NATUNA – Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Riau-Kepulauan Riau (Kepri), Wiriyanto Aswir, secara resmi melantik pengurus HMI Cabang Natuna periode 2025-2026 di bawah kepemimpinan Fergiawan.
Dalam prosesi yang digelar di Gerai Sisi Basisir, Rabu 26 November 2025, Wiriyanto Aswir atau yang lebih akrab disapa Riyan menyampaikan orasi kebangsaan yang menyorot tajam turbulensi kebijakan publik, urgensi reorientasi gerakan mahasiswa, hingga ultimatum bagi birokrasi yang anti-dialog.
Dalam kata sambutannya, Riyan menegaskan bahwa kehadirannya di Natuna bukan sekadar ritus organisasi, melainkan sebuah pilgrimage ideologis yang telah dinantikannya nantikan sejak masa pengkaderan Latihan Kader I (LK-1) tahun 2010.
Riyan menyebut Natuna sebagai “titik balik” energi perjuangan di tengah stagnasi dan tantangan berat yang melanda wilayah Riau Daratan.
Riyan membuka diskursus dengan membedah realitas sosio-politik yang menghimpit Provinsi Riau, sorotanya mengenai fenomena paradoksal terkait Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang dinilai mencederai rasa keadilan distributif daerah. Kebijakan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan peningkatan 1.000 sumber minyak baru, menurutnya, justru berbanding terbalik dengan penerimaan daerah yang anjlok drastis.
”Ini adalah sebuah anomali. Riau menghadapi hantaman defisit anggaran pasca-pandemi dan kebijakan pusat yang tidak populer, termasuk relokasi paksa 7.000 warga akibat penertiban kawasan hutan. Situasi ini menciptakan eskalasi ketegangan di kalangan aktivis mahasiswa di Riau,” ujar Riyan.

Riyan menekankan bahwa kader HMI tidak boleh terjebak dalam dunia yang penuh angan-angan tinggi dan berbalut kehormatan, namun terisolasi dari realitas masyarakat. Kader HMI dituntut untuk memiliki kepekaan tajam atau sense of crisis terhadap ketimpangan struktural tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Riyan memberikan instruksi dan arahan tegas kepada seluruh cabang di wilayah Riau-Kepri untuk melakukan “tobat seremonial”. Riyan sangat mengkritik keras budaya elitisme dalam organisasi yang kerap menghabiskan energi pada kegiatan seremonial di hotel mewah tanpa dampak konkret.
”Sudahi kegiatan yang bersifat hura-hura seremonial yang tidak menyentuh substansi grassroot. Kita harus menggeser paradigma dari elitisme menuju militansi kader yang membumi. Fokuslah pada isu lingkungan dan advokasi kerakyatan,” tegasnya.
Menurutnya, praksis gerakan HMI harus kembali pada khittah perjuangan, yakni keberpihakan pada kaum mustadh’afin dan kelestarian ekologis.
Poin paling tajam dalam kata sambutan Riyan tertuju pada pola komunikasi antara pemerintah dan mahasiswa. Riyan menitipkan kepengurusan HMI Cabang Natuna kepada Pemerintah Kabupaten Natuna, namun dengan catatan kritis yang tidak bisa ditawar.
Riyan menegaskan posisi HMI sebagai mitra kritis atau critical partner bagi pemerintah. Pihaknya memberikan peringatan keras bahwa sumbatan komunikasi birokrasi akan dibalas dengan gerakan ekstra-parlementer.
”Kami memposisikan HMI sebagai jembatan dialektika antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Namun, jika pintu dialog ditutup dan surat audiensi kami diabaikan, maka jangan salahkan jika surat pemberitahuan aksi yang akan berbicara melalui Polda atau Polres,” terang Riyan tanpa bertele-tele.
Riyan menekankan bahwa HMI tidak akan menjadi peminta-minta anggaran, melainkan penuntut keadilan gagasan. “Jangan sampai ada unjuk rasa yang tidak perlu hanya karena arogansi birokrasi yang enggan berdialog,” imbuhnya.
Menutup kata sambutan, Riyan menyampaikan visi strategis organisasi untuk memekarkan Badko Riau dan Kepri pada Pleno III PB HMI mendatang. Hal ini dinilai sebagai keniscayaan sejarah demi efektivitas perkaderan, mengingat tantangan geografis dan geopolitik wilayah kepulauan yang khas.
Sebagai bentuk solidaritas organik, Riyan juga menyatakan komitmennya untuk membawa Ketua Umum HMI Cabang Natuna menuju Sekolah Pimpinan (SEPIM) di tingkat pusat.
“Ini adalah prioritas. Jika Ketua Cabang Natuna tidak berangkat, maka saya sebagai Ketua Badko juga tidak akan berangkat. Ini adalah bentuk kolektif kolegial yang nyata,” pungkasnya.
Pelantikan ini turut dihadiri oleh perwakilan Bupati Natuna yakni Asisten I Khaidir, Ketua Majelis Daerah KAHMI Natuna sekaligus Ketua I DPRD Kabupaten Natuna Daeng Ganda, yang disebut-sebut oleh Wiriyanto Aswir sebagai sosok senior dengan rekam jejak perjuangan yang menjadi inspirasi bagi kader-kader muda di tapal batas utara dari republik ini. (KP).
Laporan Dhitto










