DALAM setiap masa sulit, narasi selalu menjadi senjata pertama yang dikeluarkan pemerintah. Kata-kata seperti “penyesuaian”, “efisiensi”, hingga “transformasi struktural” berseliweran di ruang publik.
Namun bagi rakyat, kata-kata tidak bisa disandingkan dengan harga beras yang melonjak atau tarif listrik yang tak kunjung turun. Rakyat tidak membutuhkan narasi penghibur, mereka membutuhkan bukti nyata bahwa negara hadir bukan sekadar memberi janji.
Selama dua tahun terakhir, kebijakan efisiensi anggaran digaungkan nyaring. Pemangkasan berbagai pos belanja dilakukan atas nama perbaikan fiskal. Namun di saat yang sama, subsidi menyusut dan jaring pengaman sosial justru mengendur.
Apa makna dari efisiensi jika yang terdampak paling parah adalah masyarakat kelas bawah yang sudah berjibaku dengan pengeluaran harian?










