GAJI yang tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan lagi persoalan individu, tapi fenomena kolektif yang dialami jutaan keluarga Indonesia, terutama di wilayah perbatasan dan pedesaan. Harga-harga melonjak, sementara pendapatan tetap, bahkan banyak yang berkurang. Dalam situasi ini, literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak keluarga masih mengelola keuangan secara spontan, tanpa rencana pengeluaran, tanpa catatan keuangan, bahkan tanpa prioritas kebutuhan. Akibatnya, gaji bulanan yang terbatas sering kali habis dalam waktu singkat tanpa kejelasan arah. Situasi ini memperparah beban saat muncul kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah, kesehatan, atau kebutuhan darurat lainnya.
Di sinilah peran literasi keuangan menjadi sangat penting. Literasi keuangan bukan hanya tentang memahami istilah-istilah ekonomi, tetapi tentang kemampuan dasar untuk mengatur pemasukan, menyesuaikan pengeluaran, menabung, dan menghindari utang konsumtif. Dalam konteks rumah tangga, kemampuan ini adalah bentuk pertahanan pertama menghadapi tekanan ekonomi.
Masalahnya, banyak masyarakat kita terutama di daerah, tidak pernah mendapat akses pendidikan keuangan yang memadai. Literasi keuangan tidak diajarkan di sekolah, tidak disosialisasikan dalam komunitas, dan sering kali dianggap urusan pribadi. Padahal, jika dilatih sejak dini, keluarga bisa mengembangkan pola hidup hemat, terencana, dan berdaya.
Solusinya? Pemerintah daerah dan lembaga keuangan perlu turun ke akar rumput. Program literasi keuangan harus dibuat sederhana, aplikatif, dan sesuai konteks masyarakat lokal. Misalnya, pelatihan membuat anggaran bulanan, mengenali prioritas kebutuhan, hingga cara menyisihkan uang walau kecil. Bahkan pemanfaatan koperasi lokal bisa digerakkan kembali sebagai sarana belajar bersama.
Di sisi lain, media massa seperti Koran Perbatasan juga memegang peran penting. Melalui rubrik Keuangan, edukasi ringan tentang pengelolaan keuangan bisa disampaikan dalam bahasa yang membumi. Ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang membangun ketahanan ekonomi dari rumah ke rumah.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap godaan budaya konsumtif. Diskon, cicilan tanpa DP, aplikasi pinjaman cepat, semuanya mendorong masyarakat untuk berutang demi konsumsi yang tidak penting. Di sinilah literasi keuangan juga berperan sebagai benteng mental: mengajarkan disiplin, kontrol diri, dan pemahaman tentang risiko finansial.
Perlu juga ditegaskan bahwa literasi keuangan bukan pengganti kebijakan ekonomi, tetapi pelengkap. Pemerintah tetap punya kewajiban menstabilkan harga, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan upah. Namun di tengah tantangan struktural yang belum sepenuhnya teratasi, kemampuan rumah tangga dalam mengelola keuangannya sendiri adalah kunci bertahan.
Gaji yang kecil bukan akhir dari segalanya. Dengan perencanaan, kesadaran, dan keterampilan keuangan dasar, keluarga tetap bisa bertahan bahkan perlahan membangun masa depan. Literasi keuangan bukan sekadar ilmu ekonomi, tapi bentuk nyata kemandirian dalam menghadapi kerasnya realita.
Oleh: Dhitto Adhitya, Redaksi Koran Perbatasan










