Di pasar, jumlah belanja dipangkas. Di dapur, porsi makanan dikurangi. Di rumah, kebutuhan anak-anak harus disesuaikan. Semua dilakukan demi tetap bertahan, bukan demi hidup lebih baik. Karena dalam situasi seperti sekarang, sekadar bertahan pun sudah menjadi tantangan berat.
Yang lebih menyakitkan, suara rakyat sering tak terdengar. Kebijakan dibuat dari balik meja, bukan dari suara warung yang sepi, atau petani yang gagal panen karena pupuk mahal. Negara seperti kehilangan kepekaan terhadap denyut hidup di akar rumput.
Apa gunanya pertumbuhan ekonomi jika rakyat tak ikut tumbuh?










