ungkapnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Mery tetap optimistis kondisi ekonomi akan kembali membaik sehingga aktivitas perdagangan di Natuna kembali bergairah.
“Harapan saya semoga keadaan kembali semarak seperti dulu. Mudah-mudahan usaha ini semakin maju, pembeli semakin ramai, dan ada perubahan ekonomi yang lebih baik,” pungkasnya.
Laporan: Dini










