“Perayaan Cap Go Meh di Natuna berlangsung sederhana, namun tetap sarat makna spiritual dan pesan kebijaksanaan bagi umat serta para pemimpin.”
Pemuka Agama Khonghucu, Budi Setyawan, menyampaikan bahwa perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu sembahyang besar dalam tradisi keagamaan Khonghucu yang dilaksanakan pada malam purnama tanggal 15 bulan pertama penanggalan Imlek. Hal itu disampaikannya saat diwawancarai di Klenteng Fuk De Chi, Kampung Tua Penagi, Selasa (3/3/2026).
NATUNA – Menurut Budi Setyawan, secara harfiah Cap Go Meh berarti sembahyang hari ke-15 dalam tradisi kebudayaan Tionghoa. Dalam praktik keagamaan Khonghucu, momen ini menjadi bentuk puji syukur kepada Tuhan yang dilaksanakan pada malam purnama raya.
“Kalau dari arti kan Cap Go Meh itu sembahyang hari ke-15 dalam tradisi kebudayaan Tionghoa. Dalam agama Khonghucu ini salah satu sembahyang besar, puji syukur ke hadirat Tuhan yang dilaksanakan malam purnama raya,” jelasnya.
Ia menjelaskan, istilah Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien yang berarti angka 15. Kata “Cap” berarti sepuluh, sementara “Go Meh” berarti lima, sehingga perayaan tersebut dilaksanakan tepat pada tanggal 15 bulan pertama dalam kalender Imlek.
“Tahun ini mungkin kita laksanakan tidak semeriah tahun lalu karena momennya berbarengan dengan Ramadan. Jadi kita menghargai teman kita yang Muslim,” ujarnya.
Biasanya, kata dia, perayaan Cap Go Meh diisi dengan berbagai kegiatan budaya seperti barongsai dan pertunjukan tari. Namun pada tahun ini kegiatan tersebut tidak dilaksanakan demi menjaga keharmonisan dan saling menghormati antarumat beragama.
“Biasanya kami mengadakan acara seperti barongsai atau tari-tarian, tapi karena bertepatan dengan Ramadan kita menghargai teman-teman Muslim. Jadi hanya seremoninya seperti ini, ritual dan makan bersama,” tambahnya.
Budi menegaskan bahwa tujuan utama dari perayaan Cap Go Meh adalah mempertebal keimanan umat. Selain itu, perayaan tersebut juga menjadi penutup dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.
“Ini salah satu sembahyang besar juga, cuma ini sembahyang di hari terakhir daripada Imlek. Jadi kalau sudah lewat Cap Go Meh sebenarnya sudah bukan Imlek lagi,” katanya.
Ia juga menyinggung bahwa perayaan Cap Go Meh di Natuna tidak semeriah daerah lain seperti Singkawang yang dikenal luas dengan festival budaya Cap Go Meh.
“Kalau kita lihat di Natuna memang tidak semeriah di Singkawang. Jadi tergantung wilayah. Tapi yang penting bagi kami adalah mempertebal keimanan dan umat mengetahui tradisi serta nilai luhur agamanya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Budi juga menyampaikan pesan tentang kepemimpinan yang ideal. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki kebijaksanaan, cinta kasih, dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Jadi pemimpin itu harus memiliki kebijaksanaan dalam memimpin. Dia harus mempunyai rasa cinta kasih. Kalau pemimpin tidak punya itu, dia bisa memimpin tidak berdasarkan hati nurani, tetapi berdasarkan kepentingan diri atau kelompok,” katanya.
Ia juga menilai hubungan antara komunitas di klenteng dengan sejumlah tokoh atau pemimpin mungkin belum terjalin secara dekat.
“Mungkin kita belum ada kedekatan atau pendekatan. Bisa jadi karena dua faktor, mungkin kita belum dekat atau beliau juga belum mendekat dengan kami. Jadi saya tidak bisa mengatakan lebih jauh,” ungkapnya.
Budi menegaskan bahwa perayaan Cap Go Meh di Klenteng Fuk De Chi tahun ini memang tidak diselenggarakan secara besar-besaran, sehingga tidak ada undangan resmi kepada pihak tertentu.
“Memang kami dari klenteng Penagi tidak mengadakan acara Cap Go Meh secara besar, jadi wajar kalau ada yang tidak hadir atau tidak ada kontribusi,” katanya.
Ia berharap momentum Cap Go Meh tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan semangat kebangsaan.
“Yang pasti kita berharap ke depan lebih baik dari tahun ini. Semangat kebangsaan juga harus ditingkatkan, cinta tanah air, dan keimanan juga jangan hanya pada momen setahun sekali,” tuturnya.
Menurutnya, memperbaiki diri seharusnya menjadi proses yang berkelanjutan dalam kehidupan beragama.
“Jangan setelah lewat Cap Go Meh kita kembali lagi ke kebiasaan yang tidak baik. Kalau di agama Islam kan ada kembali ke fitrahnya. Maksudnya bukan hanya pada momen tertentu saja, tetapi terus dijaga setelahnya,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Dini










