“Program inovasi pakan ikan mandiri di Natuna belum berlanjut akibat keterbatasan bahan baku serta tingginya biaya pengujian nutrisi dan produksi.”
NATUNA — Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemberdayaan Usaha Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Habibi, S.Pi., menyatakan bahwa program pembuatan pakan ikan mandiri yang pernah dijalankan di Desa Tapau, Kecamatan Bunguran Tengah, masih menghadapi kendala utama pada ketersediaan bahan baku lokal serta aspek keberlanjutan produksi.
Program inovasi pakan ikan mandiri di Kabupaten Natuna merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk menekan tingginya biaya operasional pembudidaya ikan, khususnya dalam pengadaan pakan. Namun, implementasi program tersebut masih menemui sejumlah tantangan teknis dan ekonomis.
Habibi menjelaskan, program pembuatan pakan ikan mandiri tersebut sempat dilaksanakan pada tahun 2022 dengan melibatkan satu kelompok pembudidaya yang beranggotakan sekitar 10 orang di Desa Tapau, Kecamatan Bunguran Tengah. Program tersebut berjalan selama satu tahun sebagai tahap uji coba produksi.
Menurutnya, secara teknis kelompok pembudidaya telah mampu memproduksi pakan ikan secara mandiri. Bahkan, pakan tersebut sempat berhasil diproduksi melalui pemanfaatan bahan baku lokal seperti ikan reject atau ikan hasil sortir yang tidak masuk kategori penjualan utama.
“Pakan ikan tersebut pernah berhasil diproduksi oleh kelompok pembudidaya. Namun keberlanjutan produksinya terkendala pada ketersediaan bahan baku yang sulit diperoleh secara konsisten di pasar lokal,” ungkap Habibi saat diwawancarai koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Selasa, 10 Maret 2026.
Habibi menerangkan, pemanfaatan ikan reject atau ikan sisa hasil sortir nelayan sebenarnya dapat dijadikan bahan baku pembuatan pakan. Namun proses pengolahannya tidak sederhana karena harus melalui tahapan pengolahan menjadi tepung ikan terlebih dahulu.
Dalam proses tersebut, ikan segar harus dikeringkan dan digiling hingga menjadi tepung ikan sebelum dapat digunakan sebagai komponen utama pakan. Proses ini membutuhkan perlakuan khusus untuk menjaga kualitas kandungan nutrisi.
“Tidak semua ikan sisa dapat langsung dijadikan pakan. Ikan tersebut harus diproses menjadi tepung ikan terlebih dahulu agar dapat memenuhi standar nutrisi bagi ikan budidaya,” terangnya.
Habibi menambahkan, dari sekitar 10 kilogram ikan segar yang diolah, rata-rata hanya menghasilkan sekitar 2 kilogram tepung ikan. Artinya, biaya bahan baku yang dibutuhkan dalam proses produksi pakan cukup tinggi jika tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan yang stabil.
Selain itu, pakan ikan yang beredar di pasaran saat ini telah melalui serangkaian uji nutrisi dengan kandungan protein rata-rata sekitar 35 persen. Kandungan protein tersebut menjadi standar utama untuk mendukung pertumbuhan ikan budidaya secara optimal.
Sementara itu, dalam proses pembuatan pakan mandiri, bahan baku seperti tepung ikan harus memiliki kandungan protein minimal sekitar 20 persen agar dapat diformulasikan menjadi pakan dengan nutrisi setara pakan pabrikan.
“Jika kandungan protein bahan baku tepung ikan di bawah 20 persen, maka harus dilakukan pengolahan ulang dengan metode berbeda dan kembali diuji kandungannya,” kata Habibi.
Pengujian kandungan nutrisi tersebut juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk satu indikator uji proksimat, seperti kadar protein, biaya pengujian laboratorium diperkirakan mencapai sekitar Rp350 ribu per sampel. Sementara dalam satu bahan pakan setidaknya perlu dilakukan pengujian terhadap beberapa indikator nutrisi seperti protein, lemak, dan kadar air.
Selain biaya pengujian, proses inovasi pakan juga memerlukan dukungan peralatan produksi seperti mesin penepung, mesin pencetak pakan, serta mesin pemanas untuk proses pengeringan. Saat ini, beberapa peralatan dasar seperti mesin penepung dan pencetak sudah tersedia, namun mesin pemanas berkapasitas besar masih belum tersedia.
Mesin pemanas tersebut diperkirakan harus mampu mengolah sekitar 100 kilogram bahan basah dalam satu siklus produksi dan beroperasi hingga delapan jam dalam sehari. Di samping itu, fasilitas penyimpanan bahan baku seperti freezer atau coolbox juga diperlukan untuk menjaga kualitas bahan baku ikan segar.
“Selain itu, biaya operasional lain seperti mobilisasi bahan baku, listrik, dan air juga harus diperhitungkan secara matang,” ujarnya.
Habibi menekankan bahwa pengembangan inovasi pakan ikan mandiri tidak dapat dilakukan secara instan. Menurut perhitungannya, proses inovasi hingga mencapai titik impas atau break even point secara ekonomi membutuhkan waktu sekitar satu tahun.
Dalam periode tersebut, berbagai tahapan harus dilalui, mulai dari pengujian formulasi pakan, uji pertumbuhan ikan, hingga analisis biaya produksi dibandingkan dengan harga pakan pabrikan yang beredar di pasaran.
Selain aspek teknis dan ekonomi, faktor kepercayaan pembudidaya juga menjadi tantangan tersendiri. Habibi mengakui bahwa sebagian besar pembudidaya cenderung lebih percaya pada produk pakan bermerek yang sudah teruji secara komersial.
“Jika pakan dibuat oleh kelompok pembudidaya sendiri, biasanya masih muncul keraguan terhadap kualitasnya, meskipun sudah melalui proses uji standar,” tuturnya.
Di sisi lain, penggunaan bahan baku lokal juga berpotensi memicu kenaikan harga bahan jika permintaannya meningkat. Kondisi tersebut justru berisiko membuat biaya produksi pakan mandiri menjadi lebih mahal dibandingkan pakan pabrikan.
Meski demikian, upaya mencari solusi untuk menekan harga pakan tetap terus dilakukan. Habibi menyebut sejumlah pembudidaya mulai mencoba pakan alternatif seperti ikan segar sisa pasar atau limbah potongan ayam sebagai tambahan pakan.
Namun penggunaan pakan alternatif tersebut tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan pakan konvensional yang memiliki komposisi nutrisi lebih terukur.
“Pembudidaya memang mencoba berbagai alternatif pakan tambahan, tetapi pakan konvensional tetap harus digunakan karena kandungan nutrisinya sudah terstandar,” jelasnya.
Ke depan, Dinas Perikanan Kabupaten Natuna berkomitmen terus melakukan kajian dan inovasi guna mencari solusi yang tepat terhadap tingginya harga pakan ikan bagi pembudidaya.
“Upaya inovasi tetap kita lakukan. Harapannya ke depan kita bisa menemukan solusi terbaik agar biaya pakan dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas produksi budidaya,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Dhitto










