“Penurunan daya beli masyarakat pada tahun 2026 mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil di Natuna, terutama mereka yang bergerak di sektor perikanan dan olahan hasil laut.”
NATUNA – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ikan asap di Kabupaten Natuna, Roni, menilai kondisi ekonomi masyarakat pada tahun 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut daya beli masyarakat tidak sekuat pada periode 2024 hingga 2025 yang dinilai masih relatif stabil.
Roni yang menjalankan usaha penjualan ikan asap dan ikan segar di Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi saat ini terasa lebih sulit dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Kalau sekarang agak susah. Tahun 2024 sampai 2025 masih termasuk lancar, tapi 2026 ini jauh menurun, tidak seperti biasanya,” ungkap Roni kepada Koran Perbatasan, Kamis (12/3/2026), di lokasi usahanya di Jalan Sihotang, Ranai.
Ia menjelaskan bahwa saat ini dirinya menjalankan dua jenis usaha sekaligus, yaitu penjualan ikan asap dan ikan segar. Ikan asap dipasarkan untuk konsumen lokal maupun luar daerah, sedangkan ikan segar hanya dijual untuk kebutuhan pasar lokal.
“Usaha saya ada dua, yang pertama ikan asap untuk lokal dan luar daerah. Yang kedua ikan segar berbagai jenis, tapi itu hanya untuk lokal, tidak ada pengiriman keluar,” jelasnya.
Selama hampir tiga tahun menjalankan usaha tersebut, Roni mengaku tetap ada perkembangan meskipun tidak terlalu signifikan. Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat yang melemah turut mempengaruhi pertumbuhan usaha yang dijalankannya.
Selain faktor ekonomi, ia juga menghadapi kendala dalam hal transportasi pengiriman produk ikan asap ke luar daerah. Jika sebelumnya pengiriman dapat dilakukan melalui penerbangan dua kali dalam seminggu, kini hanya tersedia satu jadwal pengiriman.
“Biasanya kita kirim pakai pesawat hari Selasa dan Sabtu, sekarang tinggal hari Sabtu saja. Kadang juga menunggu pesawat Hercules kalau ada tamu banyak. Jadi pengiriman keluar agak berkurang,” ujarnya.
Sementara itu, untuk penjualan ikan segar di pasar lokal, Roni menyebutkan bahwa persaingan usaha kini semakin meningkat karena semakin banyak pelaku usaha yang menjual produk serupa. Hal tersebut membuat harga tetap mengikuti standar pasar.
“Untuk lokal biasa saja, karena pelaku usaha semakin banyak. Harga juga ikut harga pasar. Pembeli kebanyakan pelanggan lama, kalau pembeli baru tidak terlalu ramai,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, Roni mengaku pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, meskipun bukan dalam bentuk modal uang. Bantuan tersebut berupa peralatan usaha dari dinas terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Perikanan.
Selain itu, ia juga memperoleh fasilitas tempat usaha di sentra ikan salai di kawasan pasar yang dilengkapi berbagai sarana pendukung bagi pelaku UMKM.
Ia menambahkan bahwa dirinya juga cukup sering mengikuti pelatihan yang diberikan pemerintah, khususnya dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang membina para pelaku UMKM. Produk ikan asap yang ia jual juga telah memiliki sertifikasi halal.
Terkait bantuan permodalan dari perbankan daerah, Roni mengaku mengetahui adanya program pembiayaan usaha bagi pelaku UMKM. Namun hingga saat ini ia belum mengajukan pinjaman karena masih memiliki kewajiban kredit di bank lain.
Sebagai pelaku usaha, ia berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat serta kelancaran transportasi yang sangat berpengaruh terhadap distribusi produk UMKM.
“Harapannya cuma satu, transportasi dilancarkan. Karena untuk kirim barang keluar sekarang agak susah, kapal sulit, pesawat juga jarang. Kalau transportasi lancar, usaha UMKM juga bisa lebih berkembang,” harapnya. (KP).
Laporan: Awan










