KRISIS ekonomi bukan hanya persoalan angka-angka makro. Di balik data inflasi dan laporan pertumbuhan, tersembunyi kenyataan yang lebih dekat: dompet rakyat yang makin tipis. Fenomena ini tak hanya melanda kota besar, tetapi juga terasa hingga ke pelosok dan wilayah perbatasan.
Yang mengkhawatirkan, penyebabnya tidak lagi hanya karena harga kebutuhan pokok yang melonjak, tetapi juga konsumsi yang tidak terkendali. Masyarakat banyak yang belum memiliki kedisiplinan dalam mengelola keuangan, terbiasa mengikuti pola konsumsi instan, impulsif, dan kadang tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka.
Promo, diskon, dan tren digital menjadi jebakan baru. Tidak sedikit keluarga yang merasa “berhemat” saat membeli produk diskon, padahal membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Dalam satu bulan, kebocoran keuangan ini bisa menguras 10-30% dari anggaran rumah tangga.
Literasi keuangan masih lemah. Banyak yang tidak terbiasa mencatat pengeluaran, tidak memiliki pos dana darurat, dan tidak tahu prioritas kebutuhan. Masyarakat kerap mencampuradukkan keinginan sebagai kebutuhan.
Ironisnya, media sosial memperparah keadaan. Algoritma terus menampilkan iklan yang menggoda, membentuk ilusi bahwa memiliki barang tertentu adalah indikator kesuksesan hidup. Gaya hidup yang terlihat ‘normal’ di layar bisa menjadi bencana finansial bagi banyak orang.
Di sisi lain, tekanan hidup pun meningkat. Harga sembako naik, tarif transportasi bertambah, cicilan menumpuk, sementara pendapatan cenderung stagnan. Kombinasi dari tekanan eksternal dan keputusan konsumtif menjadi pemicu utama krisis dompet rakyat hari ini.
Apa solusinya? Perlu ada kesadaran kolektif. Pemerintah bisa memperluas program literasi keuangan yang berbasis komunitas, sekolah bisa mulai mengajarkan konsep dasar pengelolaan uang sejak dini, dan media seperti Koran Perbatasan memiliki peran strategis mengedukasi publik.
Namun, kuncinya tetap pada individu. Saatnya meninjau ulang pola belanja, mulai mencatat pengeluaran harian, dan berani berkata tidak pada konsumsi berlebihan. Kunci ketahanan ekonomi keluarga hari ini bukan seberapa besar pendapatan, tapi seberapa disiplin dalam mengelola pengeluaran.
Krisis dompet rakyat bukan lagi potensi, tapi kenyataan. Dan mengendalikannya harus dimulai dari cara kita memperlakukan setiap lembar rupiah.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










