Bukit Raya Bagaikan Sang “Donald Bebek” Yang Lelah?

oleh
Suasana-saat-berlangsungnya-evakuasi-penumpang-KM-Bukit-Raya-oleh-gabungan-petugas-TNI-Lanal-Ranai

Natuna, (KP), – Kapal Motor (KM) Bukit Raya, route, Tanjung Priok, Belinyu, Kijang, Letung, Tarempa, Natuna, Midai, Serasan, dan Pontianak, pada Jumat (18/05) dini hari terkena musibah. Salah satu transportasi laut, jasa angkutan penumpang, dan barang antar pulau yang sudah beroperasi sejak tahun 1996 tersebut, kandas disekitar perairan laut Karang Neneh, Sedanau Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri.

Evakuasi-penumpang-dari-KM-Bukir-Raya-ke-Kapal-Hiu-04-milik-TNI-AL

Salah satu dari 25 kapal angkutan penumpang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PT. PELNI) Persero itu, tersandar tepat diatas permukaan karang, berada pada posisi 03 42’ 02’’ N – 107 55’ 607’’ E. Atas musibah itu, Danposal Sedanau, bersama Danposal Sabang Mawang, sekitar pukul 13.30 Wib, menggunakan Kapal Hiu 04, dari Pelabuhan Sedanau bergegas menuju lokasi, guna melaksanakan proses evakuasi penumpang.

Penumpang-disela-sela-evakuasi-berlangsung-terlihat-menggunakan-pelampung-pengaman

Sekitar pukul 14.30 Wib, sebanyak dua unit Sea Rider Lanal Ranai, bersama 10 personil Lanal Ranai, terdiri dari 4 personil Sea Rider, dan 6 personil Posal Sabang Mawang menuju lokasi. Pada pukul 15.00 Wib telah dievakuasi sebanyak 90 orang penumpang menuju Pelabuhan Sedanau Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna. “ Dengan rincian, sebanyak 30 orang dievakuasi menggunakan Kapal Hiu 04, 20 orang menaiki dua unit Sea Reder TNI AL, dan 40 lagi menggunakan pompong milik masyarakat.

Sejumlah-penumpang-siap-untuk-dievakuasi-ke-Pelabuhan-Sedanau

Menurut keterangan, yang diperoleh dari Danposal Sedanau, dan Danposal Sabang Mawang sebagai laporan awal untuk disampaikan kepada Komandan Lanal Ranai, jumlah seluruh penumpang di perkirakan sebanyak 200 orang. Masih belum ter-evakuasi lebih kurang sebanyak 110 orang. “ Saat ini, KM Bukit Raya dalam keadaan kandas, dan bocor, “ sebut sumber dalam pesan WhatsApp telepon genggam yang dikirim langsung kepada Redaksi Koran Perbatasan.

Kapal-patroli-Polisi-Airut-terlihat-berada-di-lokasi-kejadian

Pengamanan proses evakuasi penumpang dari kapal buatan Galangan Jos L Meyer Papenburg Germany tahun 1994 tersebut juga dilakukan oleh Kasatpol Air Iptu Zulkarnain beserta anggotanya. Saat dihubungi, melalui seluler, Iptu Zulkarnain belum bisa menerangkan secara detil kronologis dan kerusakan yang dialami oleh kapal tersebut. ” Sebagai imformasi awal, bahwa KM. Bukit Raya, kandas dan bocor di belakang Pulau Sedanau, terima kasih. Saya sudah meluncur menuju TKP, dan sudah perintahkan anggota untuk menangani hal ini, ” jelas Zulkarnain.

Gambar perairan wilayah Karang Neneh tepatnya di belakang Pulau Sedanau Kecamatan Bunguran Barat

Sebagaimana diketahui, kapasitas KM. Bukit Raya terdiri dari beberapa kelas, diantaranya, Kelas I mampu menampung 14 orang penumpang, Kelas II sebanyak 40 orang penumpang, dan Kelas Ekonomi sebanyak 916 orang penumpang, dengan total seluruhnya berjumlah 970 orang penumpang. Penamaan B ukit Raya diambil dari salah satu nama gunung tertinggi, yang terletak di Kalimantan.

Potret bentuk terumbu karang yang dinaiki KM Bukit Raya.

Musibah yang terjadi menjadi catatan sejarah baru bagi dunia pelayaran khususnya diwilayah perbatasan. ” ‎Kalau boleh dibilang, ini merupakan peristiwa bersejarah bagi kami, karena kapal ini sudah tidak asing lagi. Khusunya masyarakat Pulau Tujuh siapa yang tidak tahu KM Bukit Raya, tentunya ada banyak kenangan yang kami rasakan, selama 25 tahun beroperasi melayani masyarakat di perbatasan, “ ujar Asril.

Menurut, Asmardi, kehadiran kapal dengan kapasitas 900 tempat tidur, dan mampu menampung hingga 1.500 penumpang, itu terbilang setia terus melayani masyarakat perbatasan. Dengan rute satu kali dua minggu, Bukit Raya siap mengarungi hamparan Laut Cina Selatan, hingga ke Pulau Bintan, Bangka Belitung, sampai ke Jakarta, dan Kalimantan Barat.

Sejumlah-penumpang-terlihat-sudah-berada-di-Pelabuhan-Sedanau

Kapal Bukit Raya, menurutnya, menjadi pilihan primadona pada musim lebaran maupun liburan sekolah, termasuk dimusim utara berombak kencang. Bukit Raya merupakan satu-satunya transportasi laut pilihan. Sebab pada musim tersebut tidak ada kapal lain yang setia melayani masyarakat perbatasan khusunya Natuna. “ Bukit Raya tetap menjadi pilihan warga perbatasan, selain karena dirasa lebih aman, juga karena harga tiketnya yang terjangkau, “ tutup Asmardi. (Amran).

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *