“SMPIT NIQ Natuna mulai menerapkan sistem ujian berbasis digital melalui aplikasi Learning Management System (LMS) sebagai langkah menghadirkan pendidikan modern, ramah lingkungan, dan meningkatkan kemampuan teknologi siswa.”
Kepala SMPIT NIQ Natuna, Muhammad Arif, M.Pd., memastikan seluruh persiapan ujian sekolah berbasis digital tahun 2026 telah berjalan maksimal. Melalui penerapan aplikasi Learning Management System (LMS), sekolah tersebut mulai meninggalkan sistem ujian konvensional menggunakan kertas dan beralih penuh ke teknologi digital.
NATUNA – Dunia pendidikan terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi. SMPIT NIQ Natuna mengambil langkah progresif dengan menerapkan sistem ujian sekolah berbasis digital sebagai bentuk transformasi dalam proses evaluasi pembelajaran siswa.
Kepala SMPIT NIQ Natuna, Muhammad Arif, M.Pd., mengatakan seluruh persiapan menghadapi pelaksanaan ujian tahun ini sudah dilakukan secara matang. Ujian dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 8 hingga 12 Juni 2026.
“Alhamdulillah persiapannya sudah matang. Untuk mekanisme ujian, SMPIT NIQ sudah berbasis digital. Anak-anak menjawab soal ujian melalui aplikasi LMS yang ada di SMPIT NIQ,” ujar Muhammad Arif kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai melalui WhatsApp, Jumat (5/6/2026).
Berbeda dengan ujian konvensional, pelaksanaan ujian di SMPIT NIQ kini tidak lagi menggunakan lembar jawaban berbahan kertas. Seluruh peserta ujian mengerjakan soal secara langsung melalui perangkat digital yang terhubung dengan aplikasi LMS sekolah.
Menurut Arif, sistem tersebut dibuat untuk memberikan kemudahan kepada peserta didik. Siswa cukup masuk menggunakan akun masing-masing pada aplikasi LMS, kemudian dapat mengakses dan menjawab seluruh soal yang tersedia.
“Siswa dapat melakukan login ke dalam aplikasi dan menjawab soal-soalnya di sana,” jelasnya.
Pada pelaksanaan ujian tahun ini, SMPIT NIQ menguji kemampuan siswa dalam 11 mata pelajaran. Seluruh mata pelajaran tersebut sudah disiapkan dalam sistem digital sehingga proses ujian diharapkan berjalan lebih efektif dan efisien.
Arif tidak menampik bahwa perubahan dari ujian manual menuju sistem digital membutuhkan proses adaptasi. Terlebih pada tahun sebelumnya, sistem ujian online menjadi pengalaman pertama bagi para siswa.
Namun, setelah melalui proses pembiasaan dan evaluasi, pihak sekolah optimistis pelaksanaan ujian berbasis digital tahun ini dapat berjalan lebih lancar.
“Tidak ada kendala yang berarti. Hanya memang tahun lalu pertama kali ujian diberlakukan secara online dan berbasis digital. Untuk tahun ini, insyaallah siswa sudah menguasainya,” ungkapnya.
Lebih jauh, penerapan ujian digital tersebut bukan hanya bertujuan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mengurangi penggunaan kertas.
Melalui sistem ini, SMPIT NIQ ingin membangun budaya pendidikan yang lebih ramah lingkungan sekaligus membekali siswa agar mampu menghadapi era digital.
Arif berharap penerapan ujian berbasis teknologi dapat memberikan dampak positif terhadap kemampuan siswa, baik dari sisi akademik maupun penguasaan teknologi.
“Semoga anak-anak dapat menjawab soal ujian dengan benar dan naik ke kelas berikutnya 100 persen. Kemudian diberlakukannya ujian berbasis digital ini sebagai upaya meminimalisir penggunaan kertas serta membuat siswa-siswi terbiasa dengan digital dan melek teknologi,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Dini










