DI TENGAH kampanye masif soal kesadaran membayar pajak, rakyat terus diminta untuk patuh. Bahkan, kini segala aspek kehidupan dikenakan pungutan: mulai dari pajak pertambahan nilai di warung kecil hingga kewajiban NPWP untuk layanan dasar. Sayangnya, semangat untuk membayar tidak diimbangi dengan kualitas layanan publik yang setara.
Apa gunanya rakyat taat pajak jika rumah sakit masih kekurangan obat, jalan-jalan di daerah berlubang tak kunjung diperbaiki, dan pelayanan administrasi di kantor pemerintah justru membuat frustrasi? Inilah ironi yang dirasakan oleh masyarakat kecil: mereka membayar, tapi tak merasa dilayani.
Kenaikan pajak atau perluasan basis pajak seharusnya dibarengi dengan perbaikan nyata di sisi pelayanan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kebijakan yang menambah beban fiskal masyarakat, tapi tidak menyentuh akar persoalan pelayanan publik yang amburadul.










