NATUNAPENDIDIKAN

Santri Natuna Haru Tinggalkan Pondok Pesantren Nurul Jannah

×

Santri Natuna Haru Tinggalkan Pondok Pesantren Nurul Jannah

Sebarkan artikel ini
Puluhan santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Jannah berfoto bersama usai mengikuti prosesi Wisuda Tahfidz ke-10 di Natuna, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh haru sebagai penanda kelulusan santri angkatan ke-10.

“Perwakilan santri angkatan 10 Pondok Pesantren Nurul Jannah mengaku pendidikan disiplin dan kehidupan pesantren telah membentuk karakter serta mental mereka selama tiga tahun menempuh pendidikan di Natuna.”

Perwakilan santri angkatan 10 Pondok Pesantren Nurul Jannah, Fibi Enggrawati, menyampaikan kesan haru saat menghadiri Wisuda Tahfidz di Kabupaten Natuna, Sabtu (23/5/2026). Ia mengaku kehidupan disiplin dan proses pendidikan selama tiga tahun di pesantren menjadi pengalaman berharga yang membentuk karakter serta mental para santri.

NATUNA – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Wisuda Tahfidz angkatan ke-10 Pondok Pesantren Nurul Jannah yang dikenal dengan nama angkatan Aftero. Momentum kelulusan tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan pendidikan para santri setelah tiga tahun menjalani kehidupan pesantren dengan berbagai dinamika dan tantangan.

Salah satu santriwati yang mewakili angkatan 10, Fibi Enggrawati, mengungkapkan rasa bangga sekaligus sedih atas kelulusan seluruh santri angkatannya yang berjumlah 78 orang.

“Perasaannya campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena kami berhasil melewati semuanya selama tiga tahun, walaupun pelajarannya lebih sulit dibanding pelajaran umum. Tapi siapa sangka seluruh angkatan kami bisa lulus dengan sempurna,” ujarnya usai kegiatan wisuda.

Menurutnya, suasana emosional pada hari kelulusan muncul karena banyak kenangan yang telah dilewati bersama selama berada di lingkungan pesantren. Ia menilai setiap momen kebersamaan bersama teman-teman seangkatan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

“Setiap melakukan hal bersama terasa menyenangkan. Jadi semua kenangan di pondok ini terasa indah,” katanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jannah, Fibi berencana melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 2 Bunguran Timur. Ia mengaku mendapat dukungan dan arahan dari berbagai pihak untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.

Baca Juga:  Pemkab Natuna Melalui Dinas Sosial Salurkan Bantuan Kepada Warga Terdampak Banjir

Selain menyampaikan rencana masa depan, Fibi juga menitipkan pesan kepada seluruh teman-teman seangkatannya agar tetap istiqamah menjaga nilai-nilai yang telah diajarkan selama di pesantren.

“Saya berharap kita semua tetap berjalan di jalan yang benar meskipun nanti sudah tidak bersama lagi. Semoga semuanya menjadi orang hebat dan berguna untuk masyarakat, terutama dalam membangun Generasi Emas 2045,” ungkapnya.

Ia juga secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada para ustaz, ustazah, dan guru yang selama ini telah mendidik serta membimbing para santri dengan penuh kesabaran.

Menurutnya, aturan ketat yang diterapkan di pesantren sempat membuat para santri merasa tertekan. Namun, setelah melalui proses tersebut, mereka menyadari bahwa kedisiplinan itu menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter.

“Kami berterima kasih karena guru-guru sudah mengajarkan banyak hal yang sebelumnya belum kami ketahui. Walaupun kadang kami emosional karena aturan yang ketat, kami meminta maaf jika pernah menyakiti hati guru,” tuturnya.

Di akhir penyampaiannya, Fibi berharap hubungan antara para santri dan guru tetap terjalin baik meski mereka telah lulus dari pesantren.

“Kami hanya berharap guru-guru masih mengingat kami ketika bertemu nanti,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *