KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Dari Lumbung ke Kelaparan: Ironi Negeri Agraris di Tengah Krisis Harga

×

Dari Lumbung ke Kelaparan: Ironi Negeri Agraris di Tengah Krisis Harga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi karung bertuliskan "Local Rice" atau “Beras Lokal” tergeletak di lantai tanah, di sampingnya hanya tersisa beberapa butir beras. Simbol kontras negeri agraris yang kekurangan pangan.

INDONESIA disebut-sebut sebagai negeri agraris, lumbung pangan Asia, bahkan penopang ketahanan pangan kawasan. Namun ironi itu kian terasa hari ini ketika harga beras melonjak tajam, akses terhadap pangan memburuk, dan rumah tangga miskin harus memutar otak hanya untuk memastikan dapur tetap mengepul.

Krisis harga kebutuhan pokok saat ini menelanjangi kelemahan struktural dari sistem pangan nasional. Di tengah limpahan lahan pertanian, jutaan petani justru hidup dalam kemiskinan.

Produksi pangan tak serta-merta menjamin ketersediaan pangan murah. Sebaliknya, distribusi yang timpang, ketergantungan terhadap impor, dan permainan pasar menjadikan harga beras dan bahan pokok lainnya melambung tanpa kendali.

Negara ini menghasilkan beras, cabai, telur, dan sayuran, tetapi ironi terjadi ketika semua itu lebih mudah ditemukan di kota besar dengan harga mahal, sementara petani yang memproduksinya tak mampu menikmatinya sendiri.

Baca Juga:  PDB Naik, Harapan Turun: Ketika Pertumbuhan Tak Menyentuh Kehidupan Nyata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *