INDONESIA kerap membanggakan angka pertumbuhan ekonominya. Tiap kuartal, pemerintah dan lembaga statistik merilis data yang menunjukkan PDB meningkat, investasi masuk, dan indeks stabilitas makro yang membaik. Namun, di sisi lain, masyarakat justru bertanya: jika ekonomi tumbuh, mengapa hidup terasa semakin sulit?
Pertanyaan ini bukan muncul dari pesimisme, melainkan dari pengalaman sehari-hari rakyat kecil. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan dan kesehatan melonjak, sementara upah dan pendapatan tak banyak berubah.
Data makroekonomi memang penting, tetapi tidak mencerminkan kondisi riil yang dihadapi sebagian besar warga. Ada jarak yang lebar antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Fenomena ini menandakan bahwa pertumbuhan belum merata. Sebagian besar keuntungan ekonomi hanya berputar di kalangan atas, korporasi besar, pemilik modal, dan sektor formal yang mapan.










