“Keterbatasan fasilitas dan akses permodalan menjadi hambatan serius bagi pengelolaan bank sampah di Natuna, meski kontribusinya terhadap lingkungan dan ekonomi masyarakat terus berjalan.”
Pengelola bank sampah binaan PT Pegadaian di Kota Tua Penagi, Kabupaten Natuna, Agus Sutrisno, mengungkapkan kebutuhan mendesak akan dukungan fasilitas dan akses permodalan dari pemerintah daerah guna menunjang aktivitas pengelolaan sampah yang telah ia jalankan sejak tahun 2008.
NATUNA – Dedikasi panjang Agus Sutrisno dalam mengelola bank sampah di Kota Tua Penagi belum sepenuhnya diimbangi dengan dukungan fasilitas yang memadai. Selama hampir dua dekade, ia konsisten memberdayakan masyarakat melalui pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna.
Namun, di balik aktivitas tersebut, Agus menghadapi sejumlah keterbatasan yang dinilai cukup menghambat pengembangan usahanya. Ia menyebutkan kebutuhan mendesak seperti mesin penghancur sampah, mesin jahit, hingga alat transportasi berupa tosa untuk mempermudah pengangkutan sampah di lingkungan sekitar.
Menurutnya, fasilitas tersebut sangat penting untuk meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas jangkauan pengelolaan sampah di wilayah Natuna. Tanpa dukungan alat, proses pengolahan masih dilakukan secara manual dan terbatas.
Selain itu, kendala juga muncul dari sisi permodalan. Agus mengaku telah mengetahui adanya program bantuan dari Bank Riau Kepri bagi pelaku usaha, namun skema pinjaman yang ditawarkan dinilai masih cukup berat untuk dijangkau.
“Kalau harus meminjam, terasa berat. Penghasilan kami hanya cukup untuk makan dan memutar usaha seadanya,” ungkap Agus kepada Koran Perbatasan, Rabu (25/03/2026), di kediamannya di Penagi, Kabupaten Natuna.
Ia menjelaskan kondisi keuangan usaha saat ini belum memungkinkan untuk menanggung beban cicilan pinjaman, sehingga bantuan dalam bentuk hibah atau dukungan langsung dinilai lebih tepat.
Meski demikian, Agus tetap menjalankan aktivitasnya dengan penuh komitmen. Selain mengurangi volume sampah, kegiatan bank sampah juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat melalui produk daur ulang.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pelaku usaha sekaligus pegiat lingkungan seperti dirinya. Menurutnya, peran bank sampah sangat strategis dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat.
Agus juga mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah. Sampah yang telah dipilah dapat disetorkan ke bank sampah dan bahkan dikonversi menjadi tabungan bernilai, termasuk emas atau bentuk sedekah sosial.
Ke depan, ia berharap program bank sampah dapat diperluas hingga ke seluruh desa dan kelurahan di Natuna, sehingga penanganan sampah dapat dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.
“Ini bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kita semua. Kalau lingkungan terjaga, daerah juga akan mendapat nama baik,” tutupnya. (KP)
Laporan: Awan










