“Aktivitas kapal kayu pengangkut barang di perairan Panglima Dompak, Kota Tanjungpinang, yang sebelumnya rutin melayani distribusi logistik antar pulau kini terlihat berhenti sementara.”
Kapten kapal kayu pengangkut barang di perairan Panglima Dompak Tanjungpinang, Dale, mengatakan bahwa aktivitas kapal yang biasanya mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat antar pulau kini hampir tidak lagi beroperasi sehingga berdampak pada penghasilan para kru kapal.
TANJUNGPINANG – Aktivitas kapal kayu pengangkut barang di perairan Panglima Dompak, tepatnya di kawasan Sei Sudip, Kota Tanjungpinang, terlihat berkurang dalam beberapa waktu terakhir. Kapal-kapal yang biasanya aktif mengangkut logistik antar pulau kini lebih banyak bersandar tanpa aktivitas.
Pantauan di lokasi pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB menunjukkan beberapa kapal kayu tampak terparkir di area perairan tanpa kegiatan bongkar muat barang.
Bahri, salah satu kru kapal, mengatakan bahwa sudah hampir satu tahun terakhir kapal kayu besar yang biasa mereka operasikan tidak lagi berlayar seperti sebelumnya.
Ia mengaku sangat menyayangkan kondisi tersebut karena kapal yang mampu mengangkut berbagai jenis barang dalam jumlah besar kini hanya bersandar tanpa aktivitas.
“Sudah hampir satu tahun kapal yang biasa kami bawa tidak beroperasi seperti dulu. Padahal sebelumnya kapal ini cukup rutin berlayar,” ujarnya saat ditemui di kawasan Panglima Dompak.
Menurutnya, pada masa sebelumnya kapal tersebut bisa melakukan pengiriman barang setiap tiga hari sekali atau paling lama satu minggu sekali.
Kapal kayu tersebut biasanya digunakan untuk mendistribusikan berbagai kebutuhan masyarakat dari Tanjungpinang menuju sejumlah wilayah kepulauan seperti Dabo Singkep, Kuala Tungkal, serta beberapa daerah lainnya di wilayah Kabupaten Lingga.
Barang yang diangkut pun cukup beragam, mulai dari pakaian, kosmetik, hingga perlengkapan rumah tangga seperti barang pecah belah yang dibutuhkan masyarakat di daerah kepulauan.
Berhentinya aktivitas kapal tersebut tidak hanya berdampak pada pemilik kapal, tetapi juga para pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sebagai kru kapal.
Dale, kapten kapal yang juga bekerja di jalur distribusi tersebut, mengatakan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya menjelang Hari Raya Idulfitri justru menjadi waktu yang paling dinantikan oleh para pekerja kapal.
Menurutnya, pada masa itu aktivitas pengiriman barang biasanya meningkat sehingga para kru dapat bekerja lebih giat sekaligus memperoleh tambahan penghasilan.
“Biasanya menjelang Lebaran seperti sekarang ini aktivitas pengiriman barang justru ramai. Kami bisa bekerja lebih sering karena barang yang dikirim ke daerah kepulauan meningkat,” jelasnya.
Namun kondisi saat ini berbeda. Dengan tidak beroperasinya kapal, para kru kapal juga kehilangan sumber penghasilan yang biasanya mereka dapatkan dari aktivitas pelayaran tersebut.
Meski demikian, Dale dan rekan-rekannya tetap berharap aktivitas kapal kayu pengangkut barang di perairan Dompak dapat kembali berjalan seperti sebelumnya.
Para pelaku transportasi kapal kayu juga berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar jalur distribusi barang antar pulau di wilayah Kepulauan Riau kembali hidup.
Dengan demikian, kapal-kapal kayu yang selama ini menjadi bagian penting dari aktivitas logistik masyarakat kepulauan dapat kembali beroperasi dan membantu menggerakkan roda perekonomian masyarakat pesisir. (KP).
Laporan: Venti










