KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Ketika Kesejahteraan Hanya untuk Elit: Rakyat Kecil Bertahan di Tengah Ketimpangan

×

Ketika Kesejahteraan Hanya untuk Elit: Rakyat Kecil Bertahan di Tengah Ketimpangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi dompet usang yang hanya berisi beberapa recehan dan kartu subsidi pudar—simbol ketimpangan ekonomi yang kian dalam di tengah narasi kesejahteraan.

KESEJAHTERAAN nasional kerap dielu-elukan dalam laporan resmi. Angka pertumbuhan ekonomi naik, pendapatan per kapita meningkat, dan neraca perdagangan surplus. Namun di balik statistik berkilau itu, hidup rakyat kecil tetap seperti jalan di tempat atau bahkan mundur.

Pernahkah kita bertanya: kesejahteraan yang diklaim itu sebenarnya milik siapa? Apakah petani di desa merasakan dampaknya? Apakah buruh harian di kota bisa membuktikannya di dapur mereka?

Ketimpangan ekonomi bukan lagi isu teoritis, tapi realitas sehari-hari. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa distribusi kekayaan di Indonesia sangat timpang. Satu persen penduduk menguasai hampir separuh aset nasional, sementara mayoritas lainnya berjuang sekadar bertahan hidup.

Ketika elite menikmati stabilitas ekonomi, rakyat kecil dihadapkan pada harga kebutuhan pokok yang terus naik, penghapusan subsidi secara perlahan, dan lapangan kerja informal yang tidak pasti. Upah mereka tak cukup mengejar inflasi, apalagi membangun masa depan.

Pemerintah memang terus menggaungkan program perlindungan sosial dan bantuan langsung tunai, tetapi pendekatan seperti itu hanya menjadi pereda sesaat. Yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar transfer uang, melainkan jaminan atas akses yang adil terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak, dan pangan terjangkau.

📊 Views: 9
Baca Juga:  Bertahan di Tengah Pemangkasan: Strategi Ekonomi Mikro yang Terpinggirkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *