“Pelestarian budaya Melayu sejak usia dini dinilai penting di tengah gempuran budaya asing dan arus digitalisasi.”
NATUNA – Kepala Sekolah SD Negeri 001 Ranai, Deni Iswanti, S.Pd., SD, menegaskan pentingnya pelestarian budaya Melayu di lingkungan pendidikan dasar sebagai upaya menjaga identitas daerah Kabupaten Natuna dari pengaruh budaya luar.
Pelestarian budaya Melayu menjadi perhatian serius di SD Negeri 001 Ranai. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SDN 001 Ranai, Deni Iswanti, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (2/2/2026).
Menurut Deni, Kabupaten Natuna berada dalam ruang lingkup budaya Melayu sehingga sangat disayangkan jika generasi muda tidak lagi mengenal dan membudayakan warisan budayanya sendiri.
“Budaya Melayu memang seharusnya kita lestarikan. Apalagi kita di Kabupaten Natuna ini adalah ruang lingkup Melayu. Jadi rugi kalau kita tidak membudayakan budaya sendiri dan justru lebih masuk ke budaya orang lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerapan budaya Melayu di SDN 001 Ranai dilakukan secara akademik dan non-akademik. Pada aspek akademik, siswa diperkenalkan budaya Melayu melalui pembelajaran literasi seperti pantun, puisi bahasa Melayu, serta Gurindam Dua Belas yang dipasang di dinding sekolah agar mudah dibaca oleh siswa.
“Kami juga sudah mengenalkan aksara Melayu kepada anak-anak. Tujuannya supaya budaya Melayu di Kepulauan Riau ini tidak hilang,” jelasnya.
Sementara itu, pada kegiatan non-akademik, pelestarian budaya Melayu diterapkan melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti tarian daerah, permainan kompang, serta pengenalan kuliner lokal khas Natuna.
“Anak-anak kami perkenalkan makanan daerah seperti kernas, silong, lakse, dan kue-kue tradisional. Kalau tidak dikenalkan, anak-anak bisa saja tidak tahu cara makan dan mengenalnya,” kata Deni.
Ia menambahkan, pengaruh budaya asing di era global dan digitalisasi saat ini sangat kuat, terutama melalui gawai yang dengan mudah diakses anak-anak.
“Sekarang anak-anak lebih cepat melihat budaya luar dari HP, baik dari pakaian maupun makanan seperti hamburger atau spageti. Kalau tidak kita lestarikan, budaya kita bisa hilang,” tegasnya.
Sebagai upaya konkret, SDN 001 Ranai juga rutin menggelar kegiatan pentas seni setiap tahun. Dalam kegiatan tersebut, siswa mengikuti pawai budaya Melayu, pertunjukan seni, drum band, serta pameran hasil karya dan produk budaya lokal.
“Biasanya kami laksanakan sekitar bulan Mei. Ada pameran dari hasil kegiatan anak-anak, termasuk makanan lokal seperti lepat dan olahan ubi. Semua itu kami tampilkan,” ungkapnya.
Deni menyebut, kegiatan tersebut telah berjalan selama dua tahun dan menjadi bagian dari proyek kokurikuler siswa. Hasil kegiatan kemudian dipublikasikan kepada orang tua pada akhir semester.
“Produk anak-anak itu kami tampilkan sebagai hasil proyek. Orang tua bisa melihat langsung apa yang sudah anak-anak pelajari dan lakukan,” ujarnya.
Ia berharap, anak-anak tidak mudah terpengaruh budaya asing dan tetap bangga dengan kekayaan budaya lokal yang dimiliki.
“Budaya kita jauh lebih kaya. Budaya Melayu ini tidak boleh hilang dan harus terus kita lestarikan,” tuturnya.
Selain itu, Deni juga berharap dukungan dari orang tua, generasi muda, dan pemerintah daerah untuk terus mendorong pelestarian budaya Melayu di sekolah.
“Kami berharap orang tua terus mendukung, anak-anak muda terus bangkit melestarikan budaya daerah, dan pemerintah dapat memfasilitasi, termasuk mewujudkan panggung seni untuk anak-anak sekolah,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Dini










