EKONOMI PERBATASANKEUANGANNATUNASUARA RAKYATUMKM PERBATASAN

Somay Bandung Natuna Bertahan 15 Tahun, Terjepit Harga Bahan Baku dan Lesunya Ekonomi

×

Somay Bandung Natuna Bertahan 15 Tahun, Terjepit Harga Bahan Baku dan Lesunya Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Somay Bandung milik Bang Jek telah melayani masyarakat Kabupaten Natuna selama sekitar 15 tahun. Meski menghadapi kenaikan harga bahan baku dan lesunya ekonomi daerah, usaha kuliner ini tetap bertahan dengan mempertahankan kualitas serta harga yang terjangkau bagi pelanggan.

“Di balik eksistensinya selama 15 tahun di Kabupaten Natuna, Somay Bandung kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Lonjakan harga bahan baku, melemahnya daya beli masyarakat, hingga perlambatan perputaran ekonomi daerah membuat keuntungan pedagang semakin menipis.”

Pemilik Somay Bandung, Bang Jek, mengatakan usaha yang telah dirintisnya sejak menetap di Ranai pada 2007 masih mampu bertahan hingga sekarang. Namun, kondisi ekonomi yang melambat, kenaikan harga bahan baku, dan bergantungnya perputaran uang masyarakat terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) membuat usaha kuliner yang dikelolanya semakin berat dijalankan.

NATUNA — Menjalankan usaha kuliner selama belasan tahun tentu bukan perkara mudah. Berbagai perubahan ekonomi telah dirasakan Bang Jek, pemilik Somay Bandung, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Ranai pada 2007, ketika kawasan Pantai Piwang masih berupa timbunan tanah merah.

Sebelum memiliki usaha sendiri, Bang Jek mengaku sempat bekerja dengan orang lain karena belum memiliki modal. Setelah berhasil mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil kerjanya, ia akhirnya memberanikan diri membuka usaha Somay Bandung secara mandiri yang kini telah berjalan sekitar delapan tahun.

“Dulu saya ikut bekerja dengan orang lain karena belum punya modal. Setelah ada sedikit modal, baru berani membuka usaha sendiri. Alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan. Usaha ini juga sudah memiliki izin usaha (SKU) dan label dari Dinas Kesehatan,” ujar Bang Jek kepada koranperbatasan.com, Jumat (3/7/2026).

Saat ini Bang Jek mengelola empat unit gerobak. Tiga di antaranya beroperasi secara keliling di sejumlah jalur utama Kota Ranai, seperti kawasan Jalan Pramuka dan sekitar Kejaksaan, sedangkan satu gerobak digunakan untuk berjualan di lokasi tetap. Ia juga masih memiliki satu gerobak lain yang belum dioperasikan karena masih menunggu perbaikan dan tenaga penjual.

Baca Juga:  Upacara Peringatan HUT ke-80 RI Digelar di Pantai Piwang Natuna

Untuk mengembangkan usahanya, Bang Jek menerapkan sistem bagi hasil kepada para karyawan. Selain memperoleh persentase dari hasil penjualan, seluruh kebutuhan pokok pekerja, mulai dari tempat tinggal, makan, air minum, hingga biaya perawatan gerobak ditanggung oleh dirinya.

“Mereka hanya fokus berjualan. Tempat tinggal, makan, galon air, sampai kalau ban gerobak bocor atau rusak semua saya tanggung. Bahkan kalau ada karyawan baru dari Jawa, tiket kapal dan uang jalan juga kami siapkan,” jelasnya.

Selain berjualan menggunakan gerobak keliling, Bang Jek juga membuka kantin di salah satu SMP di Ranai dengan biaya sewa sebesar Rp300 ribu per bulan. Namun, menurutnya, pendapatan dari kantin sekolah mengalami penurunan yang cukup drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Jika dahulu pendapatan saat jam istirahat sekolah bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari, kini memperoleh omzet sekitar Rp150 ribu saja sudah menjadi tantangan tersendiri.

“Dulu waktu jam istirahat sekolah bisa dapat Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Sekarang dapat Rp150 ribu saja susah. Anak-anak sekarang lebih memilih beli nasi, jadi kami sering hanya melihat saja,” katanya.

Menurut Bang Jek, kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya harga berbagai bahan baku yang digunakan untuk membuat somay.

Ia menyebut harga telur kini mencapai sekitar Rp65 ribu per papan, sedangkan harga tepung kanji telah melonjak hingga sekitar Rp360 ribu per sak. Meski biaya produksi meningkat, ia tetap mempertahankan harga satu porsi somay lengkap sebesar Rp15 ribu agar pelanggan tidak beralih.

Bahkan, anak-anak sekolah yang hanya membawa uang Rp2 ribu hingga Rp5 ribu tetap dilayani tanpa membedakan porsi pelayanan.

“Untungnya memang sangat tipis sekarang. Tapi kami tetap melayani semua pembeli, termasuk anak-anak yang hanya membeli Rp2.000 atau Rp3.000. Namanya juga berdagang,” ujarnya.

Baca Juga:  Material Tak Lengkap Berbulan-bulan, Rumah Bantuan Piabung Anambas Tersendat

Bang Jek menilai usaha kecil di Natuna sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi daerah. Menurutnya, ketika perputaran uang dari sektor pemerintahan melambat, dampaknya langsung dirasakan para pedagang.

“Kami hidup dari perputaran ekonomi masyarakat. Kalau gaji atau tunjangan pegawai daerah terlambat, otomatis uang yang beredar juga berkurang. Pedagang kecil seperti kami langsung merasakan dampaknya,” tuturnya.

Ia mengaku kondisi usaha saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Jika dahulu masih mampu menyisihkan tabungan dalam jumlah besar, kini keuntungan usaha sebagian besar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memutar kembali modal usaha.

Di sisi lain, ia juga masih harus menanggung biaya operasional, termasuk sewa ruko sebesar Rp1,5 juta per bulan, biaya kantin sekolah, serta berbagai kebutuhan usaha lainnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Bang Jek tetap memilih bertahan dan optimistis menjalankan usahanya di Kabupaten Natuna.

“Harapan saya semoga ekonomi Natuna kembali stabil, harga-harga bahan pokok bisa lebih terjangkau, dan usaha pedagang kecil seperti kami kembali bergairah. Walaupun banyak tantangan, saya tetap menikmati mencari rezeki di Ranai,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 38

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *