EKONOMI PERBATASANKABAR PERBATASANKEUANGANNATUNASUARA RAKYATUMKM PERBATASAN

Cen Sui Lan dan Ekonomi Natuna, UMKM Sebut Kondisi Tidak Baik

×

Cen Sui Lan dan Ekonomi Natuna, UMKM Sebut Kondisi Tidak Baik

Sebarkan artikel ini
Kolase potret Bupati Natuna Cen Sui Lan dan pelaku UMKM di Natuna, yang menggambarkan kontras antara komitmen penguatan ekonomi daerah dengan realitas pelaku usaha yang masih menghadapi penurunan daya beli dan tingginya biaya distribusi.

“Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Natuna menyebut kondisi ekonomi masyarakat saat ini tidak lagi sekuat sebelumnya, meskipun pemerintah daerah mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.”

Bupati Natuna Cen Sui Lan sebelumnya menyampaikan bahwa perekonomian daerah pada tahun 2025 tumbuh sebesar 10,49 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jika sektor minyak dan gas (migas) dimasukkan dalam perhitungan angka yang tampak menunjukkan geliat ekonomi yang kuat di tingkat makro. Namun, kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha kecil di lapangan, seperti pertumbuhan yang tinggi di atas kertas, tetapi belum merata di tingkat masyarakat.

NATUNA – Di berbagai sektor usaha, pelaku UMKM mulai menyuarakan kondisi ekonomi yang dinilai melemah sejak tahun 2025, dengan denyut usaha yang terasa tidak lagi sekuat sebelumnya.

Sri Lestari, pemilik usaha bakso dan mie ayam di Ranai, mengaku omzet usahanya mengalami penurunan drastis. “Sekarang merosot, jauh. Omzet sekarang separuhnya saja tidak ada,” ujarnya saat ditemui di warungnya.

Menurutnya, sebelumnya omzet usaha bisa mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per hari. “Dulu masih bisa 5 jutaan per hari, kadang 6 juta. Sekarang jauh sekali turunnya,” katanya.

Ia menyebut kenaikan harga bahan pokok tidak diimbangi dengan kemampuan menaikkan harga jual, karena daya beli masyarakat menurun seperti harga yang terus naik, sementara kemampuan membeli justru melemah. “Sembako naik terus, tapi harga jual tidak bisa naik. Kalau naik, pembeli tidak ada,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Efendi, pemilik Toko Angkasatex di Ranai. “Ramadan tahun ini jauh menurun dibanding sebelumnya. Mungkin karena pendapatan masyarakat juga turun,” katanya, menggambarkan suasana perdagangan yang tidak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Natuna Lesu, Pedagang Bakso: Omzet Anjlok Sejak Pertengahan 2025

Selain daya beli, persoalan distribusi juga menjadi hambatan bagi pelaku usaha. Wasli, pelaku usaha ikan asap, menyebut tingginya biaya pengiriman membuat pemasaran keluar daerah menjadi sulit seperti peluang pasar yang terbuka, namun terhalang jarak dan biaya.

“Kalau kirim ke Medan saja bisa Rp100 ribu per kilogram. Lebih mahal ongkir daripada harga barang,” ujarnya.

Sementara itu, Dewi Aminah, pemilik toko di Ranai, mengaku keterlambatan pengiriman barang dari luar daerah membuat perputaran modal usaha terganggu. “Barang bisa sampai hampir satu bulan,” katanya, membuat perputaran usaha berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Di sisi lain, pemerintah daerah telah menyiapkan program pembiayaan UMKM melalui kerja sama dengan perbankan. Namun berdasarkan data di lapangan, program tersebut belum dimanfaatkan secara optimal seperti peluang yang tersedia, tetapi belum sepenuhnya berani dimanfaatkan oleh pelaku usaha.

Dari program pinjaman usaha yang disediakan, tercatat baru sekitar 20 pelaku UMKM yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Selain itu, struktur anggaran daerah juga menjadi sorotan. Data Rencana Umum Pengadaan (RUP) tahun 2026 menunjukkan bahwa anggaran untuk sektor yang berkaitan langsung dengan UMKM masih relatif kecil.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperindagkopum) tercatat hanya mengelola sekitar Rp5,99 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan dinas lain seperti PUPR yang mencapai Rp68 miliar menunjukkan adanya perbedaan prioritas dalam pengalokasian anggaran pembangunan.

Sejumlah pelaku usaha menilai persoalan utama bukan hanya pada UMKM, tetapi pada lemahnya perputaran ekonomi masyarakat seperti roda ekonomi yang belum berputar optimal di tingkat bawah.

Sri Lestari menilai pemerintah perlu mendorong masuknya investasi untuk membuka lapangan pekerjaan. “Kalau ingin maju, harus ada investor masuk. Harus ada pabrik supaya ada lapangan kerja,” ujarnya.

Baca Juga:  Istimewa, Syukuran Aula Mekar Jaya Mangrove Park Dihadiri Wakil Bupati Natuna

Menurutnya, banyak lulusan sekolah di Natuna yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. “Setiap tahun banyak yang lulus, tapi tidak semua bisa kuliah. Mereka butuh kerja,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan pemerhati kebijakan di Natuna, Aripin. Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya membaik. “Kalau ekonomi bagus, pinjaman itu pasti sudah habis dimanfaatkan. Tapi kenyataannya belum,” ujarnya.

Kata Aripin, pertumbuhan ekonomi yang tinggi lebih dipengaruhi sektor migas, sementara sektor riil masyarakat masih lemah seperti dua wajah ekonomi yang berbeda antara angka dan kenyataan. “Menurut saya ekonomi Natuna saat ini secara keseluruhan tidak baik-baik seperti yang diucapkan,” ujarnya.

Dengan berbagai persoalan yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari penurunan omzet, mahalnya distribusi, hingga terbatasnya lapangan pekerjaan, kondisi ekonomi di tingkat masyarakat menunjukkan dinamika yang tidak selalu sejalan dengan data makro.

Hal tersebut menjadikan komitmen Bupati Natuna Cen Sui Lan dalam memperkuat sektor UMKM dan ekonomi kerakyatan semakin menjadi perhatian seperti harapan besar yang kini diuji oleh realitas di lapangan, terutama dalam menjawab tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha kecil. (KP)


Laporan: Red


 

📊 Views: 48

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *