NATUNAPENDIDIKAN

MIS Darul Ulum Natuna Gelar Ujian Manual, Tekankan Peran Orang Tua Dampingi Anak Belajar

×

MIS Darul Ulum Natuna Gelar Ujian Manual, Tekankan Peran Orang Tua Dampingi Anak Belajar

Sebarkan artikel ini
Panitia Pelaksana Ujian MIS Darul Ulum Natuna, Wiskandar, S.E., menyampaikan pelaksanaan Ujian Sumatif Semester Genap berjalan lancar dengan penerapan Kurikulum Merdeka. Ia menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi proses belajar anak agar mampu meningkatkan pemahaman, kedisiplinan, serta kualitas pendidikan.

“Pelaksanaan Ujian Sumatif Semester Genap MIS Darul Ulum Natuna tahun 2026 berjalan lancar dengan penerapan penuh Kurikulum Merdeka. Sekolah menekankan pentingnya dukungan orang tua dalam mendampingi proses belajar anak di rumah.”

Panitia Pelaksana Ujian MIS Darul Ulum Natuna, Wiskandar, S.E., mengatakan penerapan Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan bagi guru dalam menyusun sistem evaluasi pembelajaran. Meski demikian, sekolah masih mempertahankan ujian manual karena keterbatasan fasilitas digital.

NATUNA — Pelaksanaan Ujian Sumatif Semester Genap di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Darul Ulum Natuna tahun 2026 berlangsung tertib dan lancar.

Pelaksanaan ujian kali ini menjadi momentum perdana penerapan penuh Kurikulum Merdeka pada semester kedua. Sistem baru tersebut memberikan ruang fleksibilitas kepada guru dalam menentukan metode evaluasi sesuai kebutuhan peserta didik.

Panitia Pelaksana Ujian MIS Darul Ulum Natuna, Wiskandar, S.E., menjelaskan dalam Kurikulum Merdeka, guru mata pelajaran maupun wali kelas memiliki kewenangan lebih luas dalam menyusun soal dan bentuk penilaian.

Menurutnya, guru tidak lagi terpaku pada jumlah soal tertentu, melainkan dapat memilih metode yang dianggap efektif, baik ujian lisan, pilihan ganda, maupun esai

“Di Kurikulum Merdeka, mekanisme pelaksanaan ujian diserahkan kepada masing-masing guru mapel atau wali kelas. Metodenya bisa lisan, objektif, maupun esai sesuai kebutuhan,” ujarnya kepada koranperbatasan.com saat ditemui di lingkungan sekolah, Rabu (10/6/2026).

Namun untuk sistem pelaksanaan, MIS Darul Ulum Natuna hingga saat ini masih menerapkan ujian secara manual menggunakan lembar soal berbasis kertas.

Hal tersebut dilakukan karena fasilitas pendukung digital di sekolah masih terbatas.

“Kami sampai sekarang masih manual menggunakan lembar soal yang dicetak atau difotokopi, pastinya karena keterbatasan fasilitas. Kalau dari segi teknis tidak ada kendala internal karena sudah sering dilakukan,” jelasnya.

Baca Juga:  Lomba Memasak Makanan Khas Natuna Berbahan Dasar Sagu, ini Pesan Dewan Juri

Wiskandar menyampaikan, pelaksanaan ujian yang berlangsung sejak 2 Juni hingga 9 Juni 2026 secara umum berjalan baik.

Namun, terdapat sedikit kendala karena jadwal ujian bersamaan dengan pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Akibatnya, beberapa siswa yang menjadi peserta OSN tidak dapat mengikuti ujian secara bersamaan dan harus menjalani ujian susulan.

“Kemarin itu yang jadi kendala beberapa siswa tidak bisa ikut ujian karena berbarengan dengan OSN. Harusnya bisa dilaksanakan sekaligus, tapi karena bentrok anak-anak yang ikut OSN harus mengikuti ujian susulan,” katanya.

Lebih lanjut, Wiskandar menekankan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya bergantung pada pembelajaran di sekolah.

Menurutnya, dukungan keluarga terutama orang tua memiliki peran besar dalam memastikan materi yang diterima anak dapat dipahami dengan baik.

Ia mengingatkan bahwa waktu guru bersama siswa di sekolah sangat terbatas karena harus menyesuaikan target pembelajaran.

“Guru menghandle sekian banyak siswa dan hanya bisa menyampaikan materi sebatas jam pembelajaran. Rasanya sulit anak bisa maju jika tidak didukung orang tua di rumah untuk mengulang apa yang sudah disampaikan guru,” tuturnya.

Menurutnya, pendampingan orang tua melalui kebiasaan mengulang pelajaran, membangun disiplin belajar, maupun mengikuti kegiatan pendukung sangat membantu perkembangan akademik anak.

Di sisi lain, Wiskandar juga menyoroti dinamika penerapan Kurikulum Merdeka, terutama terkait kebijakan kenaikan kelas dan pola pendekatan terhadap siswa.

Ia mengatakan pihak sekolah tetap mengikuti seluruh regulasi pendidikan yang berlaku. Namun, dalam praktiknya guru juga memiliki tantangan dalam menjaga motivasi dan kedisiplinan siswa.

Menurutnya, konsekuensi dalam proses pendidikan selama diberikan secara wajar dapat menjadi bagian dari pembentukan tanggung jawab anak.

“Kami sebenarnya agak keberatan karena adanya peringatan tidak naik kelas itu justru bisa menjadi cambuk agar anak-anak rajin. Kalau mereka tahu nilai jelek pun tetap naik kelas, sebagian anak menjadi kurang peduli terhadap ilmu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Sejit Fu De Zhengshen di Natuna Ajarkan Kebajikan dan Kerukunan Umat

Ia menilai, tujuan utama pendidikan bukan sekadar membuat siswa naik kelas atau menyelesaikan sekolah, tetapi memastikan ilmu dan karakter benar-benar terbentuk.

“Yang penting bukan hanya sekolah, naik kelas, lalu tamat. Tapi bagaimana anak memahami ilmu yang diberikan,” tambahnya.

Wiskandar juga menjelaskan bahwa ketegasan guru dalam batas yang mendidik tetap diperlukan agar siswa memahami pentingnya tanggung jawab.

Menurutnya, teguran atau peringatan yang bertujuan membangun kedisiplinan berbeda dengan tindakan yang merugikan anak.

Di akhir penyampaiannya, ia berharap evaluasi terhadap penerapan sistem pendidikan terus dilakukan agar kualitas pembelajaran tetap meningkat.

Ia juga berharap kerja sama antara guru, siswa, dan orang tua semakin kuat dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedisiplinan serta karakter yang baik. (KP).


Laporan: Dini


 

📊 Views: 59

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *