“MAN 1 Natuna menerapkan ujian berbasis digital menggunakan HP dan komputer sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan teknologi informasi di dunia pendidikan.”
Ketua Panitia Pelaksana Ujian Semester Genap MAN 1 Natuna, Tuti Qadariah, S.Pd.I., memastikan pelaksanaan ujian tahun ajaran 2025/2026 berjalan aman dan lancar dengan sistem digital berbasis handphone serta komputer sekolah.
NATUNA – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Natuna terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Dalam pelaksanaan Ujian Semester Genap, madrasah tersebut tidak lagi menggunakan sistem konvensional berbasis kertas.
Seluruh peserta ujian kini menggunakan perangkat handphone (HP) masing-masing dengan dukungan fasilitas komputer sekolah bagi siswa yang mengalami kendala perangkat.
Ketua Panitia Pelaksana Ujian Semester Genap MAN 1 Natuna, Tuti Qadariah, S.Pd.I., menjelaskan bahwa sistem ujian digital tersebut sudah diterapkan selama tiga tahun terakhir.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap program berbasis Teknologi Informasi (IT) sekaligus memberikan kemudahan bagi peserta didik.
“Anak-anak masing-masing menggunakan HP karena kita mengikuti program IT. Bagi mereka yang HP-nya rusak atau kebetulan tidak punya HP, mereka langsung lapor ke Ketua Panitia. Kita sudah menyediakan komputer dari sekolah agar mereka tetap bisa ikut ujian,” ujar Tuti kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di ruang TU, Senin (8/6/2026).
Tuti mengatakan, pelaksanaan ujian semester tahun ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Hari terakhir ujian ditutup dengan pelaksanaan ujian praktik mata pelajaran Ilmu Tajwid serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
“Untuk hari ini memang hari terakhir karena pelaksanaan ujian praktik, yaitu mata pelajaran Ilmu Tajwid dan TIK,” jelasnya.
Ia menjelaskan, MAN 1 Natuna memulai pelaksanaan ujian lebih awal sejak 25 Mei 2026. Hal tersebut dikarenakan jumlah mata pelajaran di madrasah lebih banyak dibandingkan sekolah umum.
Selain mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi dan ilmu sosial, siswa madrasah juga mengikuti sejumlah mata pelajaran agama.
“Kita memang selalu ujian lebih dulu dibanding sekolah umum karena mata pelajaran kita banyak. Untuk agama saja ada Akidah Akhlak, Qur’an Hadis, SKI dan Bahasa Arab,” ungkapnya.
Menurut Tuti, jumlah mata pelajaran setiap jenjang juga berbeda. Untuk kelas X terdapat sekitar 20 mata pelajaran, sementara kelas XI sekitar 17 mata pelajaran karena adanya perbedaan pilihan pembelajaran.
“Makanya kami selalu mulai lebih awal, karena nanti pembagian rapor tetap dilakukan serentak pada tanggal 19 Juni,” katanya.
Lebih lanjut, Tuti menyebutkan penggunaan ujian berbasis HP selama ini memberikan banyak kemudahan, baik bagi siswa maupun pengawas.
Sistem aplikasi yang digunakan juga memiliki pengamanan khusus untuk mengurangi potensi kecurangan selama ujian berlangsung.
“Kalau misalnya siswa mencoba membuka Google, otomatis mereka akan keluar dari aplikasi ujian dan harus mengulang lagi. Siswa juga tidak boleh membawa dua HP saat ujian,” tegasnya.
Selain itu, guru pengawas juga lebih mudah melakukan pemantauan selama proses ujian berlangsung di dalam ruangan.
Meski demikian, pihak madrasah tidak menampik masih terdapat kendala teknis kecil seperti gangguan jaringan internet maupun pemadaman listrik.
“Kendalanya kadang internet agak bermasalah, terutama provider tertentu. Kalau mati lampu juga bisa berpengaruh. Tapi tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Apabila terjadi kendala teknis, siswa dapat langsung melapor kepada operator untuk dilakukan perbaikan atau reset akun ujian.
“Kalau ada kendala, anak-anak keluar melapor ke operator. Nanti kita lakukan reset lagi. Alhamdulillah secara keseluruhan pelaksanaan tahun ini lancar,” tambahnya.
Setelah seluruh rangkaian ujian selesai, MAN 1 Natuna memberikan kesempatan remedial bagi siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan.
Program perbaikan nilai tersebut dilakukan selama tiga hingga empat hari bersama guru mata pelajaran masing-masing.
“Bagi mereka yang nilainya belum tuntas, kita berikan kesempatan remedial bersama guru mapel masing-masing,” terangnya.
Di akhir penyampaiannya, Tuti berharap seluruh peserta didik dapat terus meningkatkan semangat belajar dan memperoleh hasil sesuai kemampuan masing-masing.
“Harapan kami sebagai Majelis Guru, ingin anak-anak ke depannya mendapatkan nilai yang lebih bagus lagi dan belajar lebih giat,” ucapnya.
“Intinya nilai itu sesuai dengan yang mereka dapatkan, sesuai kemampuan dan usaha mereka. Itu harapan terbesar kami,” tutupnya. (KP).
Laporan: Dini










