Kata Pardan sektor unggulan Desa Harapan Jaya berbeda dengan desa lain. Dari 70 desa di Natuna, tidak sampai 30% yang melakukan ketahanan pangan. Tematik desa ditentukan sesuai hasil Musdes berdasarkan potensi unggulan. Untuk tahun ini, Desa Harapan Jaya mengambil satu tematik kegiatan penggemukan sapi pejantan. Targetnya dijual pada momen Hari Raya Idul Adha.
“Alhamdulillah untuk TW pertama yang sudah saya cairkan. Tahap pertama 60% itu sudah terealisasi sebanyak 9 ekor sapi. Dari Rp158 juta anggaran ketahanan pangan sudah terbeli 9 ekor sapi pejantan,” jelasnya.
Pardan menegaskan mekanisme Juklak (Petunjuk Pelaksanaan) dan Juknis (Petunjuk Teknis) anggaran DD sudah diplot untuk ketahanan pangan, BLT, bidang kesehatan, termasuk Posyandu, dan penurunan stunting. Ia menekankan kebijakan desa menyesuaikan aturan pusat.
“Kalau DD lebih mudah, karena sudah diamanahkan dari pusat, yang penting kami kerja sesuai aturan,” tegasnya.
Pardan menceritakan selain program pemberdayaan ekonomi. Desa Harapan Jaya tahun ini juga melaksanakan kegiatan fisik pembukaan Jalan Wisata Gunung Gundul dengan sistem padat karya. Namun karena efisiensi anggaran, beberapa kegiatan fisik diprioritaskan ulang untuk tahun berikutnya.
“Ada juga kendala status jalan yang berubah menjadi jalan kabupaten dan belum terealisasi,” bebernya.
Pardan berharap pemerintah daerah dan DPRD bisa terus mendukung pembangunan di setiap desa. Karena ada banyak kegiatan yang semestinya bisa dianggarkan melalui APBD maupun aspirasi dewan.
“Saya ucapkan terima kasih kepada pak dewan yang sudah memasukan pokirnya. Mudahan tahun selanjutnya tetap ada, karena kebutuhan masyarakat di sini sangat banyak. Wilayahnya luas, jadi masih banyak kekurangan,” tutup Pardan. (KP).
Laporan : Awan










