KETIKA pemerintah mulai memperketat anggaran dengan dalih efisiensi dan pengendalian defisit fiskal, rakyat di bawah justru harus memperkuat strategi bertahan hidup mereka. Bukan hanya sekadar menahan konsumsi, tapi juga merombak total pola pikir keuangan harian. Inilah masa ketika kecermatan dalam mengelola uang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Efisiensi anggaran negara memang kerap menjadi jargon favorit dalam situasi ekonomi tak menentu. Namun sayangnya, kebijakan ini seringkali tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur sosial yang cukup. Program bantuan dikurangi, subsidi direvisi, dan anggaran daerah dipangkas. Akibatnya, rakyat kecil yang sudah hidup pas-pasan kini harus memutar otak lebih keras untuk bertahan.
Di tengah tekanan ini, masyarakat perlu sadar bahwa mengandalkan pemerintah sepenuhnya sudah tidak realistis. Warga harus mulai belajar membaca ulang pengeluaran, memilah mana kebutuhan dan mana keinginan, serta menyusun ulang prioritas rumah tangga. Strategi bertahan bisa dimulai dari hal sederhana: mencatat pengeluaran, mengurangi gaya hidup konsumtif, hingga menyisihkan dana darurat, sekecil apa pun jumlahnya.
Namun, cermat saja tidak cukup. Diperlukan juga literasi keuangan yang lebih masif dan aplikatif. Sayangnya, banyak keluarga di Indonesia yang masih terjebak dalam pola hidup dari gaji ke gaji, tanpa perencanaan jangka panjang. Di saat harga pangan melonjak dan bantuan sosial semakin terbatas, keterampilan mengelola keuangan menjadi benteng terakhir rakyat dalam menghadapi badai ekonomi.
Pemerintah seharusnya menyadari bahwa pengetatan anggaran tidak bisa berdiri sendiri. Efisiensi fiskal harus disertai dengan kebijakan perlindungan sosial yang tangguh dan tepat sasaran. Program edukasi keuangan berbasis komunitas, akses terhadap produk keuangan mikro, serta perlindungan atas kebutuhan dasar seperti pangan dan kesehatan harus menjadi bagian dari paket kebijakan efisiensi yang adil.
Kita sedang hidup di era ketika rakyat harus lebih cermat dari sebelumnya. Namun, jika kecermatan ini tidak ditopang dengan ekosistem yang mendukung, maka yang terjadi hanya perpindahan beban dari negara ke pundak rakyat kecil.
Mengencangkan ikat pinggang bukan lagi sekadar metafora. Ini adalah kenyataan harian di dapur rakyat. Maka dari itu, alih-alih terus meminta rakyat berhemat, negara perlu menunjukkan keberpihakan konkret terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga. Sebab di balik angka makro yang stabil, ada cerita mikro yang mungkin tengah retak.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










