Menjadi ironi ketika negara menargetkan pertumbuhan ekonomi yang stabil, namun mengabaikan daya tahan konsumsi rumah tangga. Padahal, dalam teori ekonomi Keynesian, konsumsi adalah komponen utama dalam mendorong Produk Domestik Bruto. Jika konsumsi masyarakat tertekan karena pemangkasan belanja negara, maka pemulihan ekonomi hanya akan menjadi narasi elit tanpa substansi.
Di sisi lain, masyarakat melihat bagaimana belanja negara tetap mengalir deras untuk sektor-sektor yang tidak menyentuh langsung kebutuhan dasar rakyat. Proyek infrastruktur prestisius tetap jalan, belanja birokrasi tetap tinggi, sementara bantuan sosial justru dipangkas. Ini menimbulkan krisis kepercayaan fiscal, rakyat dipaksa patuh membayar pajak, tapi tak melihat imbal balik yang sepadan.
Efisiensi anggaran memang penting, tapi keadilan fiskal jauh lebih krusial. Negara tak boleh hanya fokus pada neraca tanpa memperhitungkan kualitas hidup rakyat. Jika rakyat dibiarkan menanggung beban fiskal tanpa perlindungan sosial, maka pertanyaan yang layak diajukan: sejauh mana hemat negara boleh dibenarkan ketika rakyat tercekik dalam diam?
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










