Ancaman Terhadap Populasi Paus di Dunia

oleh -592 views
Muhammad-Aldi-Pradana

Penulis : Muhammad Aldi Pradana

Jurusan : Budidaya Perairan

Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan


Nim : 190254243012


PAUS adalah kelompok mamalia yang hidup di lautan. Sebutan “Paus” diberikan pada anggota bangsa Cetacea yang berukuran besar. Paus tidak termasuk kedalam kelompok ikan. Karena paus mempunyai ciri-ciri yaitu, paus bernapas menggunakan paru-paru; mempunya rambut walaupun hanya sedikit dan kebanyakan pada paus dewasa; merupakan hewan berdarah panas; dan paus mempunyai kelenjar susu; serta paus memiliki jantung dengan empat ruang.

Paus juga memiliki nilai jual yang tinggi. Sehingga paus sering diburu dan dibunuh untuk diambil lemak dijadikan sebagai bahan pembuatan lilin, produk tekstil, dan pelumas mesin. Tulang dan gigi dijadikan sebagai barang-barang-barang rumah tangga seperti piring,  korset, dan hiasan rumah. Sedangkan minyaknya digunakan sebagai sumber bahan bakar penerangan, kelebihan minyak paus ialah saat digunakan sebagai bahan bakar tidak menimbulkan bau dan asap.



Spesies paus yang sering diburu untuk diambil minyaknya yaitu paus sperma (Catodon Macrocephalus). Zat ini yang pada masa itu dijadikan sebagai pembuatan lilin. Nasib yang mengenaskan juga dialami oleh paus abu-abu (Eschrichtius robustus) di Atlantik Utara yang telah dinyatakan punah sejak abad ke-18.

Menurut WWF (World Wide Fund for Nature) sekitar 90% Paus Sikat Atlantik Utara terbunuh oleh aktivitas manusia yang diakibatkan oleh tabrakan kapal. Organisasi ini telah menyerukan larangan pelayaran dan penangkapan ikan di daerah tertentu. Polusi suara menjadi salah satu ancaman bagi keberadaan paus, karena kapal besar dan perahu bermotor menghasilkan suara yang sangat bising sehingga mengganggu bagi paus.

Selain polusi suara, penurunan populasi paus juga dipengaruhi dengan adanya perburuan ilegal yang dilakukan oleh beberapa negara baik sebagai ajang perburuan tahunan yaitu dilakukan negara Islandia yang pemerintahnya memperbolehkan masyarakatnya menangkap paus tetapi dengan kuota tertentu.

Walaupun demikian hal tersebut sangat mengancam bagi populasi paus di dunia. Ada juga negara yang beralasan penangkapan paus yang dilakukannnya semata-mata untuk penelitian, negara itu adalah Jepang. Selama bertahun-tahun Jepang berburu paus dengan alasan “untuk penelitian”. Tapi Jepang juga menjual daging paus, langkah yang di kecam para pegiat lingkungan.

Sejak tahun 1987, Jepang telah membunuh sekitar 200 hingga 1.200 ekor ikan paus setiap tahunnya di bawah pengecualian pelarangan untuk tujuan penelitian. Pengamat mengatakan itu hanya alasan bagi jepang agar dapat memburu paus untuk keperluan konsumsi, karena daging paus yang dibunuh untuk kepentingan penelitian itu biasanya berakhir dijual belikan.

Pada tahun 2018, untuk terakhir kalinya, Jepang mencoba meyakinkan IWC untuk mengizinkan perburuan paus di bawah aturan kuota yang berkelanjutan. Namun, gagal. Oleh sebab itu,  Jepang lantas keluar dar keanggotaan organisasi tersebut, efektif pada bulan Juli.

Dengan demikian, sebagai langkah untuk meningkatkan populasi paus di dunia, hendaklah kita juga menyerukan bahwa perburuan paus itu sangat buruk. Baik bagi kelangsungan hidup paus maupun bagi keseimbangan ekosistem di laut. (KP).


Kiriman Pembaca koranperbatasan.com Senin, 16 Desember 2019


 


Memuat...