“Kepergian Minarto S.E. atau Ho Kuntiu menjadi kehilangan besar bagi umat Buddha di Kabupaten Natuna. Sosok yang dikenal dermawan, visioner, dan berani menghadirkan berbagai inovasi itu dinilai telah meninggalkan warisan yang akan terus dikenang lintas generasi.”
Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Natuna, Nelson Lim Yu Song, menyatakan wafatnya Ketua Dewan Pengawas Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Natuna sekaligus Ketua Yayasan Tri Dharma Bhakti Ranai, Minarto S.E. atau yang akrab disapa Ho Kuntiu, merupakan kehilangan besar bagi umat Buddha di Kabupaten Natuna. Menurutnya, almarhum merupakan sosok pemimpin yang berani melakukan berbagai inovasi dan perubahan demi kemajuan organisasi serta pelayanan umat.
NATUNA — Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman Minarto S.E. atau Ho Kuntiu yang berlangsung khidmat di Tempat Pemakaman Senubing, Kabupaten Natuna. Kepergian tokoh yang dikenal sederhana, dermawan, dan penuh dedikasi itu tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga besar Vihara Samudra Bhakti Batu Kapal, tetapi juga bagi masyarakat luas yang mengenalnya sebagai pribadi yang selalu mengutamakan kepentingan umat.
Nelson Lim Yu Song mengatakan, selama memimpin Yayasan Tri Dharma Bhakti Ranai, Ho Kuntiu dikenal sebagai sosok yang berani keluar dari kebiasaan lama dengan menghadirkan berbagai terobosan baru.
“Beliau boleh dikatakan satu-satunya ketua yayasan yang berani memberikan terobosan baru. Beliau masih muda, memiliki semangat sinergi, serta berani melakukan perubahan-perubahan dan menghadirkan hal-hal baru untuk kemajuan vihara,” ujarnya kepada koranperbatasan.com, Kamis (25/6/2026).
Salah satu inovasi yang paling dikenang, lanjut Nelson, adalah pembentukan Tim Avamanggala, yaitu tim khusus yang bertugas menangani pelayanan kedukaan umat Buddha di Kabupaten Natuna. Selama ini, pelayanan tersebut belum memiliki tim yang terorganisasi secara khusus.
Menurutnya, pembentukan Tim Avamanggala merupakan bentuk kepedulian Ho Kuntiu agar setiap umat Buddha yang mengalami kedukaan memperoleh pelayanan yang lebih baik, tertata, dan penuh kebersamaan.
Ironisnya, tim yang baru dibentuk itu justru harus menjalankan tugas pertamanya dengan mengurus prosesi pemakaman sosok yang menggagas pembentukannya.
“Kami yang dibentuk beliau justru harus mengantarkan beliau lebih dahulu. Kami benar-benar merasa kehilangan dan tidak pernah menyangka akan seperti ini,” ungkap Nelson dengan nada haru.
Nelson juga mengenang momen terakhir bersama almarhum saat menghadiri kegiatan keagamaan di Vihara Dharma Bhakti Sedanau. Dalam kegiatan tersebut digelar berbagai perlombaan, pertunjukan seni, hingga aktivitas sosial yang diikuti umat Buddha dari berbagai daerah.
Usai menghadiri kegiatan itu, Ho Kuntiu memilih kembali ke Ranai menggunakan speed ferry pada Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WIB. Meski memiliki kemampuan finansial yang memadai, almarhum lebih memilih melanjutkan perjalanan menggunakan KM Bukit Raya, sebagaimana kebiasaannya.
“Pagi sekitar pukul delapan kami menerima kabar duka. Kami semua sangat syok. Padahal acara di Sedanau masih berlangsung, tetapi seluruh rangkaian kegiatan langsung kami hentikan sebagai bentuk penghormatan kepada beliau,” kenangnya.
Sebagai penghormatan terakhir atas gagasan dan pemikiran almarhum semasa hidup, prosesi pelepasan jenazah kali ini juga mencatat sejarah baru bagi umat Buddha di Kabupaten Natuna.
Untuk pertama kalinya, prosesi kedukaan memadukan ritual agama Buddha di depan altar dengan tradisi adat Tionghoa dalam satu rangkaian upacara.
“Biasanya hanya menggunakan tradisi Tionghoa. Kali ini kami menggabungkan ritual agama Buddha dan tradisi Tionghoa sekaligus. Ini yang pertama di Natuna, karena beliau yang mengarahkan kami menuju konsep tersebut,” jelas Nelson.
Selain dikenal sebagai pembaru organisasi, Ho Kuntiu juga menjadi sosok yang banyak memberikan ruang kepada generasi muda untuk tampil memimpin berbagai organisasi keagamaan, termasuk Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dan Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Kabupaten Natuna.
Nelson mengaku dirinya merupakan salah satu kader muda yang memperoleh kepercayaan dan dukungan langsung dari almarhum.
“Beliau selalu mengatakan kepada kami, ‘Sudah maju saja kamu, tidak usah khawatir, kita bersama-sama.’ Kalimat sederhana itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya dan mengabdi kepada umat,” tuturnya.
Di mata Nelson, Ho Kuntiu bukan hanya seorang pemimpin organisasi, tetapi juga mentor yang mampu merangkul semua kalangan, mendukung berbagai aktivitas sosial dan keagamaan, serta mendorong lahirnya regenerasi kepemimpinan di lingkungan umat Buddha Natuna.
Menutup keterangannya, Nelson mengajak seluruh masyarakat untuk mengikhlaskan kepergian almarhum serta terus mendoakan agar memperoleh perjalanan terbaik sesuai ajaran agama Buddha.
“Mari kita ikhlaskan kepergian beliau. Dalam ajaran Buddha, kehidupan ini bukanlah perjalanan yang berakhir di sini. Mari kita doakan semoga beliau memperoleh kondisi terbaik dalam perjalanan kehidupan selanjutnya dan mencapai kebahagiaan,” pungkasnya.
Laporan: Dini










