“Seorang warga di Kota Tanjungpinang berhasil memanfaatkan kain dari baju bekas menjadi alas kaki rumah tangga yang unik, bernilai ekonomi, dan kini diminati banyak masyarakat.”
Pengrajin kerajinan rumah tangga Ona mengatakan bahwa usaha memanfaatkan kain dari baju bekas menjadi alas kaki rumah tangga mulai ia jalankan sejak tahun 2022 di kediamannya di Jalan Pemuda, Gang Sagu, Batu 4, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
TANJUNGPINANG – Kreativitas warga dalam memanfaatkan barang bekas kembali menarik perhatian. Seorang warga di Jalan Pemuda, Gang Sagu, Batu 4, Tanjungpinang, berhasil menyulap baju bekas menjadi alas kaki rumah tangga yang unik dan kini diminati banyak orang.
Koran Perbatasan berkesempatan mengunjungi rumah pengrajin tersebut pada Jumat sore (13/3/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Di rumah sederhana itu, terlihat berbagai potongan kain dari baju bekas yang telah dirangkai rapi menjadi alas kaki dengan beragam warna dan model yang menarik.
Pemilik usaha yang dikenal sebagai Bu Ona menceritakan bahwa usaha kerajinan tersebut mulai ia jalankan sejak tahun 2022. Awalnya, kegiatan itu hanya dilakukan untuk mengisi waktu luang di rumah.
“Awalnya cuma buat santai saja di rumah, sekadar mencoba memanfaatkan kain dari baju bekas. Lama-lama ada yang lihat dan tertarik, akhirnya banyak yang mulai memesan,” ujar Bu Ona saat diwawancarai.
Ia menjelaskan, bahan utama kerajinan tersebut berasal dari baju bekas yang diperoleh dari para tukang jahit di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya, potongan kain tersebut biasanya dibuang begitu saja.
Melihat hal itu, ia berinisiatif memanfaatkannya agar tidak terbuang percuma sekaligus menjadi produk yang berguna.
Selain itu, Bu Ona juga mengajak masyarakat untuk tidak sembarangan membuang pakaian bekas. Menurutnya, pakaian yang sudah tidak terpakai masih memiliki banyak manfaat jika dimanfaatkan dengan baik.
“Baju bekas jangan langsung dibuang. Sayang kalau dibuang begitu saja, apalagi di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan untuk dipakai. Daripada dibuang, saya mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna,” ungkapnya.
Dari pemanfaatan kain bekas tersebut akhirnya lahirlah usaha kecil yang kini cukup dikenal di kalangan warga Tanjungpinang. Produk alas kaki hasil kerajinannya mulai banyak digunakan oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan.
Seiring berjalannya waktu, alas kaki buatan tangannya semakin banyak dipesan. Produk tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan rumah tangga, sekolah, hingga kantor. Motif dan warna yang beragam juga membuat pembeli dapat memilih sesuai selera.
Menariknya, harga alas kaki buatan Bu Ona terbilang cukup terjangkau. Ia menjualnya dengan harga sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 untuk ukuran besar jika dibeli langsung darinya. Padahal, produk serupa yang dijual di beberapa swalayan atau pasaran dapat mencapai harga Rp45.000 hingga Rp50.000 untuk ukuran yang sama.
“Kalau beli langsung ke saya harganya sekitar dua puluh sampai dua puluh lima ribu saja. Saya ingin semua kalangan bisa membeli dan memakainya,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa suaminya turut membantu mempromosikan hasil kerajinan tersebut. Beberapa produk sering dibawa ke tempat kerja suaminya dan ditawarkan kepada rekan-rekannya di kantor.
“Alhamdulillah banyak juga teman-teman di kantor suami yang minat. Ada yang pesan dengan model tertentu, jadi saya buatkan sesuai permintaan,” katanya.
Tak hanya dijual langsung kepada pembeli, beberapa hasil kerajinan Bu Ona juga diambil oleh pihak lain untuk dijual kembali di sejumlah swalayan yang ada di Kota Tanjungpinang. Hal ini membuat usaha kecil tersebut semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Kreativitas Bu Ona menjadi contoh bahwa barang bekas yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomis. Selain membantu mengurangi limbah kain, usaha ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus membuka peluang usaha di lingkungan sekitar. (KP).
Laporan: Venti










