KENIAKAN harga kebutuhan pokok seperti menjadi siklus tahunan yang tak lagi mengejutkan. Namun tahun ini terasa berbeda. Di tengah gejolak inflasi global, pemerintah justru mengambil langkah efisiensi dengan mengurangi beberapa pos subsidi. Akibatnya, rakyat kecil kembali menjadi korban dari tarik ulur angka di atas kertas.
Pertanyaannya sederhana namun tajam: siapa yang bertahan ketika harga naik dan subsidi justru turun?
Jawaban paling jujur mungkin ada di warung-warung kecil dan pasar tradisional. Di sana, suara masyarakat menggambarkan lebih dari statistik. Penjual mengeluh omzet menurun, pembeli lebih banyak menawar, dan produk kebutuhan harian pun mulai disiasati dengan pembelian eceran. Ini bukan hanya soal angka, ini soal daya tahan hidup.
Pemerintah berdalih efisiensi anggaran adalah langkah strategis untuk menjaga kesehatan fiskal. Namun di saat yang sama, tanpa skema kompensasi yang cukup, rakyat dipaksa menyesuaikan diri dengan kondisi yang semakin sempit. Padahal, subsidi semestinya menjadi pelindung terakhir saat ekonomi menekan.
Dalam kondisi seperti ini, rumah tangga kecil harus melakukan manuver keuangan. Pengeluaran dipangkas, Tabungan jika ada digunakan, dan sebagian mulai berutang. Jika dibiarkan, siklus ini berpotensi menciptakan krisis keuangan rumah tangga yang masif. Terutama jika tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan atau bantuan tepat sasaran.
Maka pertahanan paling efektif bukan hanya dari negara, tetapi juga dari literasi masyarakat itu sendiri. Ini saatnya pendekatan edukatif digencarkan. Mulai dari pemahaman soal belanja prioritas, pengelolaan utang, hingga pentingnya dana darurat. Bertahan di tengah badai bukan soal menunggu bantuan, tapi tentang bagaimana tetap berpijak meski tanah berguncang.
Kebijakan makro tetap diperlukan, tentu. Tapi jangan sampai rakyat dibiarkan berjuang sendiri tanpa arah. Negara harus hadir lebih dari sekadar lewat data. Ketika subsidi turun, seharusnya kehadiran negara justru semakin nyata, baik dalam bentuk program pemberdayaan ekonomi, perlindungan sosial, hingga edukasi publik.
Karena pada akhirnya, yang bertahan bukanlah mereka yang kuat secara fisik, melainkan yang paling adaptif. Dan adaptasi butuh dukungan, bukan hanya tuntutan.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










