EKONOMI PERBATASANKEUANGANNATUNASUARA RAKYATUMKM PERBATASAN

Ekonomi Natuna Lesu, Omset Gorengan Pontianak dan Raja Parfum Anjlok Drastis

×

Ekonomi Natuna Lesu, Omset Gorengan Pontianak dan Raja Parfum Anjlok Drastis

Sebarkan artikel ini
Tampak depan gerai Raja Parfume Ranai yang berdampingan dengan Gorengan Pontianak milik Azan di Ranai, Kabupaten Natuna. Dua usaha yang telah dirintis selama bertahun-tahun ini turut merasakan dampak melemahnya perekonomian, sehingga omzet penjualan gorengan maupun parfum mengalami penurunan drastis akibat menurunnya daya beli masyarakat.

“Lesunya perputaran ekonomi di Kabupaten Natuna berdampak langsung terhadap pelaku usaha mikro. Salah satunya dialami Gorengan Pontianak dan Raja Parfum di Ranai yang mengaku mengalami penurunan omzet hingga 70 persen akibat melemahnya daya beli masyarakat.”

Pemilik Gorengan Pontianak dan Raja Parfum, Azan, mengatakan kondisi ekonomi yang lesu membuat usahanya mengalami penurunan omzet yang cukup tajam. Setelah 15 tahun menjalankan usaha di Ranai, Kabupaten Natuna, ia menilai tahun 2026 menjadi salah satu periode terberat karena daya beli masyarakat terus menurun.

NATUNA — Melemahnya kondisi ekonomi di Kabupaten Natuna semakin dirasakan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Penurunan daya beli masyarakat membuat omzet berbagai sektor usaha mengalami penurunan, termasuk usaha kuliner dan parfum yang dikelola Azan di Ranai.

Selama 15 tahun menjalankan Gorengan Pontianak, Azan tetap mempertahankan harga jual gorengan sebesar Rp1.000 per buah. Meski harga bahan baku terus mengalami kenaikan, ia memilih tidak menaikkan harga agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Saya sudah 15 tahun jualan gorengan ini. Dari dulu sampai sekarang harganya tetap Rp1.000 per biji. Kami buka setiap hari mulai pukul 11.00 sampai 21.00 WIB,” ujarnya kepada koranperbatasan.com, Kamis (2/7/2026).

Setiap hari, Gorengan Pontianak menyediakan sekitar 1.200 hingga 1.300 potong gorengan dengan menu favorit berupa pisang goreng, tahu, tempe, dan risoles. Dalam kondisi normal, usaha tersebut mampu menghasilkan omzet sekitar Rp30 juta setiap bulan.

Namun, sejak kondisi ekonomi melemah, pendapatan usahanya mengalami penurunan yang cukup drastis.

“Sekarang omzet turun sampai 70 persen. Di hari yang paling ramai pun masih turun sekitar 50 persen dibanding biasanya. Tahun ini benar-benar jauh meleset,” katanya.

Baca Juga:  Warga Keluhkan PDAM Tirta Nusa Natuna: Air Tak Mengalir, Tagihan Justru Melonjak

Menurut Azan, kondisi tersebut terjadi karena perputaran ekonomi Natuna masih sangat bergantung pada belanja pegawai pemerintah. Ketika pembayaran gaji maupun tunjangan mengalami keterlambatan, dampaknya langsung dirasakan para pedagang.

“Ekonomi kita memang lemah. Rakyat lagi tidak ada uang. Natuna ini ikut perputaran uang pegawai. Kalau pegawai pegang uang, ramailah jualan kami. Sekarang jangankan honorer, pegawai tetap saja banyak yang mengeluh karena gaji dan tunjangannya sering terlambat,” ungkapnya.

Selain sepinya pembeli, pelaku usaha di Natuna juga dihadapkan pada kendala pasokan bahan baku saat musim utara. Cuaca buruk menyebabkan distribusi barang dari luar daerah sering terhambat.

“Kalau musim utara, tepung sering putus, telur juga kadang kosong. Itu salah satu tantangan kami berdagang di Natuna,” jelasnya.

Selain usaha kuliner, Azan juga mengelola Raja Parfum, usaha yang telah dirintis sejak masih berjualan di kawasan Jalan Baru sebelum direlokasi. Produk parfum yang dijual menggunakan bibit yang didatangkan dari Pontianak, Jakarta, dan Malang.

Berbagai varian aroma tersedia, seperti Skandal dan Romantic Wish, dengan harga mulai Rp20 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung ukuran botol.

Meski menawarkan berbagai pilihan parfum, penjualannya juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Parfum juga sama, bahkan lebih parah. Kalau dulu dari hasil parfum saya bisa menabung Rp300 ribu sehari. Sekarang pendapatan kotor sehari paling sekitar Rp300 ribu saja,” tuturnya.

Azan menegaskan, lesunya penjualan bukan disebabkan kualitas produk yang dijual, melainkan karena kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menurun.

“Sekarang bukan masalah kualitas barang yang kami jual, tetapi memang ekonomi pembelinya sedang turun. Itu yang paling terasa bagi kami,” katanya.

Ia berharap kondisi ekonomi Natuna segera membaik sehingga daya beli masyarakat kembali pulih. Menurutnya, kelancaran pembayaran gaji dan tunjangan pegawai akan memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan.

Baca Juga:  Zubir Kritik Program Kelapa, Ekonomi dan Infrastruktur Natuna

“Harapan saya semoga ekonomi segera membaik. Gaji pegawai, honorer, dan tunjangannya jangan sampai terlambat lagi. Kalau ekonomi masyarakat bagus, insya Allah daya beli juga ikut meningkat,” harapnya.

Azan juga berharap Natuna memiliki lebih banyak perusahaan swasta maupun industri berskala besar agar perputaran ekonomi tidak hanya bergantung pada belanja pemerintah.

“Selama Natuna belum banyak perusahaan swasta atau industri besar, pedagang akan tetap bergantung pada perputaran uang daerah. Mudah-mudahan ke depan ada perubahan sehingga ekonomi masyarakat semakin kuat,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *