NATUNAPENDIDIKAN

SMAN 2 Bunguran Timur Terapkan MPLS Ramah Berbasis Deep Learning

×

SMAN 2 Bunguran Timur Terapkan MPLS Ramah Berbasis Deep Learning

Sebarkan artikel ini
Kepala SMAN 2 Bunguran Timur, Arqam Alfarisy, S.Pd., menyampaikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 akan berlangsung selama lima hari sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026. Kegiatan mengusung konsep MPLS Ramah, bebas perundungan, anti-kekerasan, serta mengintegrasikan pendekatan deep learning, pendidikan karakter, coding, dan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung kesiapan belajar peserta didik baru di Kabupaten Natuna. (Foto: Koran Perbatasan)

“SMAN 2 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, siap melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 selama lima hari sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026. Pelaksanaan MPLS mengusung konsep ramah anak, bebas perundungan, anti-kekerasan, serta mengedepankan pendidikan karakter melalui pendekatan deep learning.”

Kepala SMAN 2 Bunguran Timur, Arqam Alfarisy, S.Pd., menegaskan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini mengikuti regulasi terbaru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan durasi lima hari. Menurutnya, penambahan waktu tersebut bertujuan memberikan ruang adaptasi yang lebih optimal bagi peserta didik baru sebelum memasuki proses pembelajaran.

NATUNA – SMAN 2 Bunguran Timur menyatakan kesiapan penuh melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi peserta didik baru kelas X yang dijadwalkan dimulai pada Senin, 20 Juli 2026. Berbeda dari tahun sebelumnya, pelaksanaan MPLS kini berlangsung selama lima hari sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026.

Arqam Alfarisy menjelaskan, perubahan durasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolah sekaligus beradaptasi dengan kehidupan belajar di jenjang SMA.

“Kalau tahun lalu MPLS hanya tiga hari, tahun ini berdasarkan aturan menteri dilaksanakan selama lima hari. Jadi waktu adaptasi siswa menjadi lebih panjang. Untuk tingkat SMA dan SMK, kegiatan dimulai serentak pada Senin, 20 Juli dan diawali dengan MPLS,” ujarnya kepada koranperbatasan.com, Rabu (15/7/2026).

Ia menegaskan seluruh kegiatan mengusung konsep MPLS Ramah, yakni tanpa diskriminasi, bebas dari perundungan, anti-kekerasan, dan tanpa praktik perpeloncoan.

“Prinsip utama kami adalah MPLS Ramah. Tidak ada diskriminasi, tidak ada bullying, tidak ada kekerasan maupun perpeloncoan. Yang kami lakukan adalah mengenalkan lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta seluruh warga sekolah kepada peserta didik baru,” tegasnya.

Baca Juga:  Polsek Bunguran Barat Amankan Kemeriahan Lomba Rakyat HUT Natuna di Sedanau

Menurut Arqam, materi MPLS tahun ini juga diarahkan pada penguatan pendidikan karakter melalui implementasi Kurikulum Merdeka yang dipadukan dengan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam.

Melalui pendekatan tersebut, sekolah ingin membangun kesadaran peserta didik agar mampu belajar secara aktif, memahami potensi diri, serta mengembangkan karakter positif selama mengikuti proses pendidikan.

“Konsep deep learning ini bertujuan memuliakan dan mengembangkan potensi peserta didik sehingga mereka sadar, aktif, dan memiliki semangat belajar sejak awal masuk sekolah,” jelasnya.

Untuk mendukung pelaksanaan MPLS selama lima hari, SMAN 2 Bunguran Timur menggandeng berbagai instansi, di antaranya Kepolisian, Dinas Sosial, serta sejumlah instansi terkait sebagai narasumber pembekalan.

Selain itu, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) diberi peran sebagai pembimbing (guide) yang akan mendampingi dan mengarahkan peserta didik baru selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Di sisi lain, para guru juga akan terlibat aktif dengan memberikan materi mengenai disiplin positif, tata tertib sekolah, serta nilai-nilai yang harus dipatuhi siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, sekolah juga mulai memperkuat inovasi pembelajaran melalui pengenalan coding dan Artificial Intelligence (AI). Menurut Arqam, pemanfaatan AI perlu diarahkan pada sisi positif untuk meningkatkan efektivitas belajar peserta didik di era digital.

Pada tahun ajaran 2026/2027, SMAN 2 Bunguran Timur menerima 193 peserta didik baru yang terbagi dalam enam rombongan belajar (rombel). Jumlah tersebut disesuaikan dengan Rencana Daya Tampung (RDT) dan ketersediaan ruang kelas.

“Kalau lebih dari 200 siswa sebenarnya kami tidak mampu menampung karena keterbatasan ruang kelas. Alhamdulillah tahun ini ada sedikit peningkatan dibanding tahun sebelumnya dengan jumlah 193 siswa,” katanya.

Sebelum pelaksanaan MPLS dimulai, pihak sekolah juga telah mengundang seluruh orang tua peserta didik baru untuk mengikuti sosialisasi sebagai upaya menyamakan persepsi sekaligus memberikan rasa aman kepada mereka.

Baca Juga:  Ekonomi Natuna Lesu, Omset Gorengan Pontianak dan Raja Parfum Anjlok Drastis

Arqam berharap komunikasi antara sekolah dan orang tua terus terjalin melalui grup WhatsApp yang telah dibentuk sehingga setiap persoalan yang muncul dapat segera ditangani.

“Kami berharap ada kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua. Harus ada check and balances atau komunikasi yang seimbang. Kami sudah menyiapkan grup WhatsApp orang tua agar setiap informasi maupun kendala selama MPLS dapat langsung disampaikan kepada pihak sekolah,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *