ANAMBASEKONOMI PERBATASANENERGI & MIGASKEUANGAN

Anambas Bergantung Migas, Statistik Ungkap Dampak Ekonomi

×

Anambas Bergantung Migas, Statistik Ungkap Dampak Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Statistik Ahli Pertama Zahra saat memberikan penjelasan terkait kondisi ekonomi dan perhitungan PDRB di Kantor Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas. Senin (30/3/2026).

“Ketergantungan sektor migas terhadap ekonomi Anambas kembali disorot, terutama terkait dampaknya yang dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.”

 

Statistik Ahli Pertama, Zahra, mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kepulauan Anambas masih sangat dipengaruhi oleh sektor pertambangan dan penggalian, khususnya migas, yang menjadi pendorong utama dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

 

ANAMBAS – Ketergantungan ekonomi daerah terhadap sektor migas kembali menjadi sorotan dalam perkembangan ekonomi Kabupaten Kepulauan Anambas.

Statistik Ahli Pertama, Zahra, menjelaskan selama beberapa tahun terakhir, sektor pertambangan dan penggalian yang di dalamnya termasuk migas, masih menjadi penopang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kalau kita lihat dalam lima tahun terakhir, sektor migas ini memang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Anambas,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (30/3/2026).

Ia menerangkan dalam penghitungan PDRB, terdapat dua pendekatan utama yakni berdasarkan pengeluaran dan lapangan usaha. Dalam pendekatan pengeluaran, digunakan dua indikator yakni harga berlaku dan harga konstan.

Menurutnya, harga berlaku digunakan untuk melihat nilai ekonomi dengan mempertimbangkan perubahan harga, sementara harga konstan lebih menitikberatkan pada pergerakan produksi riil dari berbagai sektor ekonomi.

“Kalau harga konstan, kita melihat bagaimana produksi itu bergerak. Sedangkan harga berlaku, kita juga menghitung perubahan harga,” jelasnya.

Zahra menambahkan pihaknya mencatat seluruh sektor ekonomi, mulai dari pertanian, kehutanan, pertambangan, industri pengolahan, hingga sektor jasa seperti transportasi, rumah sakit, dan aktivitas lainnya.

Namun demikian, ia mengakui dampak sektor migas terhadap masyarakat tidak selalu terlihat secara langsung. Hal ini karena kontribusi besar migas lebih tercermin dalam angka makro ekonomi, bukan secara langsung pada kesejahteraan masyarakat.

“Kalau dilihat secara kasat mata, mungkin dampaknya tidak terlalu terlihat. Tapi dalam struktur ekonomi, itu sangat besar,” katanya.

Baca Juga:  Adies Saputra : “Desa Berkembang Anambas Gemilang”

Untuk melihat dampak yang lebih nyata terhadap masyarakat, Zahra menyarankan agar memperhatikan PDRB non-migas yang mencerminkan aktivitas ekonomi riil masyarakat.

Menurutnya, sektor non-migas, termasuk UMKM, menunjukkan tren pertumbuhan meski tidak signifikan. Namun dari tahun ke tahun, perkembangan tetap terjadi dan berpotensi menjadi pendorong ekonomi alternatif.

“UMKM ini sebenarnya bisa menjadi penggerak ekonomi non-migas, walaupun peningkatannya belum terlalu signifikan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana konsep penghitungan ekonomi dilakukan. Banyak yang menganggap aktivitas ekonomi hanya terbatas pada perdagangan di pasar, padahal cakupannya jauh lebih luas.

“Kegiatan ekonomi itu tidak hanya di pasar. Produksi pertanian, layanan kesehatan, hingga jasa lainnya semua dihitung,” jelasnya.

Dalam mengukur daya beli masyarakat, pihaknya menggunakan indikator pengeluaran riil per kapita sebagai pendekatan utama.

Untuk memastikan akurasi data, Zahra menegaskan pengumpulan data dilakukan secara langsung melalui mitra statistik yang turun ke lapangan dan mendatangi responden satu per satu.

“Kami benar-benar memotret kondisi di lapangan, tidak hanya sekadar bertanya. Data dikumpulkan langsung dari masyarakat,” tegasnya. (KP).


Laporan: Azmi


 

📊 Views: 26

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *