DALAM beberapa bulan terakhir, istilah “efisiensi anggaran” kembali menjadi kata kunci dalam berbagai pidato dan siaran resmi pemerintah pusat. Tujuannya tak bisa disalahkan: menyeimbangkan fiskal negara di tengah tekanan global. Tapi pertanyaannya kemudian adalah: seberapa besar efek kebijakan itu terasa di rumah-rumah warga?
Tidak butuh waktu lama untuk menemukan jawabannya. Harga-harga kebutuhan pokok tak kunjung turun, sementara beberapa bantuan sosial mengalami penyusutan. Bukan hal yang asing jika kini meja makan keluarga menengah ke bawah tampak lebih sederhana. Sebagian mungkin sudah mengganti protein hewani dengan tempe atau bahkan sekadar garam dan nasi.
Ini bukan sekadar keluhan kelas bawah. Ini adalah kenyataan bahwa setiap keputusan makroekonomi akan berdampak mikro pada isi dapur masyarakat. Ironisnya, dalam banyak kesempatan, diskursus efisiensi sering hanya dibicarakan dari sisi atas: penghematan belanja kementerian, digitalisasi birokrasi, atau efisiensi proyek strategis. Padahal, efek dominonya paling awal dirasakan oleh rakyat kecil.
Maka tak berlebihan jika muncul kegelisahan kolektif: apa arti efisiensi jika rakyat harus mengencangkan ikat pinggang tanpa pilihan? Bukankah anggaran negara pada akhirnya bertujuan untuk menjaga kesejahteraan rakyat, bukan sekadar menjaga stabilitas neraca?
Di sinilah pentingnya transparansi dan keterlibatan publik. Rakyat tidak anti efisiensi, selama mereka tahu apa yang dikorbankan dan apa yang diperoleh. Namun jika efisiensi hanya jadi alasan pemangkasan tanpa solusi konkret bagi warga, maka yang tumbuh bukan kepercayaan, melainkan apatisme.
Lebih dari itu, masyarakat perlu dibekali dengan strategi adaptif. Literasi keuangan, diversifikasi sumber pendapatan, hingga penguatan ekonomi lokal menjadi kunci. Jangan biarkan rakyat hanya jadi objek kebijakan; mereka perlu menjadi aktor dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Karena pada akhirnya, efisiensi bukan hanya tugas pemerintah. Warga pun kini dituntut efisien dalam mengelola pengeluaran, menyusun prioritas, bahkan dalam membagi energi untuk bertahan hidup. Tapi jangan biarkan mereka berjalan sendiri.
Negara kuat lahir dari rakyat yang kenyang, bukan rakyat yang terus-menerus diajak “berhemat” tanpa pegangan.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redakatur Koran Perbatasan










