KABAR PERBATASANNATUNAOLAHRAGA

KONI Natuna Buka Suara, Seleksi Porprov Dinilai Tak Mepet 

×

KONI Natuna Buka Suara, Seleksi Porprov Dinilai Tak Mepet 

Sebarkan artikel ini
Sekretaris KONI Kabupaten Natuna, Haryadi S.S.E., yang memberikan penjelasan terkait persiapan seleksi atlet menuju Porprov VI Kepri 2026, termasuk tahapan seleksi dan keterbatasan anggaran pembinaan olahraga.

“KONI Kabupaten Natuna buka suara menanggapi keluhan terkait persiapan seleksi pencak silat menuju Porprov VI Kepri 2026. KONI menegaskan tahapan persiapan telah berjalan sejak Mei 2026 dan informasi telah disampaikan kepada seluruh cabang olahraga, termasuk IPSI Natuna. Bahkan, pencak silat diberikan kelonggaran hingga 25 Agustus 2026 untuk menyerahkan nama dan berkas atlet.” 

Sekretaris KONI Kabupaten Natuna, Haryadi S.S.E, menegaskan persiapan seleksi atlet menuju Porprov VI Kepri 2026 telah dilakukan sejak Mei 2026 dengan melibatkan seluruh cabang olahraga. Menurutnya, KONI telah memberikan rentang waktu yang cukup panjang, termasuk kepada Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Natuna yang mendapat toleransi hingga 25 Agustus 2026 untuk menyerahkan data atlet. 

NATUNA — Sekretaris KONI Kabupaten Natuna, Haryadi S.S.E, buka suara menanggapi sorotan terkait persiapan seleksi atlet pencak silat menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Kepulauan Riau 2026. 

Haryadi menegaskan, persiapan yang dilakukan KONI tidak hanya berfokus pada pencak silat. Sedikitnya terdapat 23 cabang olahraga yang dipersiapkan untuk mengikuti Porprov VI Kepri 2026. 

“Kalau berbicara persiapan dari KONI untuk melaksanakan seleksi, itu seluruh cabang olahraga, tidak hanya pencak silat. Kita ada 23 cabang olahraga yang kita persiapkan untuk mengikuti Porprov VI Kepri 2026 ini,” ujar Haryadi kepada Koranperbatasan.com saat diwawancarai di Gedung Olahraga (GOR) Natuna, Jumat (21/8/2026). 

Menurut Haryadi, tahapan menuju Porprov telah berjalan sejak Mei 2026. KONI telah menggelar rapat bersama cabang olahraga dan menyampaikan berbagai tahapan yang harus dilalui, mulai dari entry by number, entry by name, hingga proses keabsahan atlet. 

IPSI Natuna, kata dia, juga mengikuti proses tersebut. Perwakilan organisasi pencak silat itu hadir dalam rapat bersama KONI sehingga informasi mengenai tahapan persiapan dan seleksi telah disampaikan sejak jauh hari. 

“Kalau berbicara dari kami di KONI, waktu yang kami berikan itu ruangnya sudah panjang. Terbukti hari ini cabor yang lain sudah selesai semua seleksi dan sudah mengirim nama atlet ke KONI,” jelasnya. 

Haryadi mengatakan, secara umum sebagian besar cabang olahraga telah menyelesaikan seleksi dan menyerahkan nama atlet. Beberapa cabor masih melakukan pengujian terhadap atlet tertentu dengan tetap berkomunikasi kepada KONI. 

Sementara untuk pencak silat, KONI memberikan kelonggaran karena proses seleksi belum selesai. IPSI Natuna masih diberikan kesempatan menyerahkan nama dan berkas atlet hingga 25 Agustus 2026. 

Baca Juga:  Basarnas Natuna Beri Pelatihan SAR Kepada Anak TK

“Kami kasih kelonggaran untuk silat karena belum seleksi sampai dengan tanggal 25 untuk menyerahkan data nama dan berkas atlet. Artinya, kalau berbicara mepet, kami dari KONI rasanya tidak mepet. Sudah panjang waktunya dan setiap rapat informasi semuanya tersampaikan,” tegasnya. 

Haryadi menyebut KONI juga memiliki grup komunikasi yang beranggotakan pengurus dan perwakilan cabang olahraga. Berbagai perkembangan mengenai persiapan Porprov disampaikan melalui sarana komunikasi tersebut. 

Keterbatasan Anggaran Ikut Jadi Persoalan 

Meski menilai waktu yang diberikan tidak mepet, Haryadi tidak menampik bahwa persoalan pendanaan menjadi salah satu kendala dalam persiapan cabang olahraga menuju Porprov VI Kepri 2026. 

Menurutnya, hingga kini belum ada anggaran dari Pemerintah Kabupaten Natuna maupun Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) yang masuk untuk membiayai proses seleksi maupun pemusatan latihan atau training center (TC). 

“Hari ini dari pemerintah daerah belum ada anggaran masuk ke KONI maupun Dispora untuk persiapan ini. Artinya, semua cabang olahraga seleksi mandiri. Ada 23 cabang olahraga yang seleksi mandiri,” ungkap Haryadi. 

Kondisi tersebut membuat pengurus cabang olahraga, pelatih, dan atlet harus berupaya secara mandiri dan bergotong royong agar proses pembinaan serta persiapan atlet tetap berjalan. 

Haryadi mengatakan KONI mengusulkan anggaran minimal sebesar Rp1,25 miliar kepada pemerintah daerah. Namun, berdasarkan gambaran sementara yang diterimanya, pemerintah baru menyanggupi sekitar Rp850 juta. Besaran akhirnya masih menunggu keputusan pemerintah. 

“Usulan kita minimal Rp1,25 miliar. Tapi hari ini untuk sementara pemerintah baru menyanggupi Rp850 juta. Kalau berbicara anggaran, nanti kita tunggu keputusan pemerintah, angkanya berapa nanti jadinya,” katanya. 

Biaya Rp150 Ribu Disebut untuk Operasional Pertandingan 

Haryadi turut menanggapi keluhan mengenai biaya insert sebesar Rp150 ribu per atlet dalam pelaksanaan seleksi pencak silat. 

Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, biaya tersebut digunakan panitia untuk memenuhi kebutuhan operasional pertandingan. 

“Ada insert Rp150 ribu. Informasi yang saya dapat, dengan anggaran Rp150 ribu itu yang dijadikan operasional pertandingan,” jelasnya. 

Namun, terkait perbandingan besaran biaya dengan kegiatan pencak silat lainnya maupun persoalan internal IPSI, Haryadi menegaskan dirinya tidak dapat memberikan jawaban karena hal tersebut merupakan ranah internal organisasi pencak silat. 

Baca Juga:  Roadshow Wakil Gubernur Lampung di Kabupaten Tulang Bawang

Di tengah keterbatasan tersebut, Haryadi justru mengapresiasi semangat pengurus cabang olahraga, pelatih, dan atlet yang tetap melakukan pembinaan secara mandiri. 

Menurutnya, besarnya kemauan para pelaku olahraga menjadi kekuatan penting bagi Natuna untuk terus melahirkan atlet berprestasi. 

“Kalau tidak cabor yang mendukung KONI, mungkin kita tidak akan menemukan atlet berprestasi. Hari ini cabang olahraga, pelatih, kemudian atlet, mereka mau bekerja secara mandiri untuk menjadikan mereka berprestasi. Tujuannya tidak lain untuk mengharumkan nama daerah,” ujarnya. 

KONI Nilai Keluhan Atlet dan Pelatih Wajar 

Haryadi juga mengakui keluhan yang disampaikan pelatih maupun atlet merupakan sesuatu yang wajar. KONI, kata dia, menyadari masih terdapat keterbatasan dalam melakukan pembinaan olahraga, terutama dari sisi penganggaran. 

“Wajar hari ini kalau semua, tidak hanya pelatih pencak silat, tetapi semua pelatih dan atlet di setiap cabang olahraga mengeluh. Itu hak mereka dan wajar saja. Memang kita akui ketidakmampuan kita maksimal melakukan pembinaan dalam hal penganggaran,” katanya. 

Menurut Haryadi, keluhan dan kritik tersebut tidak harus dipandang negatif. Sebaliknya, aspirasi yang muncul dapat menjadi bahan evaluasi bagi KONI bersama cabang olahraga untuk dibicarakan dengan Pemerintah Kabupaten Natuna. 

“Ini bisa menjadi evaluasi bagaimana nanti kami di KONI bersama cabor berdiskusi dengan pemerintah daerah. Bagaimana nanti ke depannya dalam hal pembinaan olahraga di Natuna ini betul-betul menjadi pembinaan yang tidak hanya seremonial, tetapi menjadi pembinaan yang terarah dan terfokus,” tegasnya. 

Haryadi berharap perhatian terhadap seluruh cabang olahraga di Kabupaten Natuna semakin diperkuat. Sebab, menurutnya, olahraga tidak hanya berhubungan dengan pencapaian prestasi, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan dan mengharumkan nama daerah. 

Ia juga menyinggung agenda olahraga daerah pada 2028 yang akan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai tuan rumah. Menurutnya, kedatangan peserta dan tamu dari luar daerah nantinya juga berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. 

“Dengan olahraga pun harapan kita ke depan perekonomian baik, prestasi juga baik,” pungkasnya. (KP) 


Laporan: Dini 


 

📊 Views: 112

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *