KABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNASIONALNATUNAPENDIDIKAN

KOHATI Matangkan Emosional Kader Perempuan Melalui LK I, Gen Z yang Baperan Menjadi Tantangan

×

KOHATI Matangkan Emosional Kader Perempuan Melalui LK I, Gen Z yang Baperan Menjadi Tantangan

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum KOHATI Cabang Natuna, Ayu Wulan Anggraeni.
Ketua Umum KOHATI Cabang Natuna, Ayu Wulan Anggraeni.

NATUNA – Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Natuna menegaskan komitmennya untuk membentuk kader perempuan yang matang secara emosional dan spiritual sebelum terjun ke ranah kepemimpinan yang lebih luas.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum KOHATI Cabang Natuna, Ayu Wulan Anggraeni, kepada koranperbatasan.com usai menjadi pemateri dalam Latihan Kader I (LK I) yang diselenggarakan Komisariat Ekonomi Syariah HMI Cabang Natuna di Vila Sebayar, Sabtu, 27 September 2025.

Menurut Ayu, fokus utama KOHATI berbeda dengan materi kepemimpinan umum. KOHATI secara khusus menyentuh isu-isu sensitif dan fundamental seputar keperempuanan.

“Di Kohati itu dari awal yang dibahas memang tentang keperempuanan. Isu-isu keperempuanan itu yang dinaikkan terlebih dahulu,” ujarnya.

Materi wajib yang diberikan mencakup topik-topik seperti menjadi muslimah yang baik, persiapan pernikahan (peranikah), hingga mendekonstruksi doktrin tradisional tentang peran perempuan.

“Kadang ada yang mendoktrin bahwa perempuan tugasnya di dapur. Nah, itulah salah satu fungsi kajian di Kohati,” tambahnya.


Ketua Umum KOHATI Cabang Natuna Ayu Wulan Anggraeni menyampaikan materi keperempuanan dalam LK I HMI.
Ketua Umum KOHATI Cabang Natuna Ayu Wulan Anggraeni saat menyampaikan materi keperempuanan dalam Latihan Kader (LK I).

Ayu menekankan bahwa misi terbesarnya sebagai Ketum KOHATI bukan sekadar menjabat, tetapi mendidik para kader agar matang terlebih dahulu.

“Bagaimana caranya kita mendidik para Kohati supaya mateng secara emosional. Baru nanti kalau mampu, kita buat sesuatu yang lebih meledak,” paparnya.

Mengenai fenomena di mana perempuan sering dijadikan alat partai politik hanya untuk memenuhi kuota 30% tanpa persiapan yang matang, menurut Ayu, kesetaraan gender harus dibangun dari fondasi yang kuat di sisi perempuan itu sendiri.

Sebagai bagian dari Generasi Z, Ayu secara terbuka mengakui tantangan yang dihadapi kader perempuan seusianya bahwa karakter Gen Z yang cenderung labil dan mudah baper (bawa perasaan) menjadi penghalang serius.

Baca Juga:  Tuah Laut dan Reformasi: Amran Ajak Mahasiswa Natuna Jaga Ideologi Bangsa  

“Kalau udah Gen Z, terus dia perempuan, disuruh berkompetisi, itu sulit. Perempuan Gen Z yang mau jadi pemimpin harus punya support system yang kuat,” tegasnya.

Bupati Natuna Cen Sui Lan, salah satu yang diceritakan ayu sebagai contoh inspiratif pemimpin perempuan yang memiliki kematangan emosional dan didukung support system yang baik.

Ayu juga menyampaikan pesan keras bagi perempuan yang bercita-cita menjadi pemimpin. “Ketika kita menjadi seorang pemimpin perempuan, kalau masih baperan, tolong jangan jadi pemimpin. Karena itu hal yang betul-betul fatal,” ungkapnya tanpa tedeng aling-aling.

HMI dan KOHATI sejatinya tidak menuntut kesempurnaan penampilan luar seperti berjilbab lebar atau baju besar melainkan lebih menekankan pada proses perkaderan yang konsisten dan pembangunan karakter dari nol.

“Kita di HMI tidak dituntut sempurna. Kita harus belajar dari bawah, menciptakan diri yang emosionalnya tidak berantakan,” pungkasnya memberi semangat kepada para kader. (KP).


Laporan : Dhitto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *