Ia mencontohkan, anak-anak dibiasakan memberi salam dan mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah. “Khusus siswa perempuan wajib memakai jilbab dan pakaian panjang, bukan hanya untuk kecantikan tapi juga kesehatan. Pakaian panjang melindungi dari debu dan paparan sinar matahari,” imbuhnya.
Selain itu, madrasah juga menerapkan budaya senyum, sapa, salam di lingkungan sekolah. “Kebiasaan ini kita tanamkan agar anak-anak punya etika dan sopan santun. Saat apel bendera, petugas yang bertugas harus tanggung jawab seperti seorang komandan. Siapa yang terbaik kita beri doorprize sebagai motivasi,” ujar Siti Asmah sambil tersenyum.
Dalam hal kedisiplinan sosial, MI Darul Ulum juga berupaya menekan perilaku bullying. “Kami selalu mengingatkan anak-anak agar saling menghormati dan menyayangi. Kalau satu anak nakal, yang lain ikut kena. Jadi kita bentuk rasa kebersamaan, bahwa mereka ini satu keluarga besar,” katanya.
BACA JUGA : Raya Smansa Jadi Ajang Kreativitas dan Kebersamaan Siswa
Madrasah juga terbuka terhadap siswa berkebutuhan khusus. “Tahun ini kami punya tiga anak yang perlu perhatian khusus. Kami tetap terima dan dampingi, karena mereka juga berhak mendapat pendidikan. Selagi bisa kami tangani, kami akan rangkul mereka,” jelasnya.
Terkait pendanaan dan dukungan tenaga pendidik, Hj. Siti Asmah berharap pemerintah daerah tidak memandang sebelah mata madrasah swasta. “Kami pernah mendapatkan guru honor daerah dari Pemda, tapi kemudian ditarik kembali. Padahal anak-anak di sini semuanya anak Natuna. Mereka juga warga Indonesia yang berhak mendapat pendidikan,” ungkapnya.
Ia berharap kebijakan itu bisa dikaji ulang. “Kami sama-sama mendidik anak bangsa. Kalau kerja sama itu diputus, kita mulai lagi dari nol. Madrasah ini juga kekurangan ruang belajar, jadi sebagian kelas terpaksa masuk sore. Harapan saya, pemerintah bisa memperhatikan fasilitas pendidikan madrasah swasta agar bisa berkembang seperti sekolah negeri,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Dini










