Kabut asap yang dinilai semakin tebal membuat SMPN 4 Bunguran Timur mempertanyakan pengaktifan kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM), sementara pasokan air PDAM di sekolah juga tidak mengalir.
NATUNA – Plt. Kepala SMPN 4 Bunguran Timur, Zulfikar, S.Pd., mengungkapkan kondisi kabut asap di wilayah Bunguran Timur pada Senin (14/9/2026) justru lebih tebal dibandingkan saat sekolah menerapkan Belajar dari Rumah (BDR) selama sepekan sebelumnya. Ia mengaku khawatir terhadap kesehatan siswa dan berharap BDR kembali diberlakukan selama kondisi kabut asap masih tebal.
SMPN 4 Bunguran Timur kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Senin (14/9/2026) setelah selama sepekan menerapkan Belajar dari Rumah (BDR) akibat dampak kabut asap.
Pengaktifan kembali PTM tersebut dilakukan berdasarkan Surat Edaran Nomor 400.3.1/305/DISDIKBUD-UP3/IX/2026 tentang pengaktifan kembali pembelajaran tatap muka dan penghentian belajar dari rumah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Natuna akibat dampak bencana kabut asap.
Namun, kondisi di lapangan justru membuat pihak sekolah mempertanyakan kebijakan tersebut. Plt. Kepala SMPN 4 Bunguran Timur, Zulfikar, S.Pd., mengatakan kabut asap yang terlihat pada Senin pagi lebih tebal dibandingkan kondisi ketika BDR diberlakukan.
“Kalau saya melihat sendiri, kondisi kabut asap ini jauh lebih tebal daripada sepekan yang lalu saat BDR diberlakukan. Yang saya herankan, seminggu yang lalu di Bunguran Timur ini belum terlalu setebal ini, tetapi diberlakukan BDR. Nah, sekarang asapnya semakin tebal malah diberlakukan tatap muka,” ujar Zulfikar.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pihak sekolah karena siswa harus beraktivitas di lingkungan sekolah dalam kondisi udara yang dipenuhi kabut asap.
“Kita agak khawatir terhadap anak-anak yang beraktivitas di sekolah,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah meniadakan upacara bendera yang biasanya dilaksanakan setiap Senin. Kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi aktivitas siswa di luar ruangan.
“Untuk pagi ini, karena hari Senin, kita tidak melaksanakan upacara. Kita mengurangi kegiatan di luar kelas atau luar ruangan. Kita juga menyarankan anak-anak supaya membawa maskernya dari rumah masing-masing demi kesehatan,” jelasnya.
Berharap BDR Kembali Diberlakukan
Zulfikar berharap kebijakan BDR dapat kembali diberlakukan apabila kondisi kabut asap masih tebal.
Ia menilai pembelajaran dari rumah menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko siswa terpapar kabut asap selama berada di lingkungan sekolah.
“Kalau saya berharap BDR ini masih berlanjut karena kita mengingat anak-anak itu ramai. Nanti kalau ada masalah di sekolah, mereka mendapat penyakit atau segala macam, pasti sekolah yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Karena itu, menurut Zulfikar, dengan kondisi asap yang masih tebal, seharusnya BDR dapat dipertimbangkan kembali.
“Jadi, kita berharap BDR ini berlanjut. Harusnya dengan kondisi asap yang masih tebal seperti ini, pembelajaran dari rumah tetap diberlakukan,” tegasnya.
Terkait jam pulang sekolah, Zulfikar mengatakan pihaknya masih melihat perkembangan kondisi di lapangan. Dalam kondisi normal, siswa biasanya pulang pada pukul 13.35 WIB.
Air PDAM Tidak Mengalir
Selain persoalan kabut asap, aktivitas sekolah juga menghadapi kendala lain, yakni pasokan air bersih.
Zulfikar mengatakan air PDAM di sekolah tidak mengalir. Kondisi tersebut berdampak terhadap kegiatan ibadah siswa yang biasanya dilaksanakan secara berjamaah di lingkungan sekolah.
“Saya juga singgung masalah air yang kemarin. Sekarang musim kekeringan, kemudian air PDAM di sekolah tidak berjalan,” ungkapnya.
Menurutnya, sebelum pasokan air mengalami kendala, pihak sekolah rutin melaksanakan salat Zuhur berjamaah di aula. Namun, karena keterbatasan air, kegiatan tersebut untuk sementara ditiadakan.
“Biasanya kita melaksanakan salat Zuhur berjamaah di aula. Namun, sekarang karena keterbatasan air dan air tidak mengalir, kita tiadakan salat berjamaah di sekolah,” jelasnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, pihak sekolah berencana memulangkan siswa lebih awal agar mereka dapat melaksanakan salat Zuhur di rumah.
“Jadi, kita pulang lebih awal supaya mereka bisa melaksanakan salat Zuhur di rumah,” katanya.
Fasilitas Sekolah Masih Minim
Tidak hanya persoalan kabut asap dan air bersih, SMPN 4 Bunguran Timur juga masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.
Zulfikar mengatakan sekolah yang masih tergolong baru tersebut belum memiliki fasilitas penunjang pembelajaran secara lengkap.
“Kalau berbicara masalah fasilitas, di sekolah ini memang sangat-sangat minim karena sekolahnya masih baru. Jadi, belum punya banyak fasilitas,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi tersebut ketika sekolah menerima pemateri dari luar dalam kegiatan Pajak Bertutur yang dilaksanakan oleh KP2KP Ranai.
Dalam kegiatan tersebut, pemateri dari luar harus membawa sendiri perangkat infokus karena sekolah belum memiliki fasilitas tersebut.
“Kalaupun ada pemateri dari luar, misalnya kemarin dari kantor KP2KP Ranai atau kantor pajak dalam kegiatan Pajak Bertutur, mereka membawa infokus sendiri. Saya sarankan mereka membawa infokus karena sekolah belum punya,” jelas Zulfikar.
Menurutnya, keterbatasan tersebut merupakan bagian dari kondisi sekolah yang masih baru sehingga berbagai kebutuhan sarana dan prasarana belum sepenuhnya tersedia.
“Namanya juga sekolah baru, jadi barang-barang atau fasilitasnya masih belum lengkap,” pungkasnya.
Laporan: Dini










