PEMERINTAH mengklaim pertumbuhan ekonomi nasional terus menunjukkan tren positif. Angka statistik makroekonomi dilaporkan naik, sektor ekspor tumbuh, dan indeks investasi meningkat. Namun di balik angka-angka yang memukau itu, banyak rakyat kecil justru tidak merasakan dampaknya secara langsung. Seakan-akan, mereka hanya menjadi latar kabur dalam panggung besar ekonomi yang dikendalikan segelintir elite.
Pertumbuhan ekonomi seharusnya membawa kesejahteraan yang merata. Namun yang terjadi, jurang ketimpangan semakin terasa. Di desa-desa, pasar tradisional, dan kawasan perbatasan, masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Harga pangan melonjak, biaya pendidikan meningkat, dan akses ke layanan kesehatan berkualitas tetap menjadi tantangan besar. Sementara itu, keuntungan besar justru dinikmati oleh korporasi besar dan kalangan menengah atas yang punya akses terhadap modal dan teknologi.
Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi ini?
Apakah benar pertumbuhan itu inklusif? Atau hanya menjadi angka indah dalam laporan tahunan tanpa makna nyata bagi rakyat di bawah?
Banyak warga perbatasan, petani kecil, nelayan, dan pelaku UMKM masih terjebak dalam lingkaran ekonomi informal. Mereka tidak mendapat akses perbankan, modal usaha, atau jaringan distribusi yang adil. Dalam situasi seperti ini, wajar jika mereka tidak merasa menjadi bagian dari kemajuan ekonomi nasional. Alih-alih berkembang, mereka harus terus bertahan hidup.
Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program bantuan sosial dan insentif ekonomi. Tapi itu semua bersifat jangka pendek. Tanpa pembenahan sistemik terhadap distribusi sumber daya, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan fiskal yang pro-rakyat, bantuan tersebut hanya akan menjadi penenang sementara. Masyarakat tidak membutuhkan belas kasihan, mereka membutuhkan kesempatan yang setara.
Media memiliki peran penting untuk terus mengawal narasi ini. Tidak cukup hanya memberitakan pertumbuhan ekonomi sebagai pencapaian pemerintah, tapi juga harus menggali bagaimana pertumbuhan itu dialami oleh rakyat kecil. Jangan sampai media menjadi corong statistik tanpa menyuarakan suara dari pinggiran.
Pertumbuhan ekonomi harusnya menyentuh semua lapisan, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kekuasaan. Ketika rakyat tidak terlihat dalam cerita sukses ekonomi nasional, maka itu bukan pertumbuhan itu hanya pembesaran angka untuk mempercantik laporan.
Saatnya kita mengubah cara pandang: bukan berapa besar ekonomi tumbuh, tapi seberapa banyak rakyat yang ikut tumbuh bersamanya. Sebab kemajuan sejati bukan diukur dari naiknya angka GDP, tapi dari kenyataan isi dompet dan kualitas hidup warga di pelosok negeri.
Oleh: Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










