KABAR PERBATASANPEMBANGUNAN DAERAHPEMERINTAHANPENDIDIKAN

SDN 007 Ranai Darat Tingkatkan Mutu Pendidikan

×

SDN 007 Ranai Darat Tingkatkan Mutu Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Kepala Sekolah SDN 007 Ranai Darat, Burhaji, S.Pd.SD saat diwawancara koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Selasa, 30 September 2025.

“SDN 007 Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, fokus meningkatkan kualitas pendidikan akademik, nonakademik, dan karakter siswa melalui kurikulum merdeka, inovasi teknologi, dan keterlibatan orang tua”

 

NATUNA – Kepala Sekolah SDN 007 Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulaun Riau, Burhaji, S.Pd.SD, terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dengan menyeimbangkan aspek akademik dan nonakademik.

Kata Burhaji, sekolah yang dipimpinnya fokus pada penguatan kurikulum merdeka, kegiatan kokurikuler, dan pengembangan ekstrakurikuler untuk membentuk karakter, keterampilan, serta intelektual siswa agar siap menghadapi tantangan masa depan.

“Fokusnya pada tiga pilar, yaitu kurikulum, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Contohnya memberi dorongan kepada guru untuk memvariasikan kegiatan belajar mengajar, memotivasi anak, dan memotivasi orang tua. Tingkat ekstrakurikuler, kita melihat minat dan bakat anak kemudian membuat pertandingan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka,” kata Burhaji kepada koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Selasa, 30 September 2025.

Menurut Burhaji, sekarang ini pendidikan karakter dinilai sangat penting, dan harus dilaksanakan di sekolah. Untuk meningkatkan karakter, sekolah bisa bercermin dengan yang sudah ada. Karakter sangat penting untuk anak-anak menjawab tantangan kedepan agar generasi muda lebih baik. Walaupun akademiknya bagus, tanpa karakter tetap akan mengalami kegagalan.

“Inovasi-inovasi terbaru kita selalu mengajak guru-guru menggunakan sarana prasarana yang ada. Mulai menggunakan IT dan kemudahan seperti pembelajaran berbasis AI, Canva, dan lain-lain yang bisa memudahkan guru dan anak-anak mengakses pelajaran baik tatap muka maupun daring. Kita bisa berkomunikasi dengan guru, bahkan bisa memberi soal tanpa bertatap muka. Anak pun bisa menjawab dari rumah. Itu salah satu kesempatan di SD kita. Dulu kita sudah menggunakan slide dan video yang ditampilkan lewat infokus, itu selalu kita kembangkan,” terang Burhaji.

Burhaji menjelaskan guru-guru juga didorong terus mengembangkan diri melalui bakat karya, belajar sendiri secara otodidak. Ada juga melalui pelatihan daring karena sudah terbuka bagi guru yang mau mengikuti kegiatan. Misalnya program Kemendikbud ‘Jejak Digital Guru’, di situ guru bisa berprestasi dan belajar, lebih terbuka untuk menimba ilmu baik secara langsung maupun daring. Ia juga menjelaskan tentang kesulitan belajar siswa.

Baca Juga:  Boy Wijanarko Varianto Resmi Jabat Sekda Natuna

“Dalam menghadapi kesulitan belajar kita harus berhati-hati. Jika anak mengalami kesulitan belajar, kita selalu konsultasi dengan orang tuanya, dan mencari penyebabnya. Kesulitan belajar ini tidak serta-merta disebabkan oleh anak, bisa juga karena guru, lingkungan, atau orang tuanya. Kita telusuri semua, setelah ketemu penyebabnya kita cari solusinya. Jika memang tidak sanggup menyelesaikan sendiri, sekarang sudah ada PPA dan psikolog. Itulah langkah-langkah yang kita ambil ketika menemui anak-anak mendapat kesulitan belajar,” jelas Burhaji.

Terkait bullying, Burhaji menilai sekarang memang menjadi masaalah serius. Sekolahnya pernah mengalami hal tersebut. Solusi yang dilakukan adalah memberi arahan kepada anak-anak setiap waktu, bahkan mengingatkannya setiap masuk kelas. Bullying tidak boleh karena mengganggu psikis anak yang terkena bullying. Jika sering diingatkan tetapi masih terjadi, kita akan memanggil orang tuanya.

“Sekarang ini sudah ada dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak membuka layanan membimbing anak-anak mengalami bullying. Psikolog pun sudah ada di PPA Natuna. Kita akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait sehingga anak-anak tidak mendapatkan perlakuan bullying lagi. Kita juga kampanyekan bahwa bullying itu tidak boleh. Seperti yang terlihat di sekolah ini ada poster-poster tentang bullying sebagai salah satu upaya pencegahan. Anak-anak kadang menganggap bullying itu gurauan dengan teman-temannya. Bullying bukanlah hal baru, dari dulu sudah ada, hanya saja sekarang mental anak lebih rentan,” ungkapnya.

Burhaji memastikan penanganan bullying sudah terstruktur. Setiap ada anak mendapat perlakuan bullying, ditangani oleh wali kelasnya. Jika tidak selesai, ada Tim Penanganan dan Pencegahan Kekerasan (TPPK) yang terdiri dari kepala sekolah, komite, dan dua orang guru.

“Ketika ada bullying, kita panggil anaknya. Jika sekali melakukan, kita selesaikan di kelasnya. Dua kali juga di kelasnya, kalau tiga kali dipanggil ke ruang kepala sekolah dan diselesaikan oleh TPPK. Jika tidak selesai juga, kita panggil orang tuanya untuk diskusi. Kita bekerja sama dengan orang tua supaya anak menjadi lebih baik kedepannya,” tegas Burhaji.

Baca Juga:  Kepala Desa Mekar Jaya Mengucapkan Selamat Hari Jadi Kabupaten Natuna ke-26

Dalaam hal ini Burhaji berharap adanya kerjasama orang tua dan peran masyarakat. Tidak hanya berpusat pada orang tua atau guru saja, ada juga di masyarakat. Guru, masyarakat, dan wali murid punya peran penting dalam mengawasi anak-anak sebagai generasi penerus masa depan bangsa.

“Ketika anak ini baik bergaul di masyarakat, ketika terjadi hal-hal yang melanggar aturan kita peduli, karena ini anak kita bersama. Mereka akan menjadi tunas muda penerus bangsa. Ketika anak kita bagus, tentu bangsa atau negara ini akan lebih baik. Maka kami berupaya sinergi antara guru, orang tua, dan lingkungan masyarakat,” harapnya.

Sebelum mengakhiri, Burhaji sempat berpesan bahwa pengaruh media sosial juga perlu disikapi. Ia berharap orang tua lebih bijak mendampingi anak-anak dalam menggunakan media sosial, gadget atau perangkat elektronik, seiring kemajuan zaman dan perkebangan teknologi.

“Mari kita sama-sama berjuang mengarahkan anak agar lebih baik. Baik dari segi karakternya, keterampilannya, maupun intelektualnya. Pemerintah juga harus mendukung kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut. Sekarang ini banyak kegiatan guru bersama pemerintah seperti membuat program anak-anak agar tidak terlalu menggunakan gadget, dan harus di batasi,” tutupnya. (KP).


Laporan : Nisa


 

📊 Views: 57

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *