Janji ekonomi merata akan terasa kosong jika tidak dibarengi dengan kebijakan yang berpihak secara konkret. Rakyat tidak butuh janji.
Mereka butuh harga pangan yang stabil, subsidi yang tepat sasaran, dan peluang ekonomi yang nyata bukan sekadar pelatihan formalitas atau bantuan sesaat menjelang pemilu.
Satu hal yang perlu diingat oleh pengambil kebijakan: beban ekonomi tidak pernah terbagi secara adil dalam praktiknya. Ketika terjadi krisis, rakyat miskin yang pertama kali terdampak. Ketika harga BBM naik, ongkos hidup mereka langsung melonjak. Namun ketika ada pertumbuhan ekonomi, tidak selalu mereka ikut menikmati hasilnya.
Ironi ini hanya bisa diperbaiki jika pembangunan dilandasi oleh keadilan struktural, bukan sekadar angka makroekonomi. Sudah saatnya kebijakan ekonomi disusun dari bawah, dengan mendengarkan suara masyarakat yang selama ini hanya jadi angka dalam statistik kemiskinan.
Ekonomi merata bukan sekadar jargon. Ia adalah perjuangan agar meja makan rakyat tidak kosong, agar anak-anak bisa sekolah tanpa harus menunggak iuran, dan agar kepala keluarga tidak harus bekerja lebih dari 12 jam hanya untuk menyambung hidup. Beban itu bukan milik rakyat saja. Negara harus ikut memikulnya.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










