“Peripura” Salah Satu Penamaan Untuk Natuna Provinsi Khusus

oleh
Anizar-Sulaiman-Sang-Pembangun-Impian-dan-Gagasan

NATUNA, (KP), – Mengapa “Peripura” menjadi salah satu dari sekian banyak nama yang saya pilih, tentu terkait pada pengertian cita-cita dan gagasan. Memang tidak mudah untuk mengganti nama, tetapi pergantian nama, atau pemberian nama, sekaligus pemberian makna, merujuk kepada suatu yang mengangkat derajat martabat kita. Saya memilih nama “Peripura” berasal dari kombinasi dua kata, “peri” dan “pura”. “ Demikian di sampaikan, Anizar Sulaiman, sang pembangun impian dan gagsan.

Anizar, mengatakan “peri” adalah suatu wujud yang bermakna tinggi. Dalam suatu istilah “peri” memberikan derajat meningkat naik, dari derajat kebiasaan. Sehingga manusia sendiri menyebut dirinya sebagai berperikemanusian. Tentang adil menyebutnya peri keadilan, tentang bahasa kita menyebutnya peri bahasa. Bahkan dalam tindakan dan tingkah laku, kita menyebutnya perilaku. “Peri” adalah sesuatu yang kita muliakan, dan kita agungkan. Disitulah pengertian “peri” kita pilih sebagai salah satu nama. Dari sekian banyak nama yang nantinya akan muncul dalam pembentukan Provinsi Daerah Otonomi Khusus.

Nah, kata “Peripura” menurut Anizar Sulaiman, merujuk kepada masyarakat yang mendiami suatu negeri berderajat tinggi. Sedangkan kata “pura” memiliki banyak pengertian. Ada bermakna kota, atau kota berbenteng dalam istilah kerajaan dulu, disebut kota pertahanan. Kata “pura” juga bisa bermakna rumah ibadah, dalam bahasa Bali disebut pure (rumah ibadah), dan “pura” bisa bermakna negeri, bahkan sebuah negara. Tetapi kita bukan bermimpi ingin menjadi negara sendiri. Kita mengambil makna itu, sebagai negeri di patrikan menjadi nama Provinsi Daerah Otonomi Khusus.

Anizar menjelaskan, penggunaan kata “pura” sebagai kota, dan negeri, pertama mengambil dari istilah populer kitab Mahabharata. Dalam kitab Mahabharata dikenal dengan istilah Hastinapura, memang hanya tulisan pada sebuah kitab. Tetapi di kemudian hari, banyak daerah-daerah diberi nama “pura”, terutama kawasan sebelah utara khatulistiwa. Mayoritas beberapa nama “pura” juga terdapat di selatan khatulistiwa. Walaupun secara umum, kota-kota dibagian selatan khatulistiwa bernama karta.

Kemudian kata Anizar, ada beberapa nama kota atau negera, yang kita kenal berasal dari istilah “pura” misalnya Singapura. Rafles mencita-citakan diri menjadikan singa negerinya, maka Pulau Temasek diganti menjadi Singapura. Walaupun dalam dialeg bahasa Ingris menjadi Singapore. Tetapi di tulis dalam bahasa sansekerta yang kita Melayu-kan menjadi nama internasional hari ini, dasarnya adalah dari kata “pura”.

Disamping bermakna kota, negeri, dan tempat pemujaan rumah ibadah, bahkan negara. Kata “pura” juga bisa menjadi bandar perdagangan, atau pusat pemerintahan. Disamping Singapura, di Indonesia sendiri terdapat beberapa nama “pura”, misalnya Sri Bintan Pura sebuah pelabuhan terletak di Tanjungpinang Provinsi Kepri. Selanjutnya ada Siak Sri Indrapura, sebuah nama kerajaan, hari ini menjadi Kabupaten Siak Provinsi Riau, dan Universitas Tanjungpura sebuah perguruan tinggi di Pontianak Kalimantan Barat. Sedangkan yang bermakna kota adalah, Abe Pura, Jaya Pura, dan Martapura di selatan khatulistiwa.

Dalam sejarah Natuna atau Exs Kewedanaan Pulau Tujuh, memang tidak ada yang bernama “pura”. Tetapi “pura” dapat kita letakkan dalam konsepsi kemanusian sebagai kaum berderajat tinggi. Karena itu, “Peripura” menjadi salah satu alasan unutuk kita pilih, sebagaimana cita-cita bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 tertulis bahwa penjajahan di atas dunia harus di hapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusian dan peri keadilan. Nah, ini menjadi inspirasi bahwa penamaan “Peripura” harus dibentuk kembali, melalui Provinsi Daerah Otonomi Khusus kita. Disitulah salah satu alasan mengapa “pura” kita gunakan menjadi nama Provinsi dengan kombinasi kata “peri”. Sehingga “Peripura”, menjadi rujukan penting buat penamaan.

Sebagai orang Pulau Tujuh, lanjut Anizar, marilah bersama-sama, menyatukan langkah, sudut pandang, dan cita-cita, sekalipun berbeda-beda. Semua elemen masyarakat Pulau Tujuh secara utuh, tereintegrasi reunifikasi bersama kita bersatu. Berjuang sekuat tenaga, seupaya, semaksimal, memperjuangkan ini mati-matian. Bahwa provinsi kita, dalam bentuk Otonomi Khusus harus direalisasikan senyata-nyatanya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita sudah harus membentuk Provinsi, dengan cara seksama, dan sesegera mungkin.

Meski masih ada pandangan ketidak siapan, karena ketika berbicara tentang gagasan, dan cita-cita, tentunya yang tidak siap itu-lah harus kita perjuangkan. Mari kita berkemas dari ketidak berdayaan, karena inilah suatu cara agar dapat membangun masyarakat maritim kepulauan yang berdaulat, bebas, dan merdeka. Menuju masyarakat adil, makmur sejahtera, dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Anizar menjelaskan, Pulau Tujuh dalam pengertian, yang kita sebut Gugusan Kepulauan Natuna, hari ini menjadi Kabupaten Natuna. Gugusan Kepulauan Anambas, hari ini menjadi Kabupaten Kepulauan Anambas, dan gugusan Kepulauan Tambelan, hari ini menjadi Kecamatan tambelan di bagian Timur Kabupaten Bintan. Dulunya, ketiga gugusan itu, adalah Eks Kewedanaan Pulau Tujuh.

Keinginan menyatukan kembali wilayah Eks Kewedanaan menjadi Provinsi adalah sebuah keniscayaan. Ada banyak pertimbangan bisa di lihat, mulai dari kondisi wilayah, sosial budaya, maupun sosial politik. Pulau Tujuh secara umum adalah topografi maritim kelautan dan kepulauan. Jika melihat kondisinya, Pulau Tujuh termasuk daerah dengan wilayah yang sangat luas. Sehingga layak untuk di jadikan Provinsi yang bersifat khusus, sebagai salah satu Provinsi di kepulauan maritim.

Mengapa masyarakat Eks Kewedanaan Pulau Tujuh menginginkan daerahnya menjadi Provinsi yang bersifat khusus. Pertama karena Pulau Tujuh berada di cekungan ASEAN, memegang sebuah posisi stretegis dalam hubungan Indonesia kepada dunia luar, terutama negara-negara ASEAN. Jika Natuna dibentuk menjadi Provinsi, tentunya tidak akan meninggalkan saudara-saudarnya yang teruji secara kesejarahan sosial budaya. Sebab persaudaraan masyarakat Eks Kewedanaan Pulau Tujuh, sudah terjalin sejak ratusan tahun. (Amran). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *